Without Words [2]

Title : Without Words [2]

Author : Yuridista

Genre : Friendship, slightly romance and yaoi

Pairing : YunJae

Rating : AA-PG

BGM : A Beautiful Mess-Jason Mraz

p.s : A collaboration FF with my sister Yana. This part is written from Yunho’s point of view. You can read the first part of this FF here. That’s for Hero’s version, anyway. Enjoy, ya šŸ™‚

***

Untukku yang sekarang, tak pernah ada satu hari baik pun dalam seminggu.

Senin—aku membencinya karena itu adalah hari yang harus kumulai dengan merasakan tepukan tanganmu di atas kepalaku, membangunkanku dari tidur tiga jamku.

Selasa—aku membencinya karena itu adalah hari di mana kau selalu memasakkan tteokpokki paling enak sedunia untukku, untuk Changmin, untuk Yoochun, dan untuk Junsu.

Rabu—aku membencinya karena itu adalah hari di mana kau menetapkannya sebagai hari latihan menari privatmu bersamaku. Lima jam penuh, kalau boleh kutambahkan. Dan itu belum termasuk ocehan sepanjang waktumu tentang betapa kau sangat menderita karena tidak bisa menari sebaik diriku.

Kamis—aku membencinya karena itu adalah hari di mana kita berlima selalu menyanyikan lagu apa saja secara acapella, di mana Yoochun akan dengan senang hati memamerkan kemampuan bermain pianonya dan Junsu akan dengan seenaknya mengganti-ganti nada dan kau akan pura-pura memarahinya, sementara Changmin hanya akan berdecak bosan melihat tingkah kalian berdua.

Jumat—aku membencinya karena itu adalah hari di mana kita berlima akan melewatkan malam di dalam mobil karena besoknya harus konser di luar kota, dan kau akan memaksa untuk meletakkan kepalamu di bahuku saat akan tidur—padahal jelas-jelas kau sudah meletakkannya di sana nyaris sepanjang perjalanan.

Sabtu—aku membencinya karena itu adalah hari di mana aku harus menebalkan telingaku demi mendengar segala omelan panjang lebarmu tentang betapa berantakkannya koperku sambil tetap membereskannya juga, lalu menjadi sibuk menyalahkan yang lainnya, kecuali Changmin tentu saja, karena telah ikut-ikutan menjadi sama berantakkannya denganku.

Minggu—aku membencinya karena itu adalah hari di mana kau akan menyeretku ke kedai kopi di pinggiran Gangnam yang dengan seenaknya kau putuskan untuk menjadi tempat favorit kita berdua, kemudian memaksaku untuk duduk di kursi yang dekat dengan jendela hanya karena kau merasa senang memandangiku yang tengah menatap keluar jendela.

***

“Tumben sekali kau tidak pesan americano, Hyung,” Changmin menegurku ketika pesanan kami diantarkan oleh pelayan.

Aku mengalihkan tatapanku dari luar jendela dan tersenyum tipis padanya. “Hanya sedang bosan,” jawabku.

Changmin mencibir. “Memangnya sejak kapan kau bisa bosan dengan sesuatu?”

Aku tertawa. “Sejak hari ini—ah tidak, sejak aku terlalu banyak menghabiskan waktu bersamamu,” ujarku, mengerling jahil padanya.

“Dan kenapa sekarang sepertinya jadi aku yang disalahkan? Membuatmu jadi bosan, apakah itu keahlianku yang baru?” Changmin bertanya lagi, menatapku dengan pandangan sarkastiknya yang biasa.

“Bocah,” Aku berkata, sekali lagi mengalihkan tatapanku dari luar jendela yang basah karena hujan, “apa kau benar-benar harus menjadi sangat cerewet hari ini? Tidakkah kau ingin menikmati hari libur kita yang berharga ini dengan tenang?”

Changmin memutar matanya dengan berlebihan, kemudian menyesap sedikit coffee latte dalam cangkir di tangannya. “Bilang saja kau sedang rindu pada Jae-hyung. Dasar orang tua gengsian, kau itu.”

Aku tertegun. “Hei, bocah—”

“Sudah, minum saja cappuccino-mu itu,” sela Changmin buru-buru. “Kalau dingin nanti tidak enak, lho. Lagipula, kita juga harus segera pulang, kan?”

Hening sebentar, lalu Changmin memutusnya dengan tersenyum sangat lebar kepadaku—sebuah senyum yang aku tahu dia tunjukkan untuk menghiburku. Aku balas tersenyum kemudian segera menyesap cappuccino-ku. Ah, bukan—ini cappucino-mu, kan, Jae?

Kualihkan kembali tatapanku keluar jendela, seperti yang selalu aku lakukan setiap kali aku datang ke sini bersamamu, hanya agar aku bisa melihat pantulan samar-samar wajahmu yang sedang tersenyum ketika menatapku. Waktu itu, bahkan tanpa perlu mengatakan apa-apa, kau pasti tahu tentang perasaanku, kan?

Aku menyesap cappucino-ku sekali lagi. Ah, Jae, bagaimana bisa jika sedang merindukanmu begini rasa cappucino bisa jadi tak manis lagi?

DING!

Iklan

6 pemikiran pada “Without Words [2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s