Dia.

justeba.tumblr.com

Sebenar-benarnya, aku tidak pernah memahami bagaimana cara kerjanya. Bagaimana dia dengan cepat berubah, secepat detik berganti, meninggalkan apa saja yang tak mampu mengejarnya. Bagaimana dia membolak-balikkan dirinya sendiri sesukanya, setiap berbeda cuaca dan suasana. Bagaimana dia senang sekali memelintir keadaan dan menjadikannya suatu hal yang memusingkan, hanya karena dia tak menyukai tempatnya berada. Dia bisa saja bersembunyi di sudut ketika bertemu orang yang dibencinya sepenuh hati—atau justru yang dicintainya setengah mati. Dan juga, siapa yang mengira dia bisa bermetamorfosa jadi sesuatu yang sangat merepotkan setiap kali hal-hal menjengkelkan datang kepadanya.

Apa yang bisa membuatnya begitu, aku juga tidak tahu. Ah, bukan. Belum tahu, lebih tepatnya. Kadang-kadang, pergantian antara pagi dan petang pun bisa mengubah sudut pandang dan pola pikir seseorang, hingga yang tadinya dikira sudah dimengerti rupa-rupanya bisa saja menghilang tak berjejak ketika penghujung hari tiba. Dan mungkin pemahaman tentang hal ini juga tak berbeda. Aku mungkin pernah berpikir bahwa aku tahu, tapi nyatanya aku malah tersesat lebih jauh dalam perjalananku mencari jawaban.

Ekspresi—adalah satu-satunya hal yang bisa dijelaskan dari fenomenanya. Terkadang tersenyum-senyum saja, seolah hidupnya sempurna—tak punya masalah, tak perlu pula sengaja mencari-cari hanya untuk sekedar menyibukkan diri. Terkadang cemberut sepanjang hari—muka tertekuk tak berbentuk, seolah seluruh beban di dunia ini sudah dilimpahkan padanya begitu saja tanpa aba-aba. Terkadang, menangis sesenggukkan, tersedu sedan, sampai-sampai jatah tisu dihabiskan satu hari—padahal harusnya untuk persediaan satu bulan. Terkadang tertawa tak ada habisnya, kepada semua hal—bahkan kepada lelucon yang semua orang tahu bahwa itu tidak ada lucu-lucunya. Ah, tentu saja, semua orang tahu, kecuali dia. Terkadang, bisa saja diam tanpa kata. Seolah memang sedang kehilangan minat untuk bicara, hingga bisanya cuma memasang wajah datar-datar saja. Membosankan—kalau boleh dipersingkat penjelasannya. Dan segala ekspresi itu bisa berganti-ganti dalam sehari secepat kedipan mata. Membingungkan, benar. Oke, bahkan bingung pun sebenarnya juga termasuk ke dalam wilayah kekuasaannya.

Dia, yang sukanya bermain-bermain tak ada lelahnya itu, kadang-kadang memang menyebalkan. Apalagi kalau sedang begini tiba-tiba—tersenyum, lalu cemberut, lalu menangis, lalu tertawa-tawa, lalu dalam sekejap menjadi diam seribu bahasa. Aih, makin bingung bukan jadinya? Dia, yang senangnya berputar-putar hingga memusingkan kepala, seringnya memang bikin kehabisan kata-kata. Dia, yang bernama perasaan itu, jadi sampai kapan mau menyembunyikan definisinya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s