The Fallen Princes Series: Captured By You

Title : Captured By You

Author : Yuridista

Genre : AU, romance, fantasy

Pairing : Park Chanyeol as Yeol and Kim Hana (OC)

Rating : G

BGM : Kilgu Bonggu-Shine (Rooftop Prince OST)

***

Yeol seperti berada dalam dunianya sendiri ketika sedang bernyanyi sambil memainkan gitarnya seperti saat ini. Sementara dia duduk di atas kursi kayu tanpa sandaran di tengah panggung kecil kafe ini, lampu-lampu yang cahayanya temaram berkedip-kedip di sekitarnya, memberikan efek romantis yang membuat setiap pasang mata milik pengunjung kafe tak lepas-lepas dari sosok lelaki itu.

Yeol menyanyikan lagunya dengan mata terpejam dan bibir yang membentuk senyum tipis, hingga orang-orang yang sedang menontonnya mungkin akan mengira bahwa dia benar-benar sedang jatuh cinta pada seorang gadis—seperti makna dari lirik lagu yang tengah dinyanyikannya. Menjelang akhir lagu, Yeol tersenyum lebih lebar dan ketika akhirnya dia menyelesaikan lagunya dengan diiringi tepuk tangan penonton di sekelilingnya, dia akhirnya membuka mata…

…dan menemukan gadis itu di sana, tersenyum kepadanya dengan kamera di tangannya—sebelum kemudian berbalik dan menghilang begitu saja dari pandangannya.

Hanya butuh dua detik bagi Yeol untuk berpikir sebelum memutuskan untuk meletakkan gitarnya dan berlari menuruni panggung untuk mengejar gadis itu. Dia tak begitu peduli pada keriuhan pengunjung kafe yang ribut berbisik-bisik dan berteriak di kanan-kirinya, karena yang ada di kepalanya sekarang hanyalah gadis berkamera itu. Katakanlah ini berlebihan, tetapi entah bagaimana gadis itu telah merebut seluruh perhatian Yeol hanya dalam sekali pandang. Dan tepat sebelum mencapai pintu keluar, ide itu tiba-tiba saja melintas di dalam kepalanya—sebuah ide yang, jika dia belum terlambat, mungkin bisa membuatnya segera menemukan gadis itu.

Sambil tetap berlari, Yeol mengangkat tangan kirinya dan mengayunkan telunjuknya ke bawah, dan senyum di wajahnya seketika itu juga mengembang ketika didengarnya suara hujan turun di luar bangunan kafe.

Harusnya dia masih di luar, Yeol berpikir ketika dia sudah berada di beranda kafe. Nafasnya terengah-engah, tapi toh dia masih bisa tersenyum lebar ketika menoleh ke kanan dan mendapati gadis itu berdiri di sana, sedang memandangi langit yang gelap dengan tampang cemberut dan tidak sabar.

Yeol buru-buru menegakkan tubuhnya dan beranjak mendekati gadis itu. Mengabaikan perasaan gugup yang tiba-tiba menguasainya, lelaki itu berkata, “Permisi. Apa kau tidak bawa payung?”

Si gadis menoleh cepat dan matanya melebar terkejut ketika melihat Yeol yang kini tengah tersenyum canggung padanya. “Eh?” balasnya, terlalu kaget untuk bisa mengatakan hal lainnya.

“Err—halo?” Yeol berujar tak yakin.

Gadis itu berkedip dua kali. “Kau, kan—” dia berkata, menunjuk Yeol ragu-ragu. “Penyanyi yang di dalam tadi, kan?”

Yeol mengangkat bahunya salah tingkah. “Yeah, kau benar. Aku penyanyi yang di dalam tadi. Dan ngomong-ngomong, namaku Yeol,” jawabnya, agak lebih cepat dari yang seharunya. “Boleh aku tahu namamu?” tambahnya, kemudian melempar senyum termanisnya untuk gadis itu.

Mulut gadis itu membulat. “Can…tik,” gumamnya refleks.

Yeol mengerutkan keningnya. “Maaf?”

“Ah, tidak,” gadis itu buru-buru menyahut. “Maksudku namaku Hana. Kim Hana.”

Yeol mengangguk-angguk. “Kim Hana-ssi, ya?” kali ini ganti Yeol yang menggumam. “Jadi, Kim Hana-ssi, apa kau tidak membawa payungmu?” tanyanya kemudian, berpaling untuk memandang Hana lagi.

Hana memajukan bibir bawahnya, tampak sedikit kesal. “Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak ingat kalau ramalan cuaca mengatakan malam ini akan turun hujan deras,” gerutunya.

Yeol meringis, mendadak merasa bersalah. “Kadang-kadang ada sesuatu yang terjadi di luar dugaan kita, kan?” katanya, mencoba menghibur gadis di sampingnya.

Hana mendesah frustasi. “Kau benar. Tapi tetap saja ini menjengkelkan. Aku harus tiba di kantorku sebelum pukul sembilan malam untuk menyerahkan foto-fotoku hari ini. Kalau begini keadaannya, bagaimana aku bisa melakukannya?”

“Hei, kau bilang kau harus menyerahkan fotomu ke kantor? Kau fotografer, ya?” tanya Yeol tertarik. Matanya melirik ke arah kamera yang dikalungkan di leher Hana.

Hana mengangguk sekali. “Bisa dibilang begitu, Yeol-ssi. Tapi aku masih freelancer, sih. Kau tahu, kan, semacam fotografer tidak tetap.”

“Hmmm. Menarik,” komentar Yeol.

Hana memutar matanya. “Jujur saja, menurutku pekerjaan ini biasa saja. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya disebut menarik adalah karena kau mendapat bayaran langsung setelah kau menyerahkan hasil fotomu,” kata Hana.

“Bukankah kau tadi memotretku waktu aku menyanyi?”  Yeol bertanya, tiba-tiba saja sudah mengganti arah pembicaraan.

Hana mengernyit bingung. “Iya. Lalu?”

Yeol nyengir, kemudian berujar jahil, “Kalau kau bilang tidak ada yang menarik dari pekerjaanmu kecuali bayarannya, itu sama aja dengan mengatakan bahwa aku tidak menarik, dong?”

Hana terkesiap, tapi dengan cepat dapat mengendalikan ekspresi wajahnya. “Err—maksudku bukan begitu, Yeol-ssi,” gumamnya tidak enak.

Tawa Yeol berkumandang. “Kau lucu,” katanya seraya mengusap matanya yang berair.

Hana memberengut. “Kau menyebalkan,” tukasnya dengan wajah tertekuk.

“Hei. Aku, kan, hanya bercanda,” Yeol buru-buru berujar, takut kalau sampai gadis di sampingnya ini benar-benar marah. “Jadi, apa aku bisa membantumu?” tawarnya kemudian.

“Kecuali kau punya payung yang bisa aku pinjam sampai besok pagi, kurasa kau tidak bisa membantuku,” jawab Hana seraya mendongak memandang langit dengan tampang sama muramnya seperti sebelumnya.

Yeol mendesah, kemudian bertanya lagi, “Apa kau benar-benar harus pergi sekarang?”

“Yep,” angguk Hana cepat. “Aku benar-benar harus menyerahkan hasil fotoku hari ini.”

“Dan itu berarti juga termasuk fotoku tadi?”

Hana mengangguk lagi. “Termasuk fotomu tadi.”

“Kalau begitu, bisakah kau memasukkannya ke majalah terkenal—fotoku tadi?” Yeol mengerling jenaka.

Hana berdecak tak sabar. “Apakah dengan begitu kau akan meminjamiku payung?”

Yeol menyeringai, ekspresinya tak bisa ditebak. “Kalau mau, aku bahkan bisa menghentikan hujan ini untukmu,” katanya dalam bisikan lambat.

Mata Hana melebar tak percaya. “Jangan bercanda denganku, Yeol-ssi,” tukasnya memperingatkan.

Yeol hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Kalau tidak percaya ya sudah.”

“Ayolah, Yeol-ssi, aku serius,” Hana mulai merajuk sambil menarik-narik lengan Yeol. “Astaga, ini bahkan sudah hampir jam delapan,” rutuknya ketika mengecek arloji anti air yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

Yeol menunduk untuk memandang wajah gadis yang kini telah berada dekat sekali dengan wajahnya. “Jadi, apa kau mau berjanji akan memasukkan fotoku ke majalah terkenal?” ulangnya sekali lagi.

Hana berkedip, kemudian dengan setengah hati menganggukkan kepalanya. “Terserah apa katamulah. Yang penting pinjami aku payung sekarang juga.”

“Sudah kubilang tidak perlu pakai payung segala,” tukasnya, lalu diam-diam mengayunkan jari telunjuk tangan kirinya ke arah atas. Dan secepat turunnya setengah jam yang lalu, hujan di depan matanya dan Hana kini telah berubah menjadi titik-titik kecil gerimis sebelum akhirnya mereda.

Kali ini, sepasang bola mata Hana tampak akan benar-benar keluar dari rongganya. “Astaga, bagaimana bisa—”

“Sesuatu yang seperti ini, cuma aku yang bisa melakukannya,” kata Yeol, tampak berpuas diri.

Hana tertegun menatap wajah Yeol yang sedang tersenyum sombong padanya. Gadis itu masih ternganga, kemudian secara naluriah buru-buru menjauh dari Yeol dengan wajah yang kini mulai dibayangi rasa takut. “K-k-kau… Apa kau—jelmaan se…tan?” bisiknya ngeri.

Melihat ekspresi ketakutan di wajah Hana membuat senyum Yeol menghilang dan digantikan dengan raut khawatir yang kentara. “Hana-ssi, apa kau baik-baik saja? Yang tadi itu cuma bercanda, Demi Tuhan. Kebetulan saja hujannya berhenti waktu aku bilang begitu padamu. Aku cuma iseng. Sungguh,” jelasnya, berusaha terdengar sungguh-sungguh.

Hana menelan ludah susah payah. “Oke. Jadi kau cuma bercanda dan tadi itu cuma kebetulan. Itu artinya kau bukannya bisa mengendalikan hujan atau semacamnya. Itu artinya kau benar-benar manusia dan bukan setan. Benar begitu?”

Yeol cepat-cepat menganggukkan kepalanya. “Tepat sekali.”

“Syukurlah,” desah Hana, tampak luar biasa lega.

Yeol meringis, kemudian beringsut mendekati Hana. “Tampangmu mengerikan tadi, Hana-ssi,” godanya iseng.

Hana melotot jengkel. “Kau penyebabnya!” omelnya sambil menunjuk-nunjuk wajah Yeol.

Yeol tergelak.

“Aku harus pergi sekarang,” kata Hana kemudian, sepertinya baru benar-benar menyadari bahwa hujan sudah tidak lagi turun.

Yeol mengerjap bingung. “Eh? Sekarang?”

“Iya. Jadi, sampai jumpa, Yeol-ssi,” ujar Hana seraya melangkah menuruni tangga batu sambil melambai pada Yeol sebelum berpaling menghadap jalanan.

“Hei, tunggu!” Yeol berteriak, hingga membuat Hana menoleh kembali ke arahnya, “Apa kau akan datang lagi kemari? Mungkin untuk memfotoku lagi…kapan-kapan?”

Hana terdiam, tampak berpikir-pikir. “Kita lihat saja nanti apa kata bosku, Yeol-ssi,” jawabnya sambil tersenyum.

Yeol mengerucutkan bibirnya. “Tapi kau harus bisa memasukkan fotoku ke majalah terkenal, ya?” tambahnya, kali ini sambil nyengir lebar.

Hana memutar matanya dengan berlebihan, hingga membuat Yeol tertawa melihatnya. “Sampai jumpa!” pungkasnya sebelum benar-benar menghilang ke balik tikungan.

***

Malam itu, sepulangnya dari kafe tempatnya bekerja, Yeol mendapati Suho sudah berdiri di depan pintu rumah mereka—menunggunya pulang. Yeol menelan ludah dengan tidak nyaman. Adegan Suho menunggu seseorang pulang, entah itu dia atau keempat saudaranya yang lain, seingat Yeol tidak pernah menjadi sebuah pertanda bagus. Dia telah melakukan kesalahan, dia tahu pasti itu. Maka, mengabaikan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya, Yeol memberanikan diri untuk mengangkat wajah dan tersenyum semanis mungkin pada kakaknya—sejujurnya hanya untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Halo, Hyung,” sapanya ketika sudah berdiri berhadapan dengan Suho. “Menungguku pulang, eh?”

“Yeol-ah,” Suho memulai, mengabaikan percobaan sapaan sok manis Yeol yang gagal.

Yeol segera merubah ekspresinya dari sok manis menjadi sok tidak merasa bersalah. “Apa terjadi sesuatu?” tanyanya.

Suho menghela nafas. “Masuk dan ganti dulu pakaianmu. Setelah itu baru kita bicara.”

“Err—oke, Hyung. Aku ke atas dulu,” Yeol berujar, lalu buru-buru menghilang ke lantai atas.

***

“Apa kau sudah membuat kekacauan?” Yeol tersentak di tengah-tengah kegiatannya mengenakan kaus ketika mendengar suara itu dari pintu kamarnya yang terbuka. Yeol cepat berbalik, dan menemukan Hyun berdiri di sana—bersandar di dekat pintu dengan tampang menyebalkannya yang biasa.

“Aku tidak tahu. Suho-hyung belum mengatakan apa-apa,” jawab Yeol datar, tapi wajahnya muram.

Hyun tersenyum sinis. “Apa kau sudah lupa kalau dia bisa membaca pikiran semua orang di rumah ini? Kau harusnya hafal bagaimana sikapnya kalau salah satu dari kita telah membuat masalah,” katanya.

“Tapi aku tidak merasa telah membuat masalah, Hyung,” Yeol berkeras membantah sambil dengan tak sabar merapikan kausnya.

Hyun mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Seperti biasa, definisi masalah yang kau pahami dengan yang orang tua itu pahami selalu berbeda, bocah,” katanya, kemudian beranjak begitu saja tanpa mempedulikan tampang Yeol yang mulai berubah ngeri.

***

“Jadi, coba ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Yeol,” kata Suho membuka percakapan, setelah dia dan Yeol sudah duduk berhadap-hadapan di ruang televisi yang lengang. Hyun, seperti biasa, tengah sibuk bermain game bersama Hoon dan Kai di kamarnya di lantai atas, sementara Soo pasti sudah tenggelam bersama buku-buku musiknya di balkon di depan kamarnya.

Yeol berdeham gugup. “Apa yang…kau maksud, Hyung?”

Suho menghela nafas, kemudian berujar perlahan, “Aku membaca banyak hal dari pikiranmu malam ini, Yeol. Sesuatu tentang gadis yang membawa kamera—yang memotretmu saat sedang bernyanyi? Ah, dan kau bahkan sempat bermain-main sedikit dengan hujan untuk membuatnya kagum. Bukan begitu?”

“Err—itu…” Yeol menyahut gugup, “aku cuma sedang, eh, iseng, Hyung.”

Suho menggeleng tak setuju. “Jangan bercanda denganku, Yeol. Aku tahu kau bukannya sedang iseng dengan gadis itu. Apa kau menyukainya?”

“Eh, itu—”

“Oke. Aku anggap jawabannya iya,” sela Suho tepat sasaran, “tapi tetap saja, itu tidak membenarkan perbuatanmu yang menyalahgunakan kekuatan, Yeol-ah.”

“Aku terdesak, Hyung. Hanya itu yang bisa kupikirkan untuk mencegahnya pergi,” Yeol berkata membela diri. “Lagipula, sedikit hujan tidak akan merugikan siapapun, kan?”

Suho mendesah. “Yeol-ah, apa kau sudah lupa apa alasan Ayah membuang kita ke bumi?” tanyanya, melemparkan tatapan tajam kepada adik lelakinya itu.

Yeol mengangguk ragu-ragu. “Karena kita terlalu banyak membuang-buang waktu untuk bermain-main dan bukannya membantu Ayah mengurusi pemerintahan, kan?”

“Itu, dan juga karena Ayah ingin membuat kita sadar bahwa kekuatan yang kita miliki berarti jauh lebih besar untuk makhluk bumi, hingga kita tidak sepantasnya menggunakannya untuk bermain-main dan sekedar mengacaukan segala hal,” sambung Suho, lambat namun penuh penekanan.

Yeol menggaruk tengkuknya, tampak salah tingkah. “Apakah kali ini aku memang sudah mengacau, Hyung?” tanyanya tak yakin.

Suho mengangguk sekali. “Jangan hanya memikirkan akibat dari tindakanmu hanya untuk satu atau dua orang saja. Pikirkanlah akibatnya untuk orang-orang di belahan bumi lain juga. Dewasalah, Yeol-ah.”

“Aku mengerti, Hyung. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi, oke?” Yeol berujar sungguh-sungguh, kemudian bangkit dari duduknya. “Jadi, apa aku boleh pergi tidur sekarang? Mataku rasanya sudah seperti ditindih gajah dan tubuhku rasanya nyaris remuk, Hyung.”

Suho memutar matanya, tapi toh mengangguk juga. “Oke. Pergilah tidur, Yeol-ah.”

Yeol nyengir berterimakasih, dengan cepat berbalik dan melangkah buru-buru menuju lantai atas, sebelum kemudian memutar lagi tubuhnya karena mendengar suara Suho yang menyebut namanya. “Ya, Hyung?” sahutnya dari anak tangga ketiga.

“Aku lupa bilang satu hal lagi padamu, Yeol-ah,” kata Suho, lagi-lagi dengan nada lambat namun tajamnya yang penuh penekanan, “jangan temui gadis itu lagi. Jatuh cinta hanya akan membuat segalanya jadi lebih buruk, dan itu mungkin termasuk menggagalkan rencana kita untuk  pulang.”

“Tapi, Hyung—” Yeol menukas, tapi Suho sudah mengangkat sebelah tangannya.

“Ini bukan permintaan, Yeol. Kau tidak bisa menolak,” pungkas Suho tegas, yang langsung membuat mulut Yeol terkatup rapat—tahu bahwa dia tak bisa lagi mengatakan apa-apa.

***

Yeol sedang memasukkan gitarnya ke dalam tas ketika didengarnya suara itu menyapanya.

“Halo, Yeol-ssi. Kita bertemu lagi.”

Lelaki itu dengan cepat berbalik, dan dia merasa jantungnya mencelos ketika sepasang matanya menatap wajah Kim Hana yang kini tengah tersenyum lebar dengan satu tangan melambai ke arahnya. Yeol menelan ludah, mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya bisa berkata terbata-bata, “Eh, ha-halo, Kim Hana-ssi.”

Hana nyengir, lalu tanpa aba-aba langsung menjepretkan kameranya ke wajah Yeol.

“Hei, kenapa kau memotretku?” Yeol bertanya kaget.

Hana tertawa kecil. “Tampangmu lucu, Yeol-ssi,” jawabnya ringan.

Yeol memutar matanya dengan lagak tersinggung. “Kau tahu, tidak pernah ada orang yang mengataiku lucu sebelum ini.”

“Memangnya orang-orang biasanya mengataimu apa?” sahut Hana, kini sudah mengikuti langkah-langkah Yeol turun dari panggung kecil kafe.

Yeol tersenyum miring dengan lagak sok misterius. “Well, itu seharusnya mudah ditebak, kan?”

“Apa?”

“Yah,” Yeol berbisik, kini sudah mendekatkan wajahnya ke telinga Hana. “Orang-orang, sih, biasanya bilang kalau aku ini tampan, keren, bersuara bagus, dan penuh kharisma,” lanjutnya setengah menggoda. Kemudian, dia menjauhkan wajahnya dari Hana dan tersenyum sangat lebar.

Entah kenapa, melihat senyum Yeol membuat wajah Hana bersemu merah. “D-dasar k-kau besar kepala, Yeol-ssi!” tukasnya gugup, lalu buru-buru memalingkan wajahnya dari Yeol.

Yeol terkekeh. “Tapi itu memang kenyataannya, kan?” sahutnya jenaka.

Hana mencibir, kemudian berujar sambil menyerahkan sebundel majalah ke tangan Yeol ketika mereka berdua sudah berada di bagian luar kafe, “Nih. Fotomu sudah berhasil aku masukkan ke majalah musik terkenal.”

Yeol menerima majalah itu dengan mata berbinar senang. “Kau serius?!” katanya sangsi.

“Buat apa aku bohong? Kim Hana tak pernah ingkar janji, tahu,” balas Hana tak sabar.

Yeol nyengir ketika menemukan wajahnya benar-benar berada di halaman profil majalah musik itu. Tampangnya kini sudah seperti bocah lima tahun yang mendapatkan sekotak permen kesukaannya ketika mendongak untuk memandang Hana. “Wah, kau keren, Hana-ssi!” dia berseru kagum.

Hana tergelak mendengar pujian Yeol. “Tidak perlu berlebihan begitu, Yeol-ssi. Kan, sudah kubilang kalau aku cuma fotografer freelancer. Lagipula, fotoku juga tidak akan jadi bagus kalau objeknya tidak bagus, kok.”

“Nah, kan, jadi kau sekarang mengakui kalau aku tampan, keren, bersuara bagus, dan penuh kharisma makanya bisa jadi objek yang bagus?” Tiba-tiba saja, Yeol sudah kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Hana sekarang.

Jantung Hana rasanya nyaris melompat keluar karena jaraknya yang terlampau dekat dengan Yeol, tapi dia berusaha menutupinya dengan merebut kembali majalah di tangan Yeol. “Kalau kau begini terus, majalah ini akan kuambil lagi darimu,” ancamnya, melemparkan tatapan galak kepada Yeol.

“Whoa, takut,” kata Yeol, kini pura-pura memasang wajah ngeri.

Hana memutar matanya dengan jengkel melihat kelakuan Yeol yang seperti anak-anak. “Ah, sudahlah. Kau membuatku menyesal telah susah payah datang kemari, Yeol-ssi,” tukasnya frustasi.

“Eh? Jangan begitu, dong. Aku, kan, hanya bercanda, Demi Tuhan,” Yeol menyahut memohon-mohon.

Hana menoleh, menatap Yeol dengan serius. “Aku tidak marah, kok,” balasnya datar.

Yeol mengangkat sebelah alisnya. “Lalu apa?”

“Cuma jengkel setengah mati.”

Mendengar itu, tawa Yeol langsung meledak. “Aduh, maafkan aku kalau begitu. Please?” ucapnya setelah tawanya reda.

Hana berdecak tak sabar. “Hanya jika kau tidak membayar maafku dengan bertingkah seperti bocah dan menertawakanku seperti itu lagi.”

Yeol mengangguk seraya membentuk tanda damai dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Sumpah mati aku tidak akan melakukannya.”

Mau tak mau, Hana terkikik juga. Sekali lagi dia mengangkat kameranya dan dengan cepat mengambil gambar Yeol yang bertampang serius sebelum lelaki itu kembali memberengut tak setuju kepadanya.

“Kau memotretku tiba-tiba lagi,” protesnya seperti anak-anak.

Hana hanya mengedikkan bahunya sekilas. “Tidak ada ruginya juga buatmu.”

“Oh, baiklah aku menyerah. Lakukan saja sesukamu, Hana-ssi,” ujar Yeol pasrah.

Hana nyengir lebar. “Memang itu rencanaku, ” katanya, kemudian terbelalak ketika mengecek arlojinya. “Oh, astaga, aku harus segera pergi sekarang juga.”

“Oh, tidak,” Yeol mengerang, tampak sekali tidak rela.

Hana memajukan bibirnya. “Maaf. Seperti biasa, ini masalah deadline penyerahan foto. Aku membuatmu sebal, ya, sepertinya?”

Yeol menggeleng setengah hati. “Tidak apa, pergilah. Pekerjaanmu menunggumu,” ujarnya.

Hana meringis, tampak merasa bersalah. “Apa ada yang bisa aku lakukan? Selain memasukkan fotomu yang lain ke majalah, tentu saja.”

Yeol terdiam untuk berpikir, kemudian menyahut mantap, “Bisakah kau datang menemuiku besok pukul lima sore di sini? Aku ingin mengajakmu kencan.”

Mendengar ucapan Yeol, Hana bisa merasakan wajahnya memanas dan jantungnya berdegup kencang lagi. “K-kencan? Apa kau…serius, Yeol-ssi?” tanya Hana tak yakin.

Yeol mengangguk sekali, wajahnya mulai berubah pucat karena terlalu gugup sekarang. “Apa kedengarannya tidak meyakinkan?” dia balik bertanya, berniat sedikit mengurangi kecanggungan yang menggantung di udara sekitar mereka.

Hana nyengir. “Sedikit…” jawabnya, menjelaskan maksudnya dengan mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya.

Yeol memajukan bibir bawahnya, tampak tersinggung, tapi Hana tahu kalau lelaki itu hanya sedang berpura-pura.

“Jadi, besok pukul lima sore di sini?” Hana bertanya, hanya untuk sekedar memastikan.

“O,” sahut Yeol. “Kau pasti datang, kan?”

Hana mengangguk. “Kim Hana tak pernah ingkar janji, tahu.”

Yeol tertawa, dan dengan begitu dia resmi telah melanggar janjinya yang lain—janji yang telah dibuatnya dengan Suho malam sebelumnya.

***

“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan, Yeol-ah?!” Suho berkata dengan nada tinggi, membuat Hyun, Soo, Kai, dan Hoon yang sebelumnya memilih mengabaikan hyung tertua mereka itu dan Yeol kini sama-sama berpaling karena penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yeol mengerut di sofanya, tampak terkejut dengan kemarahan Suho yang datang terlalu cepat dari yang diduganya. “Hyung, kumohon dengar dulu penjelasanku,” katanya mengiba.

“Apa lagi yang perlu kudengar darimu kalau aku sudah tahu segala hal yang terjadi sore ini? Kau anggap aku ini apa, sampai kau berani melanggar janjimu padaku seperti itu?” Suho menukas, kemarahan terpeta dengan jelas di wajahnya yang tampan.

“Hyung, tapi ini masalah hati!” Yeol berseru keras kepala.

Suho menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dan apakah masalah hati itu bisa membuatmu mengabaikan segala hal untuk kepentinganmu sendiri? Kau tidak sadar, ya, kalau kau sedang membahayakan hidup kita semua?”

“Oh, Demi Tuham, Hyung, aku tidak mengerti di mana letak kesalahannya kalau aku jatuh cinta pada gadis itu!”

“Kau!” Suho berteriak sekarang, tampak benar-benar putus asa menghadapi Yeol.

“Hyung, tenangkan dirimu, oke?” Kali ini Hyun yang berkata, sudah berada di samping Suho untuk menepuk-nepuk bahunya. “Dan untukmu, Yeol,” dia melanjutkan, berpaling untuk menatap Yeol yang berdiri dengan wajah kaku di seberangnya, “jatuh cinta cepat atau lambat akan memaksamu untuk memberitahukan rahasia kita kepada gadis itu. Kau tidak berpikir untuk menyembunyikan identitasmu seumur hidup darinya, kan, kalau kau bilang kau benar-benar mencintainya?”

Kata-kata Hyun membuat Yeol terkesiap, seolah kebenaran yang menyakitkan baru saja menampar wajahnya, memberinya pemahaman akan kenyataan pahit yang tidak bisa dia pungkiri. “Hyung…” dia berbisik, berusaha sekeras mungkin untuk tidak menangis atau memukul sesuatu.

Hyun mengangguk mengiyakan. “Apa kau sudah mengerti maksudnya sekarang?”

“Hyung, tapi aku-aku…aku tidak berpikir dia akan menjadi bahaya untuk kita. Dia tidak jahat, Hyung. Dia cuma gadis biasa. Dan kalau pun aku memberitahunya rahasia kita, aku yakin dia tidak akan mengatakannya kepada siapapun,” Yeol berkata hati-hati, mecoba mengemukakan argumennya.

Suho, yang sekarang sudah tampak lebih tenang, mendesah sebelum berkata, “Kalau begitu, jika kelak kita harus kembali ke Exo, apakah kau rela meninggalkannya? Kau tentunya paham kalau manusia biasa tidak boleh tinggal di planet kita, kan, Yeol-ah?”

“Suho-hyung benar, Yeol. Kau tidak mungkin bisa membawa gadis itu ikut pulang bersama kita,” Hyun menambahkan.

Yeol kini memandang tajam Suho dan Hyun bergantian, mencari tanda-tanda kemarahan yang mungkin masih tersisa di sana. Tapi yang bisa ditemukannya hanyalah…kesedihan—kesedihan yang ditujukan buatnya. “Jadi, apakah maksud kalian aku benar-benar harus menjauh darinya dan melupakannya? Apakah memang garus begitu? Apakah aku tidak boleh mencari kebahagiaanku sendiri, Hyung?”

“Yeol-hyung,” Soo ikut menyahut, “kau dan gadis itu memang tidak ditakdirkan untuk bersama sejak awal. Ayah pernah bilang bahwa Orang-orang Langit telah menentukan jodoh kita dari planet yang sama sejak awal, ingat?”

“Tapi aku mencintai gadis itu, Soo!” Yeol akhirnya meledak. “Hyung, coba katakan padaku. Kalau kau jadi aku, kalau kau juga jatuh cinta pada manusia biasa sepertiku, apakah kau akan dengan mudahnya melepaskannya hanya karena dia tidak berasal dari Exo? Apakah kau juga akan melakukan apa yang kausuruh terhadapku?” tuntutnya, menatap Suho dengan sepasang mata menyala-nyala.

Suho balik menatap dalam-dalam adiknya itu. Kesedihan semakin kentara memancar dari sepasang matanya yang biasanya bersinar lembut. “Aku…juga akan melakukannya, Yeol-ah. Aku juga akan melepaskan gadis yang kucintai, seperti yang kusuruh terhadapmu,” jawabnya, pelan namun penuh ketegasan.

Mendengar itu, bahu Yeol langsung lemas. Sekujur tubuhnya terasa kebas. Dia tahu, sekali lagi dia telah kalah melawan takdirnya—takdir yang dilihatnya melalui mata Suho dan keempat saudaranya yang lain.

***

Hari ini seharusnya jadi hari istimewa untuk Yeol, karena dalam dua jam dia akan berada di beranda kafe tempatnya bekerja untuk pergi berkencan bersama Hana. Tapi alih-alih bersiap-siap dan segera berangkat, lelaki itu malah sibuk bergelung di sofa ruang santai rumahnya, sibuk menaikturunkan telunjuknya dengan tampang nyaris seperti mayat hidup. Akibatnya, di luar hujan turun hanya untuk mereda dengan cepat, sebelum kemudian menderas dan mereda lagi berulangkali.

Ya, Yeol-ah! Berhenti bermain-main dengan hujan atau aku akan mematahkan jarimu setibanya di rumah nanti! Aku basah kuyup di jalanan gara-gara kau, nih! Hyun mengomel dalam pesan singkat yang dikirimkannya ke ponsel Yeol semenit yang lalu. Yeol mendesah tak semangat membaca pesan itu, dan malah meneruskan ‘kegiatannya’ menurunkan dan menghentikan hujan sesuka hati sambil bergumam tanpa suara.

“Apa dia sedang menungguku, ya?”

“Apa dia bawa payung?”

“Apa dia membawa kameranya juga agar nanti bisa memotretku?”

“Ah, apakah dia bahkan ingat untuk datang sore ini?”

“Tapi…dia pasti datang. Kim Hana tak pernah ingkar janji, kan, katanya?”

Hyung! Ayolah, hentikan hujannya sekarang juga. Aku harus tiba di rumah sebelum makan malam kalau tidak ingin dibunuh oleh Suho-hyung. Kali ini pesan bernada memelas dari Hoon, yang rupanya masih belum bisa mencairkan kemarahan Yeol terhadap Suho, terhadap Hyun, terhadap takdirnya sebagai pangeran yang dibuang ke bumi oleh ayah dan ibunya sendiri, dan terhadap dirinya sendiri—yang terlalu cepat menyerah pada takdir.

Kalau ingin pergi, pergi saja sana. Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sebelum mencobanya sendiri, kan? Siapa tahu kita tak akan pernah pulang ke rumah. Satu pesan dari Kai, yang dengan cepat langsung membuat Yeol bangun dari posisi berbaringnya dengan mata terbelalak dan detak jantung memburu.

Tanpa berpikir dua kali, lelaki itu langsung beranjak dari sofa dan menyambar jaketnya dari gantungan di dekat pintu, sebelum dengan terburu-buru mengenakan sepatu ketsnya. Dihentikannya hujan deras dengan sekali sentakan telunjuknya, kemudian berlari menembus jalanan yang sepi sambil berusaha menggemakan kalimat ini ke dalam pikirannya, hanya agar Suho bisa mendengarnya tanpa perlu dia menemuinya.

Maafkan aku, Hyung, tapi aku tidak ingin menyesal seumur hidup dengan membiarkannya pergi begitu saja. Setidaknya, aku boleh mencoba, kan? Kau bisa membunuhku nanti kalau aku pulang. Maaf!

***

Hana langsung bangkit dari duduknya dengan wajah cerah ketika dilihatnya Yeol sedang berjalan pelan-pelan mendekatinya. “Akhirnya kau datang juga, Yeol-ssi,” katanya, kemudian mulai melangkahkan kakinya ke arah Yeol.

Tapi lelaki itu keburu mengangkat tangan, menyuruhnya berhenti. “Stop di situ. Sebelumnya aku ingin menanyakan beberapa hal padamu.”

Kening Hana berkerut bingung meski dia akhirnya memilih menuruti kata-kata Yeol. “Tanya apa?” ujarnya penasaran.

Yeol berdeham sekali, kemudian berkata, “Bagaimana kalau aku bukan manusia biasa? Bagaimana kalau aku ini benar-benar setan yang bisa mengendalikan hujan seperti yang kau sangka dulu?”

Mendengar itu, Hana terkikik di tempatnya. “Kau serius menanyakan hal itu padaku?”

“Ya,” jawab Yeol singkat.

Hana tertegun, tiba-tiba menyadari bahwa Yeol memang sedang benar-benar serius sekarang. Jadi dia menjawab, “Well, sejak awal aku memang sudah menganggapmu terlalu cantik untuk menjadi manusia biasa. Lagipula, kalau kau memang setan, aku harusnya bersyukur karena ada setan yang besar kepala dan berselera humor sangat buruk sepertimu, kan?”

Yeol mengerucutkan bibirnya, tampak agak tersinggung mendengar kata-kata gadis di hadapannya itu. “Aku tidak tahu harus senang atau sedih mendengar jawabanmu barusan, tapi setidaknya kau tidak menganggapku menakutkan, jadi terimakasih banyak.”

“Sama-sama,” Hana menyahut dengan tampang geli, “Apa ada pertanyaan lain lagi?”

Yeol mengangguk. “Karena aku sudah jatuh cinta padamu, jadi aku ingin tahu apakah kau juga mencintaiku, Hana-ssi?” tanyanya pelan.

Hana menelan ludah, tiba-tiba merasakan kegugupan menyerangnya. “Err—oke. Kurasa bisa dibilang jawabannya…iya. Aku juga mencintaimu,” katanya pada akhirnya.

Yeol tersenyum puas. “Satu lagi.”

“Apa?”

Yeol menyeringai, kemudian mulai berjalan pelan-pelan mendekati Hana. “Kalau sekarang aku ingin menciummu,” katanya lambat-lambat, “apakah kau keberatan?”

“Oh, baiklah. Tidak. Aku tidak keberatan,” jawab Hana sambil memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena malu.

Yeol tertawa, lalu dengan cepat meraup gadis itu ke dalam pelukannya dan menciumnya tepat di bibir. Dengan satu tangan yang tidak digunakannya untuk memeluk Hana, dia menurunkan telunjuknya—dan dalam sekejap hujan deras langsung membasahi mereka berdua.

“Hei, ini perbuatanmu, ya, Tuan Setan Berselera Humor Buruk?!” Hana memprotes ketika dia bisa menjauhkan bibirnya dari bibir Yeol.

Yeol menyeringai, kemudian berbisik di atas bibir Hana, “Sesuatu yang seperti ini, cuma aku yang bisa melakukannya.” Dan dia kembali mencium gadis yang sedang tertawa di hadapannya, sambil berpikir bahwa kalaupun dia harus mati di tangan Suho malam ini, setidaknya dia tidak akan merasa menyesal.

 

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s