Diam di Tempat

http://www.flickriver.com

Kadang-kadang, suatu hal bisa begitu saja memaknai keberadaannya meski kita setengah mati tak ingin mengakuinya. Kenapa? Apa karena takut? Atau malu? Atau bingung? Atau hanya tak ingin saja—tanpa ada alasannya? Entah. Mungkin justru jawabannya ada di dalam keempatnya.

Di dalam pikir, dia menjelma. Awalnya pelan—diam-diam. Dan sejauh itu, segala hanya tampak serupa semak-semak—samasekali tak mengisyaratkan bahaya. Di waktu-waktu dulu, dia bisa terlupa dalam nyata dan terhapus dalam maya. Semuanya masih gampang saja, tak ada yang bisa dikhawatirkan dan tak ada yang perlu disembunyikan. Toh, semuanya masih mampu dikendalikan.

Lalu ketika mencapai tengah, mulai ada bagian-bagian yang dengan curangnya menyisip dan menyelip-nyelip, terlalu gesit untuk direnggut dan dilemparkan kembali ke tempatnya. Tapi tetap saja, tak ada yang mau repot-repot mengurusnya karena ada hal-hal lain yang jauh lebih penting untuk diselesaikan. Dan lagi, siapa yang mau sibuk dengan sesuatu yang hanya menawarkan ketidakpastian dan meniupkan keambiguan. Yah, setiap orang yang masih punya sisi manusiawi setidaknya akan bilang tidak—untuk keduakalinya.

Dan pada akhirnya, dengan tiba-tiba dan tanpa aba-aba, dia menjebol pertahananmu begitu saja. Dengan sekali hentakan, dalam satu percobaan. Hingga yang bisa kau lakukan hanyalah berkubang, lagi-lagi, di dalamnya di sepanjang jalan menuju pulang. Saat ini, di dalam kepalamu hanya ada hal itu—berputar seperti gasing dan merusak bangunan logika yang sudah dengan susah payah kau bangun hati-hati. Sial, kan?

Well, kalau sudah begini, apa lagi yang bisa kau lakukan? Mengumpat? Menangis? Mengubur dirimu sendiri?

Lupakan saja semua ide itu, karena toh di dalam kepalamu masih akan ada hal itu—mengendap di dasar dan tak akan mau hilang. Maksudku, memangnya kau yakin mau mengebor kepalamu hanya untuk ini?

Dan satu hal lagi, apa kau tahu apa yang lucu dari semua ini?

: karena dengan begini, sekali lagi aku harus mengakui bahwa dia benar. Tentang bagaimana aku tak pernah berpindah. Dan bahwa selama ini aku hanya diam di tempat.

 

DING!

 

Iklan
Diam di Tempat

2 pemikiran pada “Diam di Tempat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s