[#15HariNgeblogFF2] Menunggu Lampu Hijau

“Kenapa selalu ngajak ketemuan di sini, sih?”sambutku ketika akhirnya dia tiba di hadapanku.

Dia mengangkat bahu, kemudian mengalihkan pandangan ke arah bangunan Jam Gadang yang berdiri kokoh di balik punggungku. “Karena,” jawabnya pendek.

Aku menyeringai. “Tidak ada alasan?”

“Tidak ada alasan.”

“Tapi, bukannya semua hal di dunia ini pasti ada karena sebuah alasan?” tukasku seraya menariknya untuk duduk di sampingku.

“Aku tidak sependapat,” dia berujar, “Kalau setiap hal punya alasan, pasti kita akan jadi repot karena harus memikirkan penjelasannya. Lebih baik percaya kalau setiap hal ada dan terjadi begitu saja, kan?”

“Cih. Bilang saja kamu yang malas menjelaskan. Nggak usah sok filosofis, deh,” Aku mencibir, meski dalam hati mengakui bahwa kebenaran dalam kata-katanya telah menohokku telak-telak. Mengejeknya sok filosofis, padahal aku sendiri sudah jatuh cinta padanya setengah mati tanpa tahu apa sebabnya. Apa namanya itu kalau bukan menipu diri sendiri?

“Jamnya udah di angka tujuh, tuh. Pulang, yuk,” ajaknya setelah hampir satu jam kemudian, yang otomatis membuatku mengerutkan kening lagi.

“Kenapa harus pulang setiap pukul tujuh, sih?” tanyaku setengah menuntut, seolah sedang menyalahkan jarum-jarum Jam Gadang yang jelas-jelas tak punya dosa apa-apa.

Dia tertawa, kemudian mengacak pelan rambutku. “Cerewet, ah. Yuk, pulang.”

Aku memberengut, tapi toh mengekornya juga ketika dia sudah mulai beranjak menjauh dari bangunan yang selama dua tahun ini menjadi tempat bertemunya aku dan dia setiap Minggu malam.

Ketika sampai di tepi jalan besar, lampu lalu lintas untuk pejalan kaki yang menyala merah memaksa kami berdua untuk berhenti dan menunggu sebentar. Aku mengangkat wajah untuk memandangnya yang memilih untuk menatapi apa saja kecuali aku. Aku menghela nafas. Beginikah rasanya mencinta tapi tak punya cukup keberanian untuk mengatakan? Beginikah rasanya berharap tapi tak tahu sampai kapankah harus menunggu? Kali ini—apa sebaiknya dicukupkan saja?

“Hei.” Di menegurku tiba-tiba, membuatku tergeragap dan bingung harus bereaksi bagaimana.

Aku mengerjapkan mata, dan jantungku rasanya sudah melompat keluar dari tempatna ketika sedetik setelahnya dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat. “Lampunya udah ijo, tuh,” katanya seraya menunjuk lampu lalu lintas yang memang telah berubah warna menjadi hijau. “Walaupun setiap hal nggak punya alasan, tapi setiap hal punya waktunya masing-masing. Nggak usah terlalu banyak mikir. Kalau mau menunggu sedikit lebih lama, pasti waktu buat kita juga akan tiba. Karena…setiap lampu merah pada akhirnya akan berubah jadi ijo, kan?” lanjutnya, kemudian tersenyum sangat lebar kepadaku.

Aku cuma bisa ternganga. Kita? Jadi…selama ini aku tidak pernah salah jatuh cinta?

 

DING!

Iklan
[#15HariNgeblogFF2] Menunggu Lampu Hijau

4 pemikiran pada “[#15HariNgeblogFF2] Menunggu Lampu Hijau

  1. Teguh Puja berkata:

    Kebanyakan dari tema yang diambil, semua berfokus di “lampu hijau” yang itu ya. πŸ˜€

    Well done, keren. πŸ˜‰

  2. wah ikutan 15 hari ngeblog FF ini ya?? udah lama pengen ikutan tp timingnya selalu gak tepat. πŸ˜›

    dih, aku liat piku-nya lgsg ‘ngeh’ dan spontan mikir, ‘lho jam gadang ya?’. Aku sempat bbrp kali liburan kesana sih. Hehehe…
    btw, aku belum ada baca tulisan bbrp author lain dgn tema yg sama, tp aku suka sih gunain tema ini utk suatu analogi yg lumayan jleb. keren.

    1. haha aku juga cuman ikut sekali kok buat part 2 ini. abisan bentrok UAS. padahal pas jaman part 1 dulu rajin 😦 wah, seru ya udah pernah ke sana πŸ˜€ hehehe banyak yg bagus kok punya author2 lain πŸ™‚ anw, makasih ya πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s