Untukmu, Lelakiku : Bagian Tujuhbelas

 

Bulan bersaput awan di atas kepalaku suatu malam,

seperti takdir yang enggan memperlihatkan jalan pulang.

Yang seolah memintaku menganggukkan kepala,

kepada jauh yang tak bosan mengajariku untuk mencintainya

—dia, dan waktu yang selalu bertaut jemari dengannya.

Mencintai jauh bukanlah keahlianku, aku memahaminya dari lama.

Buatku, mencintai jauh terlalu absurd, terlalu buram definisinya.

Untukku, mencintai jauh berarti mencintai yang tiada,

mencintai jeda yang tak kelihatan penutupnya.

Nyatanya, bulan bersaput awan malah bilang yang berbeda.

Katanya, mencintai jauh berarti belajar menunggu dengan setia

—sebuah kesetiaan yang paling dalam pemaknaannya,

karena yang disetiai adalah sesuatu yang teramat jauh jangkauannya dari logika.

Tambahnya, mencintai jauh berarti berfantasi;

tentang apa yang akan terjadi di masa depan nanti.

Tak perlu banyak-banyak,

yang penting cukup untuk menguatkanmu ketika bangun di pagi hari,

dan cukup untuk meninabobokanmu ketika akan terlelap sepeninggal matahari.

Mencintai jauh berarti mencoba pelan-pelan menjembatani jarak itu sendiri.

Karena dengan mencintai jauh, kita tak perlu merasa takut ditinggalkan lalu jadi kesepian.

Karena dengan mencintai jauh, kita jadi percaya bahwa dalam setiap langkah pasti terjejak kisah,

hingga tak akan ada ungkapan waktu yang terbuang menyela dalam pikiran.

Bulan bersaput awan juga bilang, bahwa mencintai jauh berarti mencintai tanpa syarat.

Tak perlu ada pengakuan dan tuntutan tentang kepastian,

karena kepercayaan akan keberadaan akan ada dengan sendirinya.

Dan pada akhirnya, bulan bersaput awan membisiku satu hal lagi tentang mencintai jauh :

bahwa sebenarnya, aku harus mencintai jauh dulu sebelum mencintaimu.

Biar cintaku tak buta dan jadi hilang arah.

Biar cintaku setia dan tak ada akhirnya.

Biar cintaku kuat dan tak mampu tercabut akarnya.

Biar cintaku pantas untuk mendapatkan milikmu.

Jadi, beri aku waktu untuk mencintai jauh lebih dulu.

Jangan cemburu, nanti bulan bersaput awan itu jadi tak mau berteman denganku.

Karena dia bilang, kalau aku bisa mencintai jauh seperti apa yang diajarkannya kepadaku,

dia akan meminta awan untuk menyingkir dari tubuhnya dan menghadiahkan sinarnya untukku,

sebagai jawaban atas takdir yang dititipkan Tuhan untuk membuatku menunggu—

jalan pulangku kepadamu…

 

Salam,

Wanitamu.

Iklan
Untukmu, Lelakiku : Bagian Tujuhbelas

2 pemikiran pada “Untukmu, Lelakiku : Bagian Tujuhbelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s