Sang Pejuang

“Ibu heran, deh. Untuk apa, sih, mahasiswa-mahasiswa itu terus-terusan demo di jalanan? Nggak capek apa, ya? Toh, sampai sekarang harga BBM masih mahal, teroris masih banyak, gaji anggota dewan juga masih selangit. Ealah, Gusti…”

Aku tersenyum sendiri mengingat kata-kata Ibu saat kami sedang nonton acara berita di televisi berdua, kira-kira setahun yang lalu, saat aku masih kelas 3 SMA. Ibuku memang agak-agak anti dengan yang namanya mahasiswa berdemo. Bagi beliau, mahasiswa itu ya harusnya kuliah yang rajin, lulus tepat waktu, dan dapat perdikat cumlaude. Aku jadi bertanya-tanya apa yang akan dikatakan oleh beliau jika melihatku ada di telivisi saat ini : berdiri dengan mengenakan jaket almamater kebanggaanku, dua tangan terangkat di atas kepala sambil memegangi spanduk bertuliskan “ANGGOTA DPR SIBUK MAKAN UANG RAKYAT” yang dibold dengan spidol merah tebal-tebal, dan sibuk berteriak-teriak bersama ratusan mahasiswa lainnya di depan Gedung DPR. Pasalnya, ada banyak sekali wartawan media cetak yang berseliweran di sekitarku sekarang, sibuk menjepretkan kameranya untuk mendapatkan gambar terbaik agar layak dijadikan headline besok pagi. Belum lagi para presenter berita yang berdiri tak jauh dari tenpatku berteriak-teriak tentang rakyat dan keadilan, melaporkan secara langsung tentang aksi mahasiswa yang berlangsung saat ini. Apakah ibuku juga akan menggumamkan kata-kata bernada prihatin seperti biasanya? Atau hanya akan mengelus dada saking speechlessnya? Ah, lagi-lagi mengingat ibuku membuatku tersenyum sendiri.

***

Kalau mau mundur ke belakang dan menganalisa sebentar, alasanku memilih jadi mahasiswa yang rajin ikut aksi turun ke jalan sebenarnya bukan murni karena keinginan sendiri. Alasanku memilih menjadi mahasiswa yang tidak sesuai dengan anggapan ibuku adalah karena dia. Ya, dia yang selama hampir setahun ini diam-diam ku jadikan sebagai motivator pribadiku. Dia yang ku anggap sukses menjadi mahasiswa berprestasi versiku. Dia, seniorku di kampus, seseorang yang bernama Muhammad Raka Pradipta.

Kak Raka, begitu aku biasa menyebutnya. Dia adalah ketua BEM fakultasku, sekaligus penulis yang sangat berbakat. Kak Raka adalah seorang aktivis kampus. Sudah tak terhitung banyaknya aksi turun ke jalan yang dia ikuti selama dua tahun lebih menjadi mahasiswa. Tulisan-tulisan kritisnya mengenai berbagai permasalahan negara juga sudah sering diterbitkan oleh beberapa media cetak di dalam maupun di luar lingkungan kampus. Kak Raka juga aktif di lembaga dakwah kampus. Singkatnya, di adalah sosok yang nyaris sempurnya untuk menjadi seorang teladan, seseorang yang pantas diikuti jejaknya.

Mengagumi Kak Raka telah menjadi semacam hobi baru bagiku. Melihatnya berorasi ketika aksi, mendengarkannya bicara ketika rapat organisasi, menertawakan lelucon konyol yang dibuatnya, memenuhi buku harianku dengan namanya, mengapresiasi tulisan-tulisannya, dan sibuk memujinya setinggi langit di hadapan teman-temanku sudah menjadi kegiatan rutinku, nyaris setiap hari. Aku suka dia, jika kau kepengin tahu. Dan menyukai Kak Raka adalah hal yang istimewa bagiku.

***

“Kay, lo nggak ikut kajian hari ini?” tanya Diandra, salah seorang sahabat dekatku di kampus. Saat itu kami berdua sedang berjalan menuju kelas Biologi sambil sibuk makan es yoghurt.

“Kajian apa emang?” sahutku, memandangnya ingin tahu.

“Elo sih, kemaren pake nggak masuk segala. Kajian di mushola. Temanya kalo nggak salah tentang niat. Yang ngisi abang tersayang lo, tuh,” jawabnya, sekarang cengar-cengir menggodaku.

Aku mengerutkan kening. “Kak Raka?” tanyaku polos.

Diandra memberikan pandangan plis-deh-kay-emang-siapa-lagi-abang-tersayang-lo? kepadaku sebelum berujar dengan tak sabar, “ Iyee. Ntar abis dhuhur.”

Aku tertawa seraya menyahut, “ Asik. Thank’s, ya, honey bunny sweety udah ngasih tau gue.”

Diandra hanya memutar bola matanya.

***

“Kawan-kawan semua, ada satu hal penting yang wajib kita lakukan sebelum melakukan sesuatu. Hal yang wajib itu adalah meniatkannya. Niat di sini bukan sembarang niat, melainkan niat yang benar-benar tulus, niat yang benar-benar ditujukan buat kebaikan. Niat itu harus dibuat dibuat nggak semata-mata karena ikut-ikutan teman, karena ingin membuat orang lain senang, atau bahkan hanya karena kita kepengin punya kegiatan, saking bingungnya harus melakukan apa. Niat itu krusial sekali, Kawan-kawan. Niat yang nggak bener bisa bikin kita terjerumus dalam hal-hal yang nggak baik. Niat yang nggak bener bisa bikin kita jauh dari pahala, dari tujuan awal yang sebenarnya sangat mulia. Nah, kalian semua tentunya nggak mau, kan, kalau ternyata semua hal yang kalian lakukan jadi sia-sia hanya karena niat yang nggak pas? Jadi, di sini saya hanya ingin mengingatkan kepada kawan-kawan semua, luruskan niat kalian. Dan jangan lupa untuk memperbaharuinya setiap hari agar tetap fresh dan nggak melenceng. Tetap semangat, Kawan-kawan. Selamat berjuang!”

***

Kalimat-kalimat Kak Raka yang diucapkannya saat kajian tadi siang benar-benar jadi pelajaran buatku. Niat yang baik adalah niat yang lurus. Ya, selama ini aku melakukan banyak hal seringkali hanya karena mengagumi Kak Raka. Aku ikut organisasi, aku ikut aksi ini-itu, aku ikut lomba menulis di sana-sini, semuanya karena Kak Raka. Karena aku ingin dia melihatku dan berkata bahwa aku hebat, bahwa aku tidak sama seperti gadis-gadis lain yang mengaguminya tapi tidak melakukan apa-apa selain sibuk cekikikan dan berebutan menyapanya dengan gaya yang menurutku berlebihan setiap kali dia lewat di hadapan mereka. Sekarang, saat aku sedang mencoba memahami semuanya lebih dalam lagi, aku tahu niatku bahkan tidak lebih baik dari gadis-gadis itu.

***

Hari ini, 10 November 2011, aku ikut aksi turun ke jalan lagi. Kali ini dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. Aku membawa gulungan spanduk yang bertuliskan “Di Mana Kami Bisa Menemukan Pahlawan Indonesia Sejati?” di tangan kananku. Kak Raka berjalan beberapa meter di depanku, tangannya menenteng toa yang akan digunakan untuk berorasi nanti, sedangkan kepalanya diikat dengan slayer ungu khas fakultasku, tampak bersemangat sekaligus berwibawa. Oke, aku memang telanjur menyukainya. Tapi sejak mengikuti kajian tentang niat tempo hari, aku mencoba belajar untuk tidak melakukan segala sesuatu hanya karena ingin “dilihat” oleh Kak Raka. Aku ingin melakukannya karena aku ingin berkontribusi untuk negara, dan bukan hanya akan menjadi mahasiswa seperti yang diinginkan oleh ibuku.

***

Masih 10 November, 2011…

Sudah dua jam aku berdiri di sini bersama ribuan mahasiswa lainnya dari seluruh Indonesia, berteriak sambil mengacungkan spanduk di atas kepala, menggemakan keadilan dan kebenaran untuk rakyat. Suasana mulai memanas. Polisi sibuk mendorong-dorong mahasiswa yang berada di barisan depan yang mencoba menembus gerbang istana negara. Sekilas aku sempat melihat Kak Raka berada di antara mahasiswa-mahasiswa itu. Aku mengenalinya dari slayer yang dikenakannya di kepala, slayer yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dipakai dan dicuci. Mahasiswa yang berada di barisan tengah, termasuk aku, kini bersama-sama menyanyikan lagu-lagu perjuangan pembakar semangat, khas mahasiswa. Kami sedang meledak oleh semangat. Kami di sini membawa amanah rakyat. Kami di sini, bersama-bersama, berjuang dengan niat. Niat untuk menjadikan negara ini lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi.

“Dor!” aku menoleh cepat mendengar suara itu. Suara tembakan pistol. Aku berusaha mencari sumbernya, tapi terlalu sulit karena keadaan tiba-tiba menjadi sangat kacau dan tidak terkendali. Orang-orang di sekitarku mulai berlarian ke sana-kemari, sibuk melindungi diri. Jaket-jaket almamater berbagai warna kini tampak seperti siluet pelangi yang berkelebatan di mataku. Aku masih berdiri di tempatku, bingung harus melakukan apa.

Lalu aku melihatnya, tergeletak di antara kaki-kaki yang bergerak terlalu cepat di sekelilingnya. Jaket almamaternya sudah basah oleh darah. Wajahnya pucat dan penuh keringat. Bibirnya membiru. Tapi aku masih menangkap sinar menyala dari matanya, mata yang tersulut api semangat untuk berjuang sampai akhir. Mata seorang Muhammad Raka Pradipta. Aku bergidik ngeri sekaligus terpesona. Buru-buru ku langkahkan kakiku untuk mendekat padanya. Namun, baru sejengkal tanganku sudah ditarik lagi ke arah berlawanan oleh seseorang, yang belakangan ku kuketahui adalah Fahri, teman sefakultasku. Aku meronta, tapi dia mencengkeram lenganku lebih kuat sambil mendesis, “Tidak ada waktu lagi. Polisi sudah kalap. Kita harus cepat pergi dari sini.” Aku terdiam dan menoleh ke belakang sekali lagi, melihat wajah motivator pribadiku untuk terakhir kalinya. Aku menjauh, dan dia semakin tidak terlihat. Aku menangis tanpa suara.

***

“Kay, kamu nggak kenapa-kenapa kan, Nak?” suara ibuku di ujung telepon terdengar sangat cemas.

Aku menggeleng lemah. Sadar ibuku tidak bisa melihatku, aku buru-buru menjawab, “Kayla nggak kenapa-kenapa, Bu. Kayla baik-baik saja.”

Aku bisa mendengar hembusan nafas lega ibuku. “Ibu khawatir sekali. Tadi ibu sempat lihat kamu ada di tivi. Terus polisi mulai nembak-nembak nggak karuan. Ibu takut kamu kenapa-kenapa, Nak,” kata beliau panjang lebar. “Lain kali nggak usah ikut demo lagi ya, Nak? Ibu nggak tenang mikirin kamu. Kamu belajar aja yang bener, nggak usah ikut-ikutan temen-temen kamu yang lain,” Ibuku mencoba menasehatiku.

“Maaf, Bu. Tapi Kayla akan tetap ikut aksi. Kayla nggak mau jadi mahasiswa yang cuma mikirin diri sendiri. Kayla pengen berjuang buat rakyat. Itu berarti Kayla berjuang buat Ibu, Ayah, Bumi, dan Lana juga, kan?” ujarku lembut, menolak bujukan ibuku.

“Tapi, Nak, demo begituan kan nggak aman. Kamu nggak kapok? Nggak takut kejadian kayak hari ini bakal terulang lagi?” kata ibuku, masih tetap teguh pada pendiriannya.

Refleks aku teringat pada Kak Raka dan matanya yang menyala-nyala penuh semangat. Karenanya aku menjawab mantap, “Kayla nggak takut, Bu. Itu resiko yang harus Kayla terima kalau pengin jadi seorang pejuang.”

***

Langit berwarna biru cerah penuh awan dan matahari bersinar dengan agak berlebihan, sangat kontras dengan suasana pemakaman kali ini. Aku berdiri di antara Diandra dan Cynthia, setengah mati berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata, berebut untuk keluar. Ini pertama kalinya aku mengenakan jaket almamaterku lagi setelah aksi berdarah tempo hari. Bersama ratusan pelayat lain yang sebagian besar adalah mahasiswa, aku memandangi pusara Muhammad Raka Pradipta yang tanahnya masih basah dengan tatapan kosong. Diandra sibuk menepuk-nepuk bahuku, menenangkanku tanpa kata-kata. Cynthia berulangkali membisikkan kata-kata penyemangat di telingaku. Aku tersenyum getir, kemudian melangkah maju untuk ikut menaburkan bunga di atas makam motivator pribadiku. Dia telah pergi. Aku mengulang-ulang kalimat itu di kepalaku, hingga rasanya seperti memutar terus-menerus kaset yang isinya cuma satu lagu. Aku masih ingat kata-kata terakhir yang diucapkannya saat kami bertemu usai rapat dua minggu yang lalu. “Ingat, Kay. Luruskan niat. Semangat berkontribusi. Selamat berjuang, ya!” Kak Raka mengucapkannya sambil nyengir lebar dan menepuk bahuku.

Air mataku akhirnya jatuh juga. Aku buru-buru mundur dan menangis sesenggukan di pelukan Diandra. Satu-persatu pelayat meninggalkan kompleks pemakaman dengan wajah-wajah yang menggambarkan ekspresi yang nyaris serupa : sedih. Langit masih berwarna biru dan matahari masih bersinar terlalu cerah. Aku tahu Muhammad Raka Pradipta telah pergi untuk selamanya. Tapi dia tetap akan menjadi motivator pribadiku, alarmku untuk tetap berada di jalur perjuangan yang seharusnya. Dia akan tetap menjadi matahari untuk langitku. Dia akan tetap menjadi pejuang sejati untukku.

Aku mengusap air mataku dan menoleh menatap nisan di balik pungggungku untuk terakhir kalinya. “Selamat jalan, Pejuang! Terimakasih, ya!” ucapku mantap.

DING!

Iklan

Satu pemikiran pada “Sang Pejuang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s