Cass&Ems Series : Persahabatan Kami Memang Tidak Pernah Aman

taken from blogspot.com

Ponselku menderingkan bunyi-bunyian aneh dari balik bantalku. Aku mencarinya malas-malasan, dan menemukan nama seseorang berkedip-kedip di layar : MONKEY.

“Hei, Zombie,” sapanya, bahkan sebelum aku sempat mengucapkan halo.

Aku berdecak dan dia tertawa.

“Masih bersuhu matahari?” tanyanya, nadanya terdengar mengejek, tapi aku tahu dia benar-benar kepengin tahu.

Well, kurasa sudah mencapai permukaan,” jawabku.

“Ha, baguslah. Setidaknya kau tidak perlu minum banyak pil kayak orang teler lagi,” sahutnya, masih berusaha bergurau.

Aku memutar bola mataku. Sadar dia tidak bisa melihatku, aku lalu berujar, ” Shut up, Dude. Aku bukannya teler. Ini namanya sakit. Pernah dengar kata itu?”

Si Monkey tertawa terbahak-bahak di ujung sana. “Rileks, Ems. Kenapa kau jadi mirip nenek-nenek begini, eh?”

“Haha. Karena rupanya kau lupa bagaimana seharusnya bicara dengan orang yang sedang sakit, ” sambarku sarkastik.

“Oke, oke tenang. Sekarang bisakah kau ke bawah dan bukakan pintumu untukku?” pintanya, sekarang suaranya terdengar dramatis.

Mau tidak mau aku terkejut juga. “Kau ke sini?” Dan hei, apakah baru saja suaraku naik satu oktaf lebih tinggi?

“Shut up, Zombie. Aku kedinginan, nih. Bisa cepat sedikit tidak?”

Aku lalu buru-buru melompat dari ranjangku. Ouch, Sial. Kepalaku jadi agak berputar-putar.

“Hei, Ems? Kau baik-baik saja, kan?” Ups. Rupanya aku kelepasan mendesiskan “ouch, sial” tadi.

“Aku, eh, baik-baik saja. Tetap di tempatmu, Cass. Aku segera datang,” sahutku cepat-cepat. Setengah berlari aku menuju tangga, lalu melompatinya dua-dua. Hanya butuh waktu kurang dari dua menit untuk sampai di pintu depan.

“Aku bisa mendengar detak jantungmu, Ems.” tawa si Monkey sekarang terdengar lebih keras.

“Dasar bodoh,” ujarku, kemudian menyentakkan engsel pintu.

Dan di sanalah dia, berdiri menjulang setinggi 1,82 kaki dengan jaket warna coklat pastel dan jeans belel, menyapaku dengan seringaian konyol di wajahnya, “Hei, Zombie.”

Begitulah. Lalu senyumku pun melebar, pipiku memerah, dan jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Aku nyaris berteriak ketika berkata, “Hei, Cass. Monkey,” sambil berjinjit dan mengacak rambutnya.

Oh, ya benar. Dia adalah Joshua Cassidy, sahabat terbaik sekaligus cinta diam-diamku sejak awal tahun ajaran kelas 10ku di Reagan Senior High School. Sudahkah aku menyebutkan ini tadi? Well, aku rasa sejak awal persahabatan ini memang tidak pernah aman. Kau tahu maksudku, kan?

 

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s