Without Words [6]

 

Title : Without Words [6]

Author : Yuridista

Genre : Friendship, slightly romance and yaoi

Pairing : YunJae

Rating : AA-PG

BGM : I Wonder If You Hurt Like Me-2AM

p.s : i’m sorry for the late update. still, i wish you enjoy this piece and you can read the previous part here.

***

“Aku tidak tahu kau bisa jadi sefrontal itu, Hyung,” Changmin berkomentar ketika kami hanya tinggal berdua di ruang ganti studio KBS.

Aku tersenyum setengah hati padanya. “Frontal apanya? Aku bahkan tidak berani menyebut namanya,” tukasku sarkastik.

Changmin terkekeh. “Untuk ukuranmu, aku rasa itu sudah bisa disebut jauh melebihi ekspektasi, Hyung. Jadi, yah, kali ini kuanggap kau cukup pantas mendapatkan pujian dariku. Bukan begitu?”

“Bocah,” aku berkata, menoleh ke samping untuk memandang magnaeku, “apakah kau sebegitu senangnya melihatku meminta maaf pada Jae di depan seluruh rakyat Korea, eh?”

“Tidak juga,” Changmin menjawab acuh tak acuh. “Hanya saja…aku sedang memikirkan tentang kemungkinan Jae-hyung juga menontonmu tadi,” lanjutnya, lalu entah kenapa dia mulai terkikik sendiri.

Aku mengangkat alis, merasa aneh dengan tingkahnya. “Dan kaupikir itu lucu?”

Changmin mengangguk-angguk bersemangat. “Kalau dia belum berubah, aku berani taruhan dalam 24 jam ke depan dia pasti akan meneleponmu dan mengajakmu bertemu,” katanya, ekspresinya mulai berubah sok sekarang.

Aku memutar mata. “Dia tidak mungkin melakukannya. Situasi kita sudah berbeda, Changmin-ah,” tukasku, meski diam-diam menyimpan harapan bahwa entah bagaimana kata-kata Changmin barusan akan menjadi kenyataan. Well, yah, bagaimanapun juga, setiap orang boleh sedikit bermimpi, kan?

“Yah, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi,” Changmin menyahut dengan nada kelewat percaya dirinya yang biasa sebelum bangkit dari duduknya. “Tapi kalau aku benar, kau harus mau memasak untukku selama sebulan penuh, ya, Hyung?” lanjutnya, lalu menarikku bangun dari sofa.

“Boleh saja, bocah sombong,” aku menjawab santai, “asal kau tahan saja dengan rasa masakanku yang kacau balau itu.”

Changmin memajukan bibir bawahnya. “Pokoknya kau harus belajar masak, Hyung! Aku tidak mau tahu!” omelnya, memberengut seperti anak-anak.

Aku tertawa, kemudian merangkulkan sebelah tanganku ke bahunya dan berujar,  “Jangan cerewet, bocah. Ayo kita pulang.”

***

Nyatanya, tidak pernah ada pesan singkat, telepon, atau tanda-tanda lain yang bisa diasumsikan dengan usaha Jaejoong untuk menghubungiku bahkan sampai hari ini, setelah lewat tiga hari dari waktu interview di KBS waktu itu. Untuk fakta ini, aku tidak tahu harus merasa sedih, senang, atau justru lega—karena tidak harus mengalami reaksi di luar dugaan dari Jae. Yeah, benar, reaksi orang itu memang seringnya tidak bisa diduga samasekali. Tapi yang jelas, aku tetap merasa ada yang janggal dengan perasaanku. Mungkin aku memang mengharapkan reaksinya, tapi mungkin aku hanya terlalu terpengaruh pada kata-kata Changmin tempo hari—tentang bahwa kalau Jae belum berubah, dia pasti akan menghubungiku dalam 24 jam. Well, kalau begini kenyataannya, apakah itu berarti Jaejoong memang sudah…berubah?

Memikirkan hal itu, tiba-tiba saja aku merasa ada yang menekan jantungku. Ini tidak bagus. Aku harusnya sudah terbiasa dengan ketiadaannya, dengan absennya keberadaannya di sampingku. Aku bahkan sudah berhasil tidak berbalik dan berusaha membuatnya berhenti menangis ketika kami bertemu di kedai kopi favorit kami tempo hari. Dan soal permintaan maafku di televisi waktu itu, aku hanya berpikir bahwa aku melakukannya sebagai tindakan standar orang yang bersalah—karena tidak seharusnya aku berkata sekasar itu padanya. Bagaimanapun juga, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk sebisa mungkin tidak mengungkit-ungkit masa lalu, terlebih di bagian yang menyakitkan. Jadi, perasaan menekan ini…apa lagi artinya?

***

Yoochun memandang Jaejoong yang tengah sibuk mengenakan sepatunya dengan tatapan penasaran. “Mau kemana, Hyung?” tanyanya ingin tahu.

Jae mengangkat wajahnya secara otomatis dan menyahut, “Menemui Yunho.”

Mata Yoochun melebar terkejut. “Untuk?”

“Tidak ada yang khusus. Hanya kepengin saja,” jawab Jae ringan, kemudian berdiri dan meraih jaketnya dari gantungan di balik pintu apartemennya.

“Jangan bilang ini karena kau sedang berada dalam suasana yang kelewat melankolis gara-gara permintaan maaf Yunho-hyung di televisi tempo hari,” Yoochun berkata menyelidik. Dia menyilangkan tangan di depan dada sementara sepasang matanya menyipit curiga.

“Aku tidak melankolis!” Jaejoong menukas cepat-cepat, ekspresinya defensif. “Memangnya apa salahnya, sih, kalau aku ingin bertemu dengannya sebentar saja?”

Yoochun memutar matanya. “Tidak ada yang salah kalau kita berlima masih tergabung dalam satu grup yang disebut DBSK dan kau juga Yunho-hyung masih jadi YunJae couple yang digilai jutaan gadis di Korea,” katanya dengan nada bosan.

Mendadak, raut wajah Jaejoong langsung berubah dari defensif menjadi terluka gara-gara ucapan Yoochun yang tepat sasaran. “Sepertinya aku memang sudah gila,” gumamnya, lalu merosot lagi ke sofa yang tadi didudukinya.

“Kau tidak gila, Hyung. Tergila-gila pada Yunho-hyung mungkin iya, tapi kau tidak gila—ah, belum, maksudku,” sahut Yoochun, kemudian beranjak menghampiri lelaki yang lebih tua darinya itu untuk memberi tepukan simpati di bahunya.

Jaejoong mendongak, memandang Yoochun dengan matanya yang kini sudah berkaca-kaca. “Aku sudah setengah mati menahan diriku untuk tidak langsung menghubunginya tiga hari yang lalu, Yoochun-ah. Oh, dia pasti berpikir kalau aku sudah melupakannya. Dia pasti sudah benar-benar menganggapku bukan Jaejoong yang dulu lagi. Dia pasti membenciku,” rajuknya sedih.

Yoochun menghela nafas, kemudian berujar, “Yunho-hyung tidak pernah dan tidak akan bisa membencimu, Hyung. Kau harusnya jadi orang yang paling mengenalnya, kan?”

Jaejoong menggeleng, tampak tak yakin. “Setiap orang bisa berubah, Yoochun-ah.”

“Buat apa dia minta maaf padamu lewat televisi begitu kalau dia memang sudah berubah? Kau tahu kalau Yunho-hyung bukan tipe orang yang suka cari sensasi dengan cara murahan,” tukas Yoochun tegas.

“Aku—aku tidak tahu, Yoochun-ah,” kata Jaejoong pada akhirnya.

Yoochun menyunggingkan senyum tipis, tampak lega karena akhirnya Jaejoong mau mengakui kebenaran kata-katanya, meski belum sepenuhnya. “Oke, begini saja. Kau boleh menemuinya hari ini, tapi kau harus super hati-hati terhadap para wartawan dan juga orang-orang SM. Kita bisa langsung tamat kalau mereka sampai tahu kau pergi menemui Yunho-hyung.”

“Benarkah aku boleh pergi?” Jaejoong langsung berbinar lagi dalam sekejap.

Yoochun mengangguk. “Kau biasanya jadi sinting kalau sudah menyangkut soal Yunho-hyung, dan aku sedang tidak ingin mengambil resiko atas kesintinganmu sekarang, jadi yah…kau boleh pergi, Hyung.”

“Sekarang?” Jae bertanya lagi untuk memastikan.

Sekali lagi, Yoochun mengangguk. “Ah, dan kau harus memikirkan soal Changmin juga. Dia mungkin tidak akan terlalu senang melihatmu datang,” kata Yoochun mengingatkan.

Jae balas mengangguk, lalu buru-buru berdiri dan meraih kunci mobilnya dari atas meja. “Aku pergi sekarang.”

“Hei, jangan lupa telepon Junsu! Aku tidak mau dia membunuhku karena tidak memberitahunya soal ini!” Yoochun berteriak tepat sebelum Jae menghilang di balik pintu.

“Oke!” balas Jae, kemudian menutup dengan buru-buru pintu di belakangnya.

 

DING!

Iklan
Without Words [6]

4 pemikiran pada “Without Words [6]

    1. hehehe part ketemuannya mampir ke tempat sepupu aku yaa unnie :pp
      bentar2 passwordnya aku bukain aja deh khusus buat unnie. abis nggak banget itu passwordnya. ntar malah aku diketawain lagi sama unnie >//<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s