Untukmu, Lelakiku : Bagian Duabelas

Selamat malam, Kamu.

Sedang apa di tempatmu?

Kau tahu, rindu menyelinap diam-diam di antara malam ketika aku sejenak saja tak memikirkanmu.

Kamu, eksistensimu yang dijanjikan Tuhan untukku.

Dengarkan aku, Kamu.

Kelak, bahkan kita pun akan bertengkar karena banyak hal.

Mungkin tentang selera film yang berbeda, menu makan malam yang tak sreg di lidah, jam pulang kantor yang kelewat larut, kedatangan orang-orang di masa lalu, atau masalah klasik mertua dan menantu.

Mungkin dengan sifatku yang seperti ini, aku akan ngambek padamu. Aku akan malas bicara dan mulai bertingkah menjadi kepala batu. Aku akan diam dan menunggu sampai kau mendekat dan bilang maaf padaku.

Tapi, kau mungkin tak akan pernah melakukannya untukku. Ketika aku menatap jengkel padamu, kau mungkin malah akan nyengir lebar ke arahku, dan entah bagaimana, berhasil mencuri ciuman dariku. Kilat, lalu ditutup dengan menyunggingkan senyum yang jadi favoritku. Aku tersipu, hingga tak bisa marah lama-lama padamu.

Atau, kau mungkin akan jadi sama diamnya denganku. Sama-sama punya harga diri kelewat tinggi untuk meminta maaf lebih dulu. Kita akan saling mencuri pandang diam-diam, berharap keheningan janggal dan menyebalkan ini akan diakhiri oleh salah satu. Pada akhirnya, mungkin aku yang akan membujukmu dengan sepiring nasi goreng dan secangkir kopi kesukaanmu. Lalu kau akan tersenyum dan bilang terimakasih padaku. Itu kekanakkan, aku tahu. Tapi tak apa, karena bagaimanapun itu juga yang membuatku jatuh cinta padamu.

Mungkin, kau akan mencoba melumerkan hatiku dengan koleksi rayuan mautmu. Gombal, tapi tetap terdengar manis di telingaku. Dan setiap kali kau mulai melancarkan aksimu, aku setengah mati akan menahan tawa geliku, dan berpura-pura masih jengkel padamu. Kalau dipikir-pikir, itu lucu. Karena sebenarnya kita sama-sama tahu bahwa marah lama-lama tak pernah ada dalam kamusku maupun kamu. Yah, sejujurnya kau cuma ingin menikmati ekspresi ngambek pura-puraku dan aku cuma ingin mendengar lebih banyak lagi koleksi gombalan yang khusus kau ciptakan untukku.

Kamu, aku mengatakan hal-hal ini bukan untuk menakut-nakutimu. Aku mengatakan hal ini karena ingin kamu mengerti, bahwa kelak, ketika ada waktu-waktu di mana kita sejenak goyah menjadi aku dan kamu, yakinlah bahwa pada akhirnya aku dan kamu tetap akan kembali dan menjadi satu.

Kelak, jangan lelah untuk mencoba memahamiku.

Jangan berhenti untuk mencoba mengerti aku.

Dan ketika sampai waktu di mana kita akan bertemu,

jangan pernah lupa mencintaiku,

hari itu, dan sampai Tuhan mencukupkan waktuku untukmu.

Salam,

Wanitamu.

Iklan
Untukmu, Lelakiku : Bagian Duabelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s