Kita, Berada

Kita, berada dalam kediaman yang bersaling-silang.

Janggal, tak dimaksudkan untuk diselesaikan.

Rumit, tak dikatakan untuk dijelaskan.

Kusut, tak diungkapkan untuk diuraikan.

Seperti bernafas dalam kegelapan—menyesakkan.

Seperti menjumpai penghujung hari yang datang tak bilang-bilang.

Seperti berdiri sampai kelelahan, seperti berlari sampai kepayahan.

Kita, berada dalam buku cerita yang tak pernah habis dibaca.

Prolog bisa berada di mana saja,

tetapi tak pernah muncul epilog pada akhirnya.

Kita tidak memiliki hak untuk berhenti bermain sandiwara.

Kita tidak memiliki daya untuk berhenti berpura-pura.

Kita, berada di persimpangan tanpa penunjuk jalan.

Terjebak dalam asumsi-asumsi dengan banyak pilihan.

Tersesat dalam hipotesis-hipotesis tanpa penyelesaian.

Bertahan, meski cepat atau lambat akan berakhir sendirian.

Pada penghujungnya, kita hanya tahu tentang sebuah kepastian :

bahwa ke manapun kita berjalan,

kita tak akan pernah sampai kepada jalan pulang.

 

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s