[#FFHore] Cinta Itu Menyembuhkan

Aku meletakkan cangkir berisi chamomile tea yang sudah kuminum setengahnya ke meja di hadapanku dengan perlahan. “Jadi, apa yang sebenarnya telah membuatmu berubah pikiran?” kataku, mengangkat wajah untuk memandang perempuan bertampang kusut yang duduk di hadapanku.

“Banyak. Akan jadi panjang ceritanya kalau aku harus menyebutkannya satu-satu,” ujarnya seraya mengangkat bahunya acuh tak acuh.

“Aku tahu kamu tidak pernah gampang berubah pikiran, apalagi kalau sudah menyangkut prinsip. Dan juga, bukankah ini jauh lebih penting daripada prinsip? Ini soal eksistensi diri, kan?” desakku tak mau menyerah.

Perempuan di hadapanku berdecak, kemudian tawanya berkumandang. “Apa kamu sadar kalau kamu itu terlalu naif untuk ukuran seorang laki-laki, Bi?” tukasnya sarkastik. “Dengar, di dunia nyata, segala sesuatu tidak selalu akan berjalan sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Dunia nyata itu kejam, Bi. Dan aku, temanmu yang paling cantik ini, adalah satu dari milyaran manusia penghuni dunia ini yang sudah merasakan sendiri kekejamannya,” lanjutnya ringan, namun aku bisa melihat kegetiran terpancar dari sepasang mata coklat keemasannya.

“Apa ini karena ayah dan ibumu? Apa mereka yang membuatmu menyerah?” Aku bertanya lagi, memilih mengabaikan segala petuahnya tentang dunia yang kejam tadi.

Perempuan itu meringis, kemudian berujar datar, “Begini-begini, aku tetap seorang anak, Bi. Perempuan, tunggal pula. Akan sangat tragis rasanya kalau anak seperti aku memilih untuk kabur dari rumah dan meninggalkan orangtuaku hanya untuk menjemput kebahagiaanku sendiri. Agak kedengaran seperti Malin Kundang, eh?”

“Setidaknya Malin Kundang lebih berani mengambil resiko daripada kamu,” sahutku setengah bercanda.

Dia memutar mata. “Berani mengambil resiko hanya untuk berakhir menjadi patung batu di pinggir pantai? Kalau aku, sih, maaf-maaf saja, ya, Bi.”

Tawaku berderai. “Oke. Kalau begitu, kamu memilih bertahan demi orangtuamu? Berusaha menyembuhkan dirimu sendiri?” kataku, mencoba bertanya serius lagi.

“Sembuh?” Dia mengangkat sebelah alisnya. “Memangnya apa yang kamu pikir bisa menyembuhkan aku?” tanyanya to the point.

Deg. Jantungku langsung mencelos mendengar pertanyaannya barusan. Aku menelan ludah, tiba-tiba jadi gugup luar biasa. Kuraih lagi cangkir tehku dan kusesap dua kali sebelum meletakkannya kembali, sengaja mengulur-ulur waktu sebelum menjawab pertanyaan perempuan ini barusan.

“Bi?” Dia menegur, ekspresi wajahnya tampak tak sabar.

Aku berkedip, berdeham sekali, sebelum berujar mantap, “Cintaku. Cintaku yang akan menyembuhkan kamu, Di.” Akhirnya. Pertanyaan yang lama tertahan di dalam hatiku terucap juga.

Untuk sesaat Dinara, nama perempuan di hadapanku ini—sahabat sekaligus cinta diam-diamku sejak lima tahun lalu, hanya tertegun menatapku. “Bi? Kamu…nggak lagi teler, kan?” katanya, pada akhirnya bisa bersuara.

Aku menyeringai meski jantungku masih berpacu terlalu cepat. “Lelucon bagus, Di. Tapi, sayangnya enggak, tuh.”

Mulut Dinara membulat sempurna. “Kamu yakin? Kamu nggak lupa, kan, kalau aku ini lesbian?”

Aku tersenyum, kemudian sebelah tanganku terulur untuk meraih jemarinya yang kini telah berada di atas meja. “Aku tahu ini nggak gampang, karena seperti yang aku bilang tadi, ini masalah eksistensi diri. Tapi aku tahu aku pasti bisa, kok. Aku, kan, best man kamu. Jadi, mau terima cintaku yang menyembuhkan?” ulangku sekali lagi.

Dinara mengusap wajahnya sebelum balas meremas tanganku dengan lembut. “Bisa…kita mulai dengan masa percobaan dulu?” sahutnya dengan nada jenaka.

Aku tersenyum sumringah. Kurasa, itu berarti iya, kan?

 

DING!

 

 

Iklan
[#FFHore] Cinta Itu Menyembuhkan

6 pemikiran pada “[#FFHore] Cinta Itu Menyembuhkan

  1. eh, busyet deh.. unnie yg satu ini, critanya susah d tebakk..
    salut deh, pnya sgudang cerita kreatif d kepalany..

    ayo, posting lg unnie..
    #skrangAkuYgMaksa
    hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s