Haruskah Kita…?

 

Title : Haruskah Kita…?

Author : Yuridista

Genre : Fluff, yaoi

Pairing : Homin

Rating : PG

***

Ada hal-hal yang berubah tentang Changmin yang tidak disadari oleh Yunho, sebelum ia duduk di samping lelaki yang lebih muda darinya itu hari ini dan memandanginya bicara kepada puluhan wartawan di hadapan mereka dengan gaya bicara formal dan terpelajarnya yang biasa.

Changmin memang masih terlihat terlalu kurus di matanya, dengan pipi tirus dan rahang yang sekarang tampak semakin menonjol keluar. Dia juga masih menutup mulutnya ketika tertawa, sesuatu yang menurut Yunho membuat lelaki itu sedikit kelihatan seperti jenis gadis pemalu yang selalu melakukan hal yang sama setiap kali tertawa, meski kadang-kadang Yunho juga berpikir bahwa Changmin melakukannya hanya karena dia tidak percaya diri dengan bentuk bibirnya yang sedikit terlalu lebar.

Lebih dari itu semua, sampai pagi tadi Yunho masih melihat Changmin dengan cara yang sama dengan sembilan tahun lalu, ketika dia pertama kali melihat lelaki itu memasuki ruang latihan menari di kantor manajemen mereka. Baginya, Changmin yang sekarang tetaplah seorang bocah kecil sombong dan arogan yang tidak pernah hidup susah sedetikpun, tapi juga sangat keras kepala dan tidak mau mengalah dan selalu bersikap menjengkelkan kepada orang-orang di sekitarnya, terutama yang berjenis kelamin wanita.

Tapi, rupanya ada banyak hal yang terlewatkan oleh Yunho, entah sejak kapan.

Dia terkejut ketika menyadari bahwa kombinasi wajah tirus Changmin dan potongan rambutnya yang dibentuk sedemikian rupa hingga bagian depannya jatuh menutupi mata memunculkan aura maskulin tak biasa yang selama ini tersamarkan oleh kelakuan kanak-kanaknya, dan aura maskulin itu menyentak Yunho akan fakta tak terelakkan bahwa Changmin-nya bukanlah Changmin yang dulu.

Yunho juga menyadari bahwa ketika Changmin bicara, jakunnya akan bergerak-gerak dan entah kenapa dengan begitu Changmin tidak lagi terlihat seperti jenis gadis pemalu, bahkan ketika dia menutupi mulutnya dengan tangan ketika tertawa.

Dari samping Yunho juga bisa melihat butir-butir keringat yang menetes dari pelipis Changmin lalu turun ke pipinya, kemudian ke lehernya, dan itu membuatnya jadi terlihat lebih…seksi. Astaga, dia berpikir Changmin seksi dan jantungnya bahkan berdetak dengan kecepatan lebih daripada biasanya ketika memikirkan itu.

Lalu tiba-tiba saja Changmin sudah menoleh ke arahnya, memberinya pandangan bertanya-tanya dengan kening berkerut bingung, seolah sedang memberitahunya tanpa suara bahwa tampangnya sekarang benar-benar aneh. Yunho mengerjap, kaget karena merasa ketahuan telah memandangi Changmin lama-lama, lalu buru-buru mengalihkan tatapannya dari lelaki itu untuk menyembunyikan wajahnya yang mungkin telah berubah merah.

“Hyung. Giliranmu.” Dia mendengar Changmin berbisik seraya melayangkan cubitan ringan di pinggangnya, yang alih-alih membuatnya nyeri justru memunculkan sensasi menekan yang aneh di sekujur tubuhnya.

Yunho mengangkat kepala, mencoba sebisa mungkin untuk mengembalikan fokusnya karena tahu sekarang giliran dia yang menjawab pertanyaan para wartawan. Tapi sial. Usahanya langsung gagal karena dia mendengar suara Changmin yang tengah meneguk air mineralnya dengan berisik di sampingnya, dan itu langsung membuat Yunho membayangkan hal yang tidak-tidak. Yunho menghela nafas, mengedip beberapa kali pada puluhan kamera di hadapannya, sebelum kemudian berujar dengan suara serak, “Jadi, mari kita bahas soal album Tone kami yang baru saja beredar di pasaran…”

Diam-diam, Yunho berharap acara press-conference ini segera berakhir saja.

***

Yunho tidak tahan lagi. Beberapa menit setelah acara press conference itu berakhir, dia memaksakan diri mendekati Changmin di tengah-tengah kerumunan bodyguard dan wartawan yang mengelilingi mereka di koridor dalam perjalanan menuju kamar hotel mereka. “Changmin-ah…” bisiknya, memajukan kepalanya agar suaranya bisa benar-benar terdengar oleh Changmin.

“Hmm?” Changmin menyahut, memiringkan sedikit kepalanya ke arah Yunho sambil tetap memasang senyum untuk setiap kamera yang berkedip ke arahnya.

Yunho menelan ludah dengan gugup. “Kau…seksi sekali tadi,” dia berkata dengan suara yang amat sangat rendah. “Ng…haruskah kita tidur sekamar saja malam ini?” lanjutnya, yakin bahwa mukanya sudah benar-benar merah sekarang.

Yunho bisa merasakan bahu Changmin menegang di bawah dagunya dan telinganya memerah tiba-tiba. Kemudian, Changmin bergumam dalam bisikan rendah yang sama, “Kurasa itu…ide yang bagus, Hyung.”

Dan ketika Yunho menjauhkan kepalanya dari bahu Changmin, dia tahu bibirnya akan kram karena terus-menerus tersenyum sepanjang sisa hari ini.

DING!

Iklan

16 pemikiran pada “Haruskah Kita…?

  1. kyaaaaaaaaaa love u author *cipoks basah* wkwkwk
    saya bukan homin shipper, tapi saya dbsk shipper..
    hehe
    jadi mau siapapun pairingnya asal g keluar dbsk.. I LOVE IT!!!
    lanjuuutt :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s