Untukmu, Lelakiku : Bagian Delapanbelas

Halo, Kamu.

Untuk yang kedelapanbelas kalinya, aku mencoba mengajakmu bicara.

Cuma lewat kata-kata, aku tahu, tapi tak apa-apa.

Lagipula, harusnya kau juga sudah terbiasa dengan ini semua, kan?

Kamu, tahu tidak?

Entah kenapa, malam ini pikiranku tentangmu jadi sedikit aneh dan mengabur.

Dan aku tidak menyukainya.

Sekali waktu, aku pernah berpikir bahwa kau sudah berada sangat dekat denganku, hanya saja aku yang tidak peka hingga tak bisa merasainya.

Well, itu artinya cuma waktu dan tempatnya saja, kan, yang belum tepat?

Tapi akhir-akhir ini, yang aku rasakan adalah memudarnya eksistensimu yang sebenarnya tak pernah lebih dari sekedar samar-samar.

Jangan salah mengerti, aku masih percaya akan keberadaanmu yang senyata detak jantungku, kok.

Hanya saja, mungkin aku telah menjadi sedikit lelah, hingga pemahamanku akanmu pelan-pelan mulai tersingkir dari otakku.

Kau tahu, aku benci mengatakan ini semua padamu.

Aku benci menjadi tidak konsisten dan hilang kendali atas keyakinanku padamu.

Aku benci menjadi bimbang dan seperti berada di persimpangan.

Dan aku bahkan membenci diriku sendiri karena tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Kamu, bisakah kau mengirimkan jawaban atas semua ini kepadaku?

Lewat bisikan Tuhan, mungkin.

Karena nantinya aku akan langsung tahu apa yang seharusnya aku lakukan.

Dan nantinya, aku akan menjadi sama baiknya seperti sebelumnya.

Tapi, hei, tunggu dulu.

Apakah yang aku rasakan ini karena kau yang sedang sibuk di duniamu?

Hingga aku bahkan tidak bisa menjangkaumu, bahkan lewat hal paling sederhana sekalipun.

Mungkin di duniamu sana, kau sedang melakukan hal-hal menarik yang tidak bisa aku lakukan di sini,

yang membuatku merasa kau terlalu jauh dariku.

Tapi, bukankah kemarin dulu aku sudah bilang padamu bahwa aku akan mencoba mencintai jauh sebelum mencintaimu?

Kutebak, kau pasti berpikir bahwa aku sudah gila sekarang karena mulai berasumsi hanya untuk mematahkannya sendiri.

Apakah aku mulai kedengaran kacau sekarang?

Ah, sudahlah.

Anggap saja kali ini aku memang sedang berbicara padamu dalam keadaan yang tidak beres.

Lain kali, aku pasti akan kembali dalam keadaan yang lebih baik dari ini untuk menyapamu dan bicara tentang banyak hal lagi.

Satu hal yang aku minta sekarang, kau jangan bergerak terlalu jauh dariku, ya?

Setidaknya jangan sampai jarak kita membuatku merasa cukup untuk kehilangan jejakmu.

Kau harus selalu berada di sana, dalam batas jarak pemahamanku.

Dan kau juga harus patuh pada Tuhan dan selalu dengar apa kataNya.

Untuk semua itu, kau mau berjanji padaku, kan?

 

Salam,

Wanitamu

Iklan
Untukmu, Lelakiku : Bagian Delapanbelas

6 pemikiran pada “Untukmu, Lelakiku : Bagian Delapanbelas

    1. ehem. itu ceritanya surat cinta buat jodoh aku, saeng *krikrik*
      ya gitu deh pokoknya. cuman ya isinya emang pada umumnya apa yg sedang aku rasain sih –a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s