Kamu, Kebetulan Terbaikku

 

 

Title : Kamu, Kebetulan Terbaikku

Author : Yuridista

Genre : Fluff is everywhere ❤

Pairing : Jung Yunho-Me

Rating : G

BGM : Into Your World (Angel)-EXO-K

***

10 tahun…

Aku berjalan tergesa-gesa ketika menyadari bahwa aku telah kehilangan ibuku di antara keramaian. Sambil tetap menggenggam erat-erat tali pengikat balon di tanganku, aku terus berjalan tanpa benar-benar melihat ke sekeliling, karena yang ada di kepalaku sekarang hanyalah bagaimana caranya aku bisa menemukan ibuku—wanita setengah tua yang mengenakan blus bunga-bunga dan rok panjang berwarna hitam dengan tas tangan menggantung di lengannya. Astaga, rasanya aku ingin menangis saja sekarang. Bagaimana jadinya kalau aku tak bisa menemukannya di antara orang-orang yang memenuhi taman hiburan ini?

Dalam hati aku mengutuk kecerobohanku yang dengan seenaknya saja langsung berlari meninggalkan ibuku saking kepenginnya membeli balon berwarna pink yang sekarang sudah ada di genggamanku. Harusnya aku ikut menarik tangan ibuku juga tadi, mengajaknya ikut membeli balon bersamaku kemudian pulang bersama sambil makan gula-gula kapas yang tadi sudah dibelikannya untukku.

Di antara kepanikan dan ketakutan, aku terus berjalan sambil berharap akan mendengar suara ibuku memanggil namaku entah dari arah mana. Aku berjalan, berjalan, dan terus berjalan, sampai akhirnya…

Bruk!

Sial, aku menabrak seseorang. Dan lebih sial lagi, balon pink milikku terlepas dari tanganku! Oh, tidak!

“Hei, jangan menangis. Ini, balonmu berhasil kuselamatkan.”

Suara itu membuatku mendongak dengan cepat. Aku mengusap mataku yang basah, mencoba memfokuskan pandangan, dan merasa jantungku mencelos seketika ketika menemukannya berdiri sambil menunduk ke arahku dengan satu tangan mengulurkan balon pink milikku—dia, anak laki-laki paling tampan yang pernah aku lihat selama 10 tahun hidup di dunia.

“Ini balonmu. Jangan menangis lagi, ya?” Anak laki-laki itu bersuara lagi, kali ini sambil memamerkan senyum lebarnya padaku.

Aku menelan ludah. “I-iya. Terimakasih,” sahutku, antara gugup dan sungguh-sungguh. Aku lalu menerima balonku kembali dan dia kini ganti mengulurkan tangannya padaku.

“Apa kau sedang mencari seseorang? Ibumu?” tanyanya seraya menarikku bangun dari tanah.

Mataku melebar menatapnya. “Bagaimana kau bisa—?”

“Begini-begini aku ahli dalam mencari orang, lho,” dia menyela, “Mau kubantu mencari ibumu?”

Aku mengerjap dua kali, masih terlalu terkejut dan bingung untuk mencerna kata-katanya.

Tiba-tiba saja, dia sudah menarik tanganku. “Sudah, percaya saja padaku. Kita pasti bisa menemukan ibumu,” katanya, sekali lagi tersenyum lebar padaku.

Aku tertegun—dan detik itu juga aku tahu bahwa entah bagaimana aku telah percaya sepenuhnya padanya, pada anak laki-laki yang bahkan belum aku tahu namanya.

***

15 tahun…

Apakah kau percaya dengan yang namanya kebetulan? Atau takdir? Atau sesuatu yang telah ditetapkan sejak awal mula dunia ini ada?

Well, aku percaya. Dan sampai saat ini aku tak pernah menyesal mempercayai hal itu—karena dia.

“Kita mau melakukan apa kali ini?” Dia bertanya dengan tampang seolah dia sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulutku.

Aku menyeringai, kemudian menunjuk balon-balon yang sudah aku ikatkan dengan aman pada tang sepedaku.

Dia memutar mata. “Lagi?” tanyanya sarkastik.

Aku tertawa. “Ini ritual, ingat?” ujarku, geli melihat ekspresi wajahnya.

“Aku tidak tahu kalau kau memang benar-benar penggila balon. Maksudku, astaga, kita kan sudah lima belas tahun!” tukasnya, berusaha terdengar frustasi tapi aku tahu kalau dia justru sedang menertawaiku dalam hati.

Aku mencibir, kemudian melayangkan jitakan pelan ke kepalanya. “Kau sudah ingin mati, ya?” bentakku pura-pura galak.

Dia memajukan bibir bawahnya. “Oh, tidak. Ampuni saya, Yang Mulia Tuan Putri,” rajuknya, mengatupkan kedua tangan di depan wajah sambil memasang ekspresi memelas.

Aku tergelak. “Kalau begitu, ayo cepat kita lakukan ritual tanggal 21 kita sekarang juga, pelayanku yang setia,” kataku, lalu buru-buru menarik ujung kemeja seragamnya.

“Ya! Aku bukan pelayanmu, dasar tukang paksa!” omelnya, tapi toh tetap mengikutiku juga.

Aku menoleh ke belakang dan terkikik ketika melihat ekspresi wajahnya yang kelihatan sekali dibuat-dibuat tampak menderita. Sebentar kemudian ingatanku sudah kembali ke masa lima tahun lalu, ke tempat di mana aku pertama kali bertemu dengannya di taman hiburan ketika aku telah kehilangan ibuku di antara keramaian.

Ya, dia adalah anak laki-laki yang sama dengan yang menolongku menemukan ibuku waktu itu, yang dalam sekejap bisa membuatku langsung mempercayainya. Dia, anak laki-laki itu, adalah kebetulan yang kembali menemuiku dua tahun kemudian dan muncul dalam sosok murid pindahan ke SMPku. Sejak saat itu, dia juga kupercayai sebagai takdir yang dituliskan Tuhan untukku, sebagai penjagaku.

“Ya! Jung Yunho!” Aku berteriak keras-keras ketika sudah menggenggam seikat balon di tanganku. “Semoga kita selalu bahagia, ya!”

***

25 tahun…

“Ya! Kau sudah ingin mati, ya?” Aku meneriaki teleponku dengan jengkel, benar-benar berharap bahwa lawan bicaraku yang kurang ajar di seberang sana akan tuli mendadak karenanya.

“Astaga, tenggorokkanmu tidak sakit apa kalau kau pakai berteriak-teriak begitu?” Yunho menyahut dengan nada prihatin dari seberang.

Aku berdecak. “Jangan banyak bicara. Sekarang kau ada di mana? Kau tahu kalau aku sangat benci menunggu, jadi kalau kau memang tidak berniat untuk menepati janji dan datang ke sini sekarang juga, lebih baik bilang saja,” tukasku tak sabar.

“Ya! Ya! Tunggu dulu, jangan buru-buru marah begitu, dong. Aku sebentar lagi sampai, kok,” kata Yunho cepat-cepat.

Aku memutar mata. “Sebentar lagi itu kapan? Satu jam lagi? Atau dua? Yunho-ya, aku sudah nyaris membeku di sini gara-gara menunggumu selama satu jam. Memangnya kau benar-benar ingin melihatku mati kedinginan, ya?”

“Sebentar lagi, Demi Tuhan. Aku tidak bohong, kok,” ujar Yunho, berusaha terdengar sungguh-sungguh.

“Sebenarnya kau sedang di mana, sih? Dan untuk apa kau memintaku menemuimu di sini?” tanyaku, pada akhirnya memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku di jalan menuju ke tempatmu sekarang. Dan soal kenapa aku memintaku menemuimu di taman hiburan itu, apa kau sudah lupa kalau itu adalah tempat di mana kita pertama kali bertemu?” jawab Yunho.

Aku memajukan bibir. “Ingat, sih. Tapi kenapa harus bertemu di sini? Kau mau mengajakku bernostalgia mengenang masa lalu, ya?”

“Aduh, kau ini cerewet sekali, ya?” komentar Yunho dari seberang. “Diam dan cobalah untuk tenang sebentar. Sekarang, lihatlah ke belakangmu.”

“Memangnya ada apa di belakangku?” Aku bertanya bingung.

“Sudah, turuti saja apa kataku,” ulangnya tegas.

Aku berdecak, kemudian memutar tubuhku ke belakang, dan langsung terkesiap ketika melihat pemandangan di hadapanku. Dia, Yunho, berdiri di sana dengan satu tangan menggenggam ponsel dan menempelkannya ke telinga sementara tangan yang lain menggenggam seikat balon warna-warni, tersenyum lebar padaku, dan kini mulai melangkah pelan-pelan ke tempatku berada.

“Kau jelek kalau bertampang begitu,” ejeknya, masih bicara padaku lewat telepon yang memang belum aku putus.

Aku buru-buru mengatupkan mulutku yang menganga dan menjulurkan lidahku ke arahnya. “Berisik. Kau sedang apa, sih? Mau sok-sok mengejutkanku?”

Dia menyeringai, kemudian berbisik penuh rahasia, “Sebentar lagi kau juga akan tahu.”

Lalu, dia memutuskan sambungan telepon ketika sudah berada tepat di hadapanku.

“Apa?” tanyaku langsung, benar-benar curiga melihat ekspresi wajahnya yang aneh.

Dia tersenyum lebar sekali, sebelum kemudian menyodorkan seikat balon yang digenggamnya padaku. “Ini. Untukmu.”

Aku mengerjap bingung, tapi kemudian melotot selebar-lebarnya ketika melihat benda apa yang ada di ujung ikatan balon itu. Sebuah cincin perak yang berkilauan ditimpa cahaya. “Ini—” kataku, tak sanggup melanjutkannya.

Dia lalu meraih tangan kiriku untuk memasangkan cincin itu di jari manisku. “Karena aku merasa bosan berteman denganmu selama limabelas tahun, makanya hari ini aku melamarmu. Jadi, mau tidak menikah denganku?” tanyanya lambat-lambat, tapi aku tahu dia juga gugup karena tangannya yang menggenggam tanganku rasanya dingin luar biasa.

Aku menelan ludah susah payah. “Yunho-ya, kau—kau serius? Ini…bukan salah satu dari leluconmu, kan?”

Dia memutar mata, kemudian mengacak rambutku dengan gemas. “Untuk apa aku membuat lelucon macam begini, dasar bodoh? Bisa tidak, sih, kau serius sedikit? Aku sudah mau mati, nih, rasanya.”

Kata-katanya membuat tawaku meledak secara otomatis. Mau mati, katanya. Dasar berlebihan.

“Ya, imma! Berikan jawabanmu sekarang juga!” bentaknya, antara jengkel dan salah tingkah.

Aku refleks menutup mulut. Kuusap mataku yang berair lalu berujar, “Aku juga sudah bosan berteman denganmu. Jadi, kenapa tidak?”

Mulut Yunho membulat dan mata coklatnya juga. “Ap-apakah itu berati jawabannya…i-iya?” tanyanya terbata-bata.

Aku nyengir, kemudian mengangguk mantap. “Iya, kebetulan terbaikku. Aku mau menikah denganmu,” kataku mantap.

Yunho tersenyum, kemudian langsung menarikku ke dalam pelukannya, membuatku megap-megap karena nyaris kehabisan nafas. Lagipula, susah sekali kalau dipeluk dengan tangan kiri yang terasa pegal karena harus menahan beban seikat balon seperti ini. “Aduh, aku kehabisan nafas. Jung Yunho, lepaskan aku sekarang juga, ya ampun.”

Yunho tertawa, kemudian buru-buru melepaskan pelukannya. “Maaf, habis aku terlalu senang, sih,” katanya malu-malu. “Eh, tunggu dulu. Tadi itu…kebetulan terbaik—apa maksudnya?” tanyanya kemudian.

Aku, yang sedang sibuk mengagumi cincin di jari manisku, refleks mendongak dan tersenyum ketika melihat ekspresi penasarannya yang lucu. “Kalau itu, sih,” sahutku sambil mengedipkan sebelah mata, “rahasia.”

Yunho melongo.

Aku pun meledak tertawa—karena terlalu bahagia, tentu saja.

 

DING!

 

Iklan
Kamu, Kebetulan Terbaikku

14 pemikiran pada “Kamu, Kebetulan Terbaikku

  1. ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ”̮ soalnya aku suka banget sama konsep MVnya No other, simple but ada story tellingnya jd hafal deh.. “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ oh yaa? Woaaaah (ʃƪ˘▿˘) (ʃƪ˘▿˘) yg book 1 or book 2?

  2. Soalnya cuma ada satu 이성민 di dunia ini.. #apadeh hwhwhwhw~ xDD Aaaaaa~ aku juga suka Yongseo.. (>̯͡⌣<̯͡) ♥ Dua couple yg aku restuin (?) Itu yaa Yongseo sama BumSso,, ​:Dн̲̣̣̣є̲̣̥н̲̣̣̣̥є̲̣̥н̲̣̣̣є̲̣̣̣̥:Dн̲̣̣̣є̲̣̥н̲̣̣̣̥є̲̣̣̣н̲̣̣̣̥є̲̣̥:D

  3. oh, astagah kakak. ini saia meleleh nih sekarang juga. cantik banget ff-nya. beneran deh. saia suka dng scene awalnya, di mana dua pertemuan pertama bisa dijadikan patokan dari kecelakan, tapi kalau terulang kembali… ya, mungkin itu takdir. dan beneran akhirnya manis banget. kak, saia suka banget dng gaya bahasamu. semi-teenlit dan metropop gitu, apalagi pas bagian rajuk merajuknya. ih, gemes deh saia jadinya. endingnya juga lucu, lagi-lagi karakter ceweknya sok songong banget, tapi mau kan akhirnya bareng yunho *siapa kali yang gak mau, seksi gitu* *drooling*
    nice ff deh.

    1. iya itu takdir! kang yuri sama jung yunho emang ditakdirkan buat bersama! *maksa setengah mati*
      duh, tau aja bacaan aku apa. jadi malu hahahaha.
      iya. siapa juga yg ga mau sama si bapak jung? kkk~~~
      thank you for reading and commenting 😀 you are really such a great reader 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s