Untukmu, Lelakiku : Bagian Tigabelas

Ingat padamu, adalah ketika aku sedang berjalan pulang sendirian dan mendongak, lalu menemukan semburat cahaya dari kedipan lampu neon di sela rimbunnya daun di pepohonan di pinggir jalan—terang, namun masih samar-samar.

Ingat padamu, adalah ketika aku sedang berbaring di ranjangku sambil setengah terlelap mendengarkan lagu-lagu cinta dalam playlist ponselku—nyaman, namun belum mencukupkan.

Ingat padamu, adalah ketika aku melihat sepasang lelaki dan wanita paruh baya saling memeluk sambil tersenyum di salah satu bangku taman yang aku lewati sepulang bepergian—hangat, namun menyimpan jutaan kerinduan.

Ingat padamu, adalah ketika aku berpapasan dengan seorang anak kecil yang sedang sibuk meniup gelembung sabunnya, memunculkan bulatan-bulatan transparan berwarna-warni yang beterbangan di sekelilingnya—indah, namun terlalu cepat menghilangnya.

Ingat padamu, adalah ketika aku menemukan sebuah buku menarik di salah satu rak di toko buku favoritku, buku berseri yang belum terbit edisi lanjutannya—penuh rahasia, namun tak pernah habis diterka.

Ingat padamu, adalah ketika aku berdoa di akhir sujudku kepada Tuhan dan bicara tentang banyak hal kepadaNya—menghanyutkan, namun tak nampak muaranya.

Ingat padamu, adalah ketika aku mencicipi sepotong pastry hangat yang kuambil diam-diam dari dapur ibuku untuk kemudian kumakan cepat-cepat di dalam kamarku—manis, namun berbahaya karena akan membuatku kecanduan.

Ingat padamu, adalah ketika aku menonton aktor favoritku tengah tersenyum manis di layar televisi kepada gadisnya yang berkaca-kaca ketika balik menatapnya—romantis, namun tak juga mencapai endingnya.

Ingat padamu, adalah ketika aku mengendarai mobilku sendirian seraya bersenandung mengikuti alunan nada lagu Never Think yang terputar dari tape recorder—menyenangkan, namun aku tak pernah mengerti makna sebenarnya.

Ingat padamu, adalah ketika aku duduk di atas jendela kamarku dan membaui tanah setelah hujan sambil memeluk kedua kakiku erat-erat—hangat, namun selalu ada dingin yang menyisip di antaranya.

Ingat padamu, adalah ketika aku sedang mencoba mencari tahu keberadaanmu yang disembunyikan waktu, dan sedang mencoba melihat lekat-lekat untuk menemukanmu di tempat yang tepat.

Kurasa, ingat padamu berarti selalu, kan?

 

Salam,

Wanitamu.

Iklan

6 pemikiran pada “Untukmu, Lelakiku : Bagian Tigabelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s