Without Words [4]

 

Title : Without Words [4]

Author : Yuridista

Genre : Friendship, slightly romance and yaoi

Pairing : YunJae

Rating : AA-PG

BGM : Hurt-Ali

p.s : This is the 4th part and as always, i write this from Yunho’s point of view. The previous part is here.

***

Kami berdua berjalan bersisian dalam diam. Sesekali aku melirik ke arahnya, namun tak ingin mencoba mengatakan sesuatu kepadanya. Lagipula, aku juga tidak tahu harus mengatakan apa dalam situasi seperti ini—dalam situasi di mana aku merasa bahwa diriku sendiri juga mengalami goncangan yang sama dengannya.

“Hyung, biar aku yang menyetir,” Changmin berkata tiba-tiba, akhirnya memecah keheningan di antara kami berdua ketika kami sudah mencapai tempat di mana mobil kami diparkir.

Aku mengangkat wajah dengan cepat dan melihatnya mengulurkan tangan padaku sebagai isyarat untuk menyerahkan kunci mobil.

“Kemarikan kuncinya, ” dia melanjutkan ketika aku tak juga bereaksi.

Aku berkedip, kemudian buru-buru menggeleng. “Tidak usah. Biar aku saja.”

“Jangan cerewet. Lihat dulu tampangmu baru bilang begitu. Sini, berikan kuncinya padaku,” tukasnya, kini cepat-cepat melangkah ke arahku dan langsung merebut kunci mobil kami dari tanganku.

“Changmin-ah—” Aku berkata hendak protes, tapi Changmin sudah keburu mendorongku untuk masuk ke kursi penumpang.

“Kali ini saja, Hyung, kumohon menurutlah padaku,” ujar Changmin sungguh-sungguh sebelum menutup pintu dan beranjak ke kursi kemudi.

Aku mendesah, mau tidak mau menuruti apa kata magnaeku itu. Kuhempaskan tubuhku ke sandaran kursi lalu memutar kepala untuk memandang Changmin yang tengah memasang sabuk pengamannya. “Memangnya tampangku separah itu, ya?” tanyaku.

Changmin menyeringai seraya memiringkan kepalanya untuk menatapku. “Kalau tidak percaya kenapa tidak langsung saja lihat di kaca?” sahutnya. “Lagipula, sebenarnya bukan itu yang membuatku khawatir padamu,” lanjutnya, lalu mulai menjalankan mobil.

Aku mengangkat sebelah alisku. Bingung. “Lalu apa?”

“Ini,” Changmin berujar, tiba-tiba saja ujung telunjuknya sudah menekan dada bagian kiriku, “aku tahu keadaannya pasti jauh lebih parah daripada tampangmu.”

“Eh?”

“Hyung, tadi itu bukan masalah kecil buatmu, kan?” katanya, sudah berpaling lagi untuk memandang jalanan. “Semua hal tentang Jae-hyung tidak pernah jadi masalah kecil buatmu.”

“Hei. Kau yang tadi bereaksi duluan, kan? Bagaimana bisa sekarang semuanya seolah jadi soal aku?” tukasku tidak terima.

Changmin mengangkat bahu tak acuh. “Aku cuma sedang akting tadi.”

Aku terbelalak mendengar perkataannya. “Akting? Akting apa ini yang sedang kau bicarakan, bocah?”

Changmin menoleh lagi untuk memandangku. “Kau tahu, kan, Hyung, semacam tindakan pura-pura. Untuk melindungimu…”

Aku membuang nafas dengan jengkel. “Bisa tidak kau menjelaskan maksudmu dengan tidak bertele-tele begitu?” tuntutku tak sabar.

Changmin tergelak. “Rileks, Hyung. Aku, kan, hanya bermaksud baik. Aku tahu kau pasti akan jadi super melankolis kalau aku tidak pura-pura marah dan membuatmu merasa harus segera menyeretku pergi dari tempat itu tadi. Ha, bukankah aktingku tadi keren sekali?”

“Changmin-ah, apa kau serius mengatakan ini semua padaku? Kau yakin kalau tadi kau hanya sedang berakting? Maksudku, ya ampun, aku bahkan sudah mengira kau akan memukul Yoochun kalau aku tidak buru-buru menarik lenganmu tadi,” tukasku, samasekali tidak bisa mempercayai kata-katanya.

“Apa kau memang masih menganggapku bocah, Hyung? Apa aku tidak akan pernah bisa jadi lelaki dewasa di matamu?” balasnya tanpa memandangku. Nada suaranya berubah serius sekarang dan aku bisa melihat sorot kegetiran membayang di wajahnya yang tirus.

Aku menelan ludah susah payah. “Changmin-ah—”

“Yoochun-hyung, Jae-hyung, dan Junsu-hyung adalah keluargaku, sama sepertimu. Walau bagaimanapun juga, aku tidak akan bisa membenci mereka, meskipun aku setengah mati ingin melakukannya,” sela Changmin dengan suara berat. “Yang aku lakukan tadi hanyalah bagian dari usahaku untuk melindungimu, karena aku tidak ingin kau terluka lebih banyak lagi. Aku tahu kau sudah menanggung beban terlalu berat, Hyung. Aku hanya ingin sedikit saja menjadi adik yang berguna untukmu.”

Aku tertegun. “Changmin…”

“Aku tidak tahu apakah kita bisa kembali seperti dulu lagi, Hyung. Aku memang masih berharap, aku akui itu. Tapi sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya aku bisa membantumu untuk melanjutkan perjuangan sebagai TVXQ. Bagaimana aku bisa bertahan di sampingmu, sebagai saudaramu, sebagai partnermu. Karena dengan begitu, jika pada akhirnya Yoochun-hyung, Jae-hyung, dan Junsu-hyung memutuskan kembali kepada kita, kita masih bisa menyebut diri kita sebagai TVXQ. Apa kau mengerti maksudku, Hyung?” Changmin berujar panjang, kemudian berpaling menatapku dengan senyum tipis tersungging di wajahnya.

Aku mengerjap tiga kali, berusaha mencegah air mataku turun. Aku lalu tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu magnaeku ini. “Changmin-ku ternyata memang sudah dewasa, ya? Bagaimana bisa aku mengabaikan fakta ini dan terus menagnggapmu sebagai bayi tampanku, bocah?” kataku, yang langsung membuat Changmin memutar mata dengan berlebihan.

“Lihat dirimu, Hyung. Kau bahkan masih berani bilang begitu sekarang. Jangan memanggilku bocah lagi, oke?” tukasnya, raut wajahnya sudah kembali melunak sekarang.

Aku tertawa kecil. “Kalau soal itu, aku tidak bisa berjanji padamu, Changmin-ah. Dan apakah kau tidak menganggap panggilan itu terdengar sangat manis untukmu?”

“Hyung!” Changmin berteriak jengkel.

Aku nyengir. “Tidak baik menyetir sambil marah-marah, bocah,” kataku setengah bercanda.

Changmin hanya menanggapiku dengan omelan panjang pendek yang tidak benar-benar aku dengarkan.

“Hei,” aku memanggilnya setelah jeda beberapa saat.

“Hmmm?” Changmin menyahut.

“Lain kali tidak usah pergi ke coffee shop itu lagi kalau malam minggu, ya?” kataku seraya kembali menyandarkan kepala ke kursi di belakangku.

“Kenapa? Takut bertemu Jae-hyung lagi?” balas Changmin tanpa tedeng aling-aling.

Aku tertawa kering. “Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan?”

Changmin ikut tertawa. “Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan kalau kau sudah mulai bertingkah seperti orang gila kalau sedang rindu pada Jae-hyung?”

Aku memejamkan mata, dan sebentuk wajah itu langsung tergambar dalam kepalaku. “Cukup buatkan aku secangkir cappuccino saja,” ujarku pelan.

“Dan apakah itu cukup?”

Aku tersenyum tipis sebelum menjawab yakin, “Kurasa…untuk saat ini itu sudah lebih dari cukup.”

 

DING!

Iklan
Without Words [4]

10 pemikiran pada “Without Words [4]

  1. Annyeong, gak sengaja nemu blog ini dari site stat SMff ^^
    Seneng banget nemu ff DB, awalx kirain HoMin ternyata YunJae. Yunjae shipper yah?

    Ceritanya bagus, ringan, gak berbelit, dan enak dibaca πŸ™‚
    Kalo emang suka DBSK jangan lupa mampir ke blog kami http://fanfictionetworks.wordpress.com/ sekarang lagi ngadain contest buat menangin dvd jyj loh ^^ kapan2 mampir yah, ikut contestnya juga πŸ˜€

    1. halo xD
      SMff itu apa yaa? *cengo*
      duh, terimakasih πŸ˜‰ aku juga seneng bgt dapet reader baru yg baik kyk kamu xD
      oh ya? itu kontes bikin FF atau gimana? nanti aku mampir, deh πŸ™‚
      salam kenal, ya. jangan bosen main ke sini πŸ˜‰

      1. Smtownfanfiction ^^
        Itu cuman kontes biasa sih, hadiahx juga cuman dvd copy ori JYJ aja.. Cuman rencanax kontes yang sekarang buat pembukaan aja jadi kalo banyak yang ikut akan ada kontes selanjutnya ^^

      2. aaaah masa aku baru inget mau ikutan hari ini TT gegara banyak tugas kuliah niiiih /tears
        ah, lain kali kalo ada lg aku dikabarin yaa chingu~
        gamsahae πŸ™‚

  2. aku baca ini sehari setelah heboh2nya kalo TVXQ bakal balik berlima lagi gembar-gembor banget diberitain dan suerrr… rasanya agak campur aduk pas baca ini.

    “Yoochun-hyung, Jae-hyung, dan Junsu-hyung adalah keluargaku, sama sepertimu. Walau bagaimanapun juga, aku tidak akan bisa membenci mereka, meskipun aku setengah mati ingin melakukannya,”—> dan pernyataan changmin ini semacam ngejleb. Aku cuma berharap ini berlaku disituasi nyata. mengesampingkan soal agensi dan manajemen, apapun yg nanti bakal terjadi aku sih pengennya gak ada dendam di antara mereka.

    1. aku juga berharap apa yang aku tulis di FF ini gak beda jauh sama di dunia nyata unnie. aku pengennya walopun mereka pada akhirnya emang harus jalan sendiri2 sebagai DBSK dan JYJ, mereka tetep masih bisa sayang satu sama lain dan ga perlu saling menghindar kalo di muka umum. seenggaknya mereka bisa tetep saling temenan kan ya? *malah curhat*
      thank you komennya unnie πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s