Untukmu, Lelakiku : Bagian Limabelas

Hei, Kamu.

Hidup rasanya berjalan terlalu lambat akhir-akhir ini di duniaku.

Dengan hal yang itu-itu saja, rasanya aku seperti naik komidi putar—berpusar dalam lingkaran sempit tak putus-putus.

Ketika aku bangun di pagi hari, yang terlintas dalam pikiranku adalah bagaimana caranya mengakhiri hari itu dengan cara yang paling cepat dan gampang.

Dan jujur saja, segalanya akan jauh lebih mudah jika aku bisa melakukannya dengan hanya berbaring di ranjang sepanjang hari seperti zombie.

Yah, paling tidak aku tidak perlu kehilangan energi terlalu banyak.

Kamu,

katakan padaku kenapa aku tak bisa mencintai kota ini, seperti aku mencintaimu, bahkan ketika aku belum diijinkan mengeja namamu.

Kenapa aku tak bisa mempercayai kota ini, seperti aku mempercayai eksistensimu, bahkan ketika aku belum diijinkan melihat bayanganmu.

Kenapa aku tak bisa berteman dengan kota ini, seperti aku yang berteman dengan rasa rinduku untukmu.

Dan kenapa aku tak bisa bilang pada diriku sendiri untuk bersabar dengan kota ini, seperti yang aku lakukan terhadapmu—bersabar menunggumu datang padaku.

Katakan padaku, Kamu.

Apakah ada yang salah denganku? Atau salah satu bagian tubuhku?

Ataukah memang begini yang harusnya terjadi—ketika sebuah perasaan memang tak pernah bisa dipaksakan sejak dari mulanya?

Kamu,

pernahkah kau merasakan hal yang sama seperti aku?

Perasaan ketika kau menyentuh hatimu dan tahu bahwa ada yang salah di dalam sana,

dan waktu kau menyadarinya, hatimu sudah bolong—kosong melompong.

Perasaan ini menghilangkan apa saja selain rasa rindu sinting yang mengerikan dan tidak bisa ditangguhkan.

Aku rindu pulang, Kamu.

Dan sepertinya kali ini aku tak bisa memutuskan harus melakukan apa.

Well, aku bahkan tak mengerti bagaimana tepatnya aku harus menjelaskannya.

Bahkan kepadamu, yang aku tahu pasti akan memahami aku tanpa perlu bicara.

Menurutmu, apakah aku sudah gila?

Kamu,

maafkan aku karena malam ini aku mengganggumu dengan baris-baris penuh rengekkan dalam setiap kataku.

Kalau Tuhan sempat menyampaikan ini padamu, jangan marah dan berbalik dariku, ya.

Dan jangan berubah pikiran—kau harus tetap berjalan untuk menemukanku.

Karena mungkin, aku dan perasaanku yang absurd dan tak terdefinisikan ini, cuma kamu yang bisa mencukupkannya.

 

Salam,

Wanitamu.

 

Iklan
Untukmu, Lelakiku : Bagian Limabelas

4 pemikiran pada “Untukmu, Lelakiku : Bagian Limabelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s