The Missing Place (Yunho Vers.)

Title : The Missing Place (Yunho Vers.)

Author : Yuridista

Genre : Friendship, romance, yaoi

Casts : U-know Yunho, Max Changmin

Rating : G

BGM : Still-THSK

***

Itu adalah detik di mana aku tengah bersiap-siap kembali ke panggung setelah jeda ketika Changmin mendekatiku dengan tampang khawatir untuk kemudian berbisik pelan seraya meremas bahuku, “Hyung, Jae-hyung sakit.”

Detik itu juga lututku lemas dan rasa dingin mulai melingkupi udara di sekitarku. Aku menelan ludah. “Sakit…apa?” Aku menguatkan diri bertanya, sebisa mungkin tidak memikirkan kemungkinan terburuk apa saja yang bisa terjadi pada Jaejoong.

“Aku tidak tahu. Coordi-noona hanya bilang sekilas tentang Jaejoong-hyung harus istirahat di rumah karena sakit. Kurasa dia stres, Hyung. Kau tahu, dengan semua masalah yang menimpa mereka bertiga,” Changmin berujar dalam nada bersimpati yang tidak lagi berusaha ditutup-tutupinya.

Aku mengusap wajahku. “Kematian ayah Yoochun mungkin juga mengguncangnya,” gumamku sedih, “Belum lagi soal sasaeng dan masalah-masalah lain yang tidak kita tahu. Dia mungkin sudah tidak bisa menahan dirinya lagi…”

Changmin mengangguk, kemudian menepuk pelan bahuku. “Temui dia, Hyung. Kita tahu dia pasti sangat membutuhkanmu.”

Aku terkesiap. “Itu tidak mungkin. Kita masih punya jadwal di sini, lalu di Hongkong. Kau tahu menemuinya bukan perkara semudah itu,” tukasku, tiba-tiba merasa seperti habis ditonjok ketika menyadari betapa nyatanya ketidakmungkinan bertemu Jaejoong yang kuucapkan dalam kata-kataku.

“Paling tidak, hubungi dia. Aku sudah muak dengan semua larangan untuk tidak berhubungan dengan JYJ. Seseorang harus menghentikan kekonyolan ini, Hyung. Dan jika bukan kau, maka aku yang akan melakukannya,” Changmin berkata, menatapku dengan sepasang mata menyala-nyala.

Aku menggeleng tidak setuju atas kata-katanya. “Aku bukannya tidak mau melakukannya, Changmin. Aku hanya…tidak bisa melakukannya.”

“Kenapa tidak bisa?” tuntut Changmin. “Apa karena kau takut Jae-hyung akan menolakmu?”

“Changmin, bukan—”

“Hyung,” Changmin mengangkat tangan untuk memotong ucapanku. “Kita semua tahu kaulah orang yang paling dicintai Jae-hyung dalam hidupnya, bahkan melebihi keluarganya. Sebrengsek apa pun kau, dia akan tetap mencintaimu seperti itu.”

Aku mengerjap gugup menyadari kebenaran kata-kata Changmin. “Aku tidak tahu kau sekarang jadi Yunjae-shipper juga. Yoochun pasti akan senang mengetahuinya,” ujarku, meringis untuk mencairkan ketegangan di antara kami berdua.

Changmin memutar matanya, jelas sekali tidak terkesan dengan leluconku yang payah. “Kita bicara lagi setelah closing. Tapi aku tidak akan menarik lagi kata-kataku soal kau harus menghubungi Jae-hyung. Kau tahu kau tidak akan pernah bisa menang kalau berdebat denganku, Hyung,” kata Changmin seraya memberiku seringaian lebar sebelum menarik tanganku untuk kembali ke panggung konser kami.

***

Usai konser, aku terduduk di tepi ranjang kamar hotelku dengan satu tangan menggenggam ponsel dan tangan yang lain memijat-mijat pelipis. Aku tengah menimbang-nimbang untuk menghubungi Yoochun dulu—mengucapkan belasungkawa dan permintaan maaf karena tidak bisa datang ke pemakaman ayahnya—sebelum menghubungi Jae, ketika aku merasa punggungku di tepuk perlahan dari belakang.

“Hyung,” Changmin berbisik, kemudian ikut duduk di tepi ranjang di sampingku.

Aku menoleh untuk memandangnya. “Hei. Aku tidak mendengarmu membuka pintu.”

Changmin mengangkat bahu sekilas. “Kau terlalu sibuk melamun,” katanya. “Jadi, sudah menghubungi Jae-hyung?” tanyanya kemudian.

Aku menggeleng sekali. “Sebenarnya aku sedang menimbang-nimbang untuk menelepon Yoochun dulu. Kau tahu, untuk sedikit menghiburnya. Aku melihat fotonya dan Junsu barusan di internet dan mereka berdua tampak benar-benar kacau. Dengan pipi tirus dan mata bengkak dan sebagainya, aku benar-benar khawatir dengan keadaan mereka,” jelasku panjang lebar.

Changmin mengangguk, tampak setuju dengan kata-kataku. “O. Kau benar. Tapi sebaiknya tidak malam ini, Hyung. Aku yakin Yoochun-hyung masih sangat sedih, jadi kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk menghubunginya. Maksudku, kita tidak akan bisa mengira bagaimana reaksinya. Lebih baik hubungi Jae-hyung dulu, dia lebih membutuhkanmu.”

“Menurutmu…begitu?” tanyaku, mendadak merasa gugup karena harus menghubungi Jaejoong lebih dulu.

Changmin mengangguk lagi. “O. Tentu saja.”

“Kau yakin?”

“Aku seratus persen yakin, Hyung. Percayalah, dia tidak akan menolakmu,” Changmin berkata meyakinkanku.

“Kalau begitu baiklah. Aku akan meneleponnya sekarang,” aku berujar pelan, kemudian menekan tombol angka 2 di ponselku—tombol speed dial untuk Jaejoong.

Nyatanya, tidak ada jawaban atas teleponku.

“Mungkin dia sudah tidur,” kata Changmin berusaha menghiburku ketika aku memandangi layar ponselku dengan putus asa setelah percobaan gagalku yang kelima.

“Entahlah, Changmin-ah. Aku rasa mencoba menghubunginya bukanlah ide yang bagus,” aku menjawab seraya melemparkan diriku sendiri ke ranjang.

“Kau salah, Hyung. Justru inilah yang harus kau lakukan untuk memperbaiki hal-hal yang rusak di masa lalu. Aku tahu kau menderita karena kehilangan Jae-hyung, jangan coba-coba membohongiku. Kau juga sakit, sama seperti dia. Jadi berhentilah bilang tidak padaku dan lakukan saja apa kataku,” tukas Changmin, kemudian menyodorkan ponselku ke depan wajahku.

“Apa?” tanyaku tak mengerti.

“Tinggalkan pesan penghiburan untuknya,” ujar Changmin tegas.

Aku mengangkat alis. “Maksudnya pesan singkat?”

“Iya. Cepatlah, Hyung,” Changmin menyahut tak sabar.

Aku berdecak kemudian meraih ponselku dari tangannya. “Baiklah, dasar kau bocah tukang paksa,” rutukku jengkel, tapi toh tetap melakukan apa yang diperintahkannya.

“Sudah?” Changmin bertanya setelah aku selesai mengetikkan pesan singkat untuk Jaejoong.

Aku mengangguk. “Setelah ini apa?”

“Setelah ini…berdoalah agar besok harimu jadi lebih indah lalu pergilah tidur. Jadwal kita besok sangat padat, Hyung,” katanya, kemudian bergegas bangkit dari tepi ranjangku. “Jangan cemberut, kau kelihatan jauh lebih tua kalau cemberut,” tambahnya jahil, lalu buru-buru lari keluar dari kamarku sebelum aku sempat melemparinya dengan bantalku.

***

Jaejoongie, aku tahu kau sedang sakit. Semua orang di sekitarku membicarakan tentangmu, dan aku benci mendengarnya karena mereka membuatmu kedengaran seperti orang yang sudah hampir mati. Tentu saja, kau tidak mengalami hal seburuk itu, kan?

Jae, maafkan aku karena telah menjadi orang paling pengecut dan bodoh yang pernah kau kenal. Maaf karena tidak bisa berada di sampingmu di saat-saat terburukmu. Maaf karena harus membuatmu melindungi Yoochun dan Junsu sendirian. Maaf karena tidak mampu melepaskanmu tapi malah meninggalkanmu. Maaf, karena aku masih mencintaimu tapi tidak bisa memperjuangkannya seperti yang seharusnya…

Aku tidak tahu lagi harus bilang apa. Tapi aku harap kau cepat sembuh. Kau tidak boleh sakit. Kau harus selalu tersenyum. Kau tahu aku dan Changmin paling benci melihatmu sakit. Yoochun dan Junsu pasti juga membutuhkanmu. Jadi, cepatlah kembali. Setidaknya dengan begitu aku tahu kau masih baik-baik saja.

Jangan menyerah, ya, Kim Jaejoong!

p.s : Aku mencoba meneleponmu tadi, tapi tak ada jawaban. Kuharap itu bukan karena kau tidak mau menjawabnya.

p.s.s : Aku merindukanmu. Sangat.

 

DING!

 

Iklan

6 pemikiran pada “The Missing Place (Yunho Vers.)

  1. The Missing Place, paling suka sama versinya yunho.
    enggak ngerti mau ngomennya gimana, tapi pas baca semua versinya paling berasa pas baca versinya yunho u,u
    yang versi lainnya agak kurang dalem, kurang panjang apa ya? hm

    1. hiyaaaa~ akhirnya, ada juga yg ngertiin perasaan abangku ini u.u
      makasih yaa dek hehehe 🙂
      iya, maybe karena aku juga ga bisa mendeskripsikan perasaan yg lain dg baik, mungkin juga kurang pjg…
      eniwei, i love your comment xD

  2. saia g-galau… beneran deh. ini ff sesuatu sekali. pas sekarang lagi demen sekali bernostalgia dng tvxq, mampir ke blog kakak. castnya rata-rata berbau yunjae dan para tvxq lainnya, terus baca ff ini. aduh, saia kerasa banget ini… ini momen di mana tvxq pecah jadi jyj dan homin terus lagi bersitegang banget sama sm ent.
    saia suka banget galaunya yunho. dia bilang dia pengecut. aduh, saia ngebayangin dia nangis dalam bisu. di pinggir kasur remang-remang, tapi sebagai adik changmin juga keren. entah deh. saia kehabisan kata buat memuji ff kakak. keren sekali.

    1. hahaha jangan galau dong adek :pp
      iya emang ini blog isinya yunjae semua. sampe bosen kayanya readernya ga ada yg lain -_________-*
      kya kya~~~ sungguh kamu paham bgt gimana perasaan aku pas nulis ini. lagi pengen2nya tvxq balik berlima, eh kok kayaknya malah makin banyak aja masalah yang bikin mereka tambah jauh u.u
      jangan sampe abis dong kata2nya, ntar kamu ga main ke sini lagi kalo gitu huhu u.u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s