Ini (Bukan) Hari Biasa

Ketika sedang tersenyum-senyum sendiri mendengarkan lagu Crazy Love-nya DBSK…

***

Aku tak bosan-bosannya memandang lelaki itu dari belakang meja kasir tempatku berdiri. Dia pelanggan tetap tempat persewaan DVD kami sejak dua bulan lalu, dan hampir setiap akhir pekan dia selalu mampir kemari—meminjam DVD film yang kebanyakkan bergenre action dan science-fiction.

Sebenarnya, tampilan luarnya biasa saja. Rambut lurus dan agak berantakkan, t-shirt longgar, jaket olahraga, celana jeans pudar, dan sandal jepit keluaran distro. Tak ada yang istimewa, kecuali kalau mau ikut menghitung suaranya yang khas dan senyumnya yang canggung tapi manis. Tapi, justru keseluruhan dirinya yang biasa-biasa itu yang membuatku menyukainya.

“Pinjem tiga aja, Mas?” Aku bertanya ketika dia mendekat padaku usai memilih-milih DVD yang akan dipinjamnya.

Dia mengangguk. “Iya. Lagi sibuk soalnya,” katanya seraya mengulurkan kartu pelanggannya dan selembar uang duapuluh ribuan padaku.

Aku menerimanya sambil tersenyum. “Oh,” gumamku, kemudian melirik sekilas judul-judul DVD yang dipinjamnya. Semuanya soal cinta-cintaan. Tumben sekali. Maka aku bertanya lagi, “Tumben nggak pinjem film tembak-tembakkan, Mas?”

Dia mengangkat wajah dan menatapku bingung. “Hah?”

Aku nyengir. “Ini…tumben pinjemnya film romantis semua. Mau ditonton sama pacarnya, ya?” tanyaku setengah bercanda.

Wajahnya langsung memerah. “Ng—nggak juga, sih. Iseng aja. Bosen sama film action soalnya,” ujarnya canggung.

Aku mengangguk-angguk, kemudian menyerahkan kembali kartu pelanggan, uang kembalian, bersama DVD-DVD yang dipinjamnya. “Ini, Mas. Makasih, ya,” kataku sopan.

Dia menerimanya seraya tersenyum sekilas. Senyum canggung tapi manis itu. Kemudian dia berlalu. Sayang sekali, hari ini sepertinya akan berakhir seperti hari-hari kemarin…

“Eh, Mbak. Kayaknya besok-besok saya nggak akan pinjem film lagi, deh,” tiba-tiba dia sudah berbalik lagi.

Aku mengedipkan mata. “Lho, kenapa memangnya, Mas?” tanyaku, diam-diam merasa tidak rela.

Dia berjalan kembali ke arahku dan berhenti tepat di hadapanku. “Soalnya,” ujarnya perlahan, “saya mau pinjem kamu. Selamanya. Boleh?” Lalu dia tersenyum. Lebar. Manis. tampan. Sempurna.

Aku tertegun sebentar, mengerjap tiga kali, lalu mengangguk buru-buru. “Eh—boleh, kok.”

Sepertinya, kali ini aku tidak salah jatuh cinta.

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s