You’re My Sweetest Dream (2/2)

Title             : You’re My Sweetest Dream (Part 2/ending)

Author         : Yuridista

Main Casts  :

Hwan Seungmi (OC)

JYJ Yoochun

JYJ Junsu

Genre          : Romancy a.k.a romance-fantasy

Rating         : AA-PG

***

Kamar Seungmi, 2011.

Aku duduk di depan laptopku, sibuk mengetikkan berbagai kata kunci di mesin pencarian yang terhubung dengan internet. Halusinasi, Ilusi, penyakit mimpi, sihir, penyakit alam bawah sadar…tapi tidak ada yang memberiku hasil memuaskan. Semuanya nihil. Bahkan situs kesehatan terkenal milik sebuah negara adidaya pun tidak memiliki data yang berkaitan dengan apa yang sedang aku alami sekarang.

Aku menggigit bibir. “Ottokhaji???” gumamku seraya mengacak-acak rambutku. Kepalaku mulai dipenuhi bayangan mimpiku yang terakhir. Wajah appa yang mengeras saat memaksaku menikah dengan seseorang bernama Kim Junsu dan wajah lembut Park Yoochun saat memelukku silih berganti bermain-main di dalam ingatanku. Aku mengetuk-ngetuk kepalaku dengan gemas. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Memberitahu appa dan eomma jelas tidak mungkin dilakukan, karena aku tidak mau mengganggu mereka yang sedang mengurus bisnis sekaligus berbulan madu kedua di Jepang. Menghubungi dokter pribadi keluargaku juga bukan pilihan yang tepat, mengingat apa yang aku alami saat ini mungkin hanya akan menjadi bahan tertawaan dan sasaran belas kasihan para ahli kesehatan. Maksudku, siapa sih yang akan percaya begitu saja kalau kau sedang dihantui mimpi aneh sampai-sampai kau merasa nyaris gila? Tidak ada. Bercerita pada Yuri? Hal itu sudah aku lakukan, dan sejauh ini yang aku dapatkan darinya hanyalah analisis-analisis tidak masuk akal yang semakin membuat kepalaku rasanya ingin meledak.

Oke. Aku frustasi sekarang. Aku frustasi karena aku tidak menemukan titik terang mengenai apa yang sedang aku alami, sedangkan sampai sekarang aku tidak mengerti bagaimana caranya mengendalikan mimpiku. Seandainya bisa, aku akan memilih untuk tidak tertidur sepanjang hidupku untuk menghindari mimpi-mimpi aneh itu. Terlepas dari fakta tak terbantahkan bahwa Park Yoochun adalah namja yang luar biasa tampan dan sangat mendebarkan, dan juga merupakan namja yang memiliki senyum terbaik di antara namja-namja yang pernah aku kenal, aku tetap tidak ingin merasa bahwa aku sudah gila. Dan lagi, ku rasa kisah dalam mimpiku mulai menjadi semakin tidak masuk akal. Maksudku, menjadi putri tunggal seorang bangsawan dan memiliki sifat angkuh dan sombong mungkin masih bisa diterima. Tapi jatuh cinta pada seorang namja luar biasa tampan yang ironisnya adalah seorang pengurus kuda yang miskin, lalu kemudian dengan mendadak harus dijodohkan dengan putra bangsawan lain yang sangat amat kaya dan terpandang? Astaga, memangnya aku sedang hidup di dalam buku cerita?

***

“Jadi ini namja yang kau maksud, Seungmi-ah? Pengurus kudamu?” Appa bertanya dengan nada datar. Pandangannya terarah pada Yoochun yang berdiri di hadapannya.

Aku mengangguk ragu, sibuk menebak-nebak apa arti dari pertanyaan appa barusan. “Ne, Appa. Dia lah namja yang aku ceritakan pada Appa kemarin malam.”

Appa kini beralih memandangku. “Dan kau bermaksud untuk menikah dengannya, begitu?” tanya Appa lagi. Sorot matanya saat mengucapkan hal itu benar-benar tidak bisa dijelaskan.

Aku menelan ludah, sekali lagi menganggukkan kepalaku. “Ne. Aku sangat mencintai Yoochun, Appa. Dia─dia─dia lah alasanku…menolak untuk dijodohkan…dengan Junsu,” jawabku, memberanikan diri untuk menatap kedua mata Appa.

“Saya juga sangat mencintai Seungmi-ssi, Tuan. Saya berjanji akan membahagiakannya. Saya harap Tuan berkenan untuk merestui kami berdua.” Yoochun ikut angkat bicara, yang langsung membuat appa kembali menatapnya.

“Membahagiakan Seungmi, dan mempermalukan aku seumur hidup. Begitu kan maksudmu?” tukas Appa tajam.

Aku terkesiap. “Appa!” teriakku marah. Aku maju selangkah, tapi tangan Yoochun menahanku untuk tetap berdiri di tempatku semula.

“Cih. Aku tidak menyangka putriku satu-satunya bisa jatuh cinta dengan pemuda sepertimu. Maaf, tapi sayang sekali, aku tidak bisa memberikannya padamu. Bahkan jika kau berlutut dan memohon padaku sampai kau sekarat, aku tidak akan pernah memberikan restuku.” Appa berkata lagi, kali ini dengan nada tajam dan dingin seraya melemparkan tatapan kejam ke arah Yoochun yang berdiri di sampingku sambil tetap menggenggam tanganku.

Aku tidak bisa lagi menahan emosiku. Ku sentakkan tanganku yang digenggam Yoochun, kemudian ku langkahkan kakiku maju mendekati appa. “Appa! Apa appa sadar dengan yang telah appa katakan barusan? Appa telah melukai perasaan Yoochun, juga perasaanku! Apa appa tahu itu?!” teriakku tepat di depan wajah appa.

Appa tersenyum sinis. “Kau yang memaksa appa melakukannya, Sayang. Appa tidak akan begini kalau kau mau menuruti kata-kata appa untuk menikah dengan Junsu. Itu demi kebaikanmu juga, Nak,” katanya, lalu tangannya tergerak untuk menyentuh kepalaku, tapi aku keburu menepisnya.

“Shiero! Aku tidak mau menikah dengan Junsu! Aku tidak mau appa memanfaatku hanya untuk menaikkan derajat keluarga kita! Omong kosong dengan gelar keluarga bangsawan yang diberikan orang-orang itu! Aku tidak peduli! Aku tidak butuh gelar yang appa bangga-banggakan itu!” Aku membentak appa dengan keras. Aku benar-benar marah sekarang. Air mata kini sudah menggantung di pelupuk mataku, berebut minta ditumpahkan.

Untuk sesaat appa seperti hanya tertegun melihatku. Lalu, PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Aku meringis. Ku sentuh pipiku. Nyeri.

“Seungmi-ah!” Yoochun memekik di belakangku. “Neo gwenchana?” tanyanya saat sudah berada di dekatku.

Aku menatapnya dan tersenyum lemah. “Gwenchana,” jawabku pelan.

“Dengarkan aku, Hwan Seungmi,” aku mendengar appa berkata tajam, “tamparan itu appa berikan untuk membuatmu sadar. Pemuda ini tidak pantas untukmu. Jauhi dia. Kalau kau tetap membangkang, appa terpaksa harus mengusirnya dari sini.”

“Hajiman, Tuan Hwan─saya mohon… Tolong dengarkan penjelasan saya. Jebal─” Yoochun kini sudah berlutut di hadapan ayahku seraya menarik ujung jubahnya.

Appa mengibaskan jubah itu, mengabaikan permohonan Yoochun. “Aku tidak butuh penjelasan apa pun darimu.” Dia lalu beralih menatapku. “Dan kau, Seungmi-ah, kembali ke kamarmu dan jangan pernah temui dia lagi. Kali ini kau tidak punya pilihan,” lanjutnya sadis, kemudian berlalu meninggalkan aku dan Yoochun di ruang tamu rumah kami yang luas.

Aku hanya bisa berdiri mematung sambil menatap Yoochun yang terduduk di dekatku. Dia juga tidak berkata apa-apa, hanya menatap kosong ke arah pintu, ke tempat di mana appa menghilang. Untuk beberapa saat tidak ada yang membuka mulut. Aku masih terlalu terkejut dengan tamparan appa dan kata-katanya yang tidak berperasaan. Aku samasekali tidak mengerti ada apa dengannya. Kenapa dia seperti telah berubah menjadi orang lain? Ke mana appaku yang penyayang dan bijaksana? Sejak kapan aku telah kehilangannya?

“Seungmi-ah… Mianhae…” Akhirnya Yoochun yang bersuara untuk memecah keheningan di antara kami berdua. Dia bangkit dari posisi duduknya, kemudian beranjak mendekatiku dan meraupku ke dalam pelukannya.

“Bawa aku pergi dari sini, Yoochun-ah. Jebal…” kataku pelan. Kemudian, meledaklah tangis yang aku tahan sejak sepuluh menit yang lalu.

“Ssstt… Uljihma, Seungmi-ah. Jangan menangis. Kau tidak boleh begini. Kau yeoja yang tangguh, kan?” Yoochun berbisik seraya membimbingku keluar dari ruangan besar itu. “Mianatta karena tidak bisa membuat appamu merestui kita. Sekarang, kembalilah ke kamarmu sebelum appamu marah lagi. Kita bisa bertemu lagi nanti malam,” lanjutnya pelan.

Aku mengangkat kepalaku dan menarik diri dari pelukannya. “Aku tidak mau. Nanti pasti appa akan mengurungku. Kalau aku kembali ke kamar sekarang, kita tidak akan bisa bertemu lagi.” Aku merajuk seraya mengalungkan tanganku ke lehernya, menolak untuk kembali ke kamarku.

Yoochun tersenyum, kemudian mengusap air mata yang masih menggenang di mataku. “Kau tenang saja, Seungmi-ah. Appamu masih terlalu menyayangimu untuk melakukan hal itu. Yang dia benci itu aku, bukan kau. Dia tidak akan mengurungmu secepat ini, Chagiya,” ucapnya lembut. “Dan lihat, sekarang kau terluka gara-gara aku,” katanya seraya menyusuri pipiku yang terasa nyeri karena tamparan appa. “Bagaimana bisa aku berada dekat-dekat denganmu tanpa merasa bersalah?” lanjutnya kemudian.

Aku menyentuh tangannya yang berada di wajahku. “Paboya. Ini bukan gara-gara kau, Park Yoochun. Ini adalah bukti bahwa appa sudah berubah. Dia bukan appaku lagi.” Aku menggumam getir.

Yoochun menggeleng, kemudian mulai menuntunku menuju kamarku. “Sudahlah, jangan memikirkan hal itu dulu sekarang. Lebih baik kau istirahat saja, nanti biar aku yang memanggilkan pelayanmu untuk mengobati lukamu. Aku pergi dulu, ya?” Dia lalu berbalik untuk meninggalkan aku.

Tapi aku buru-buru menarik tangannya, mencegahnya pergi. “Chankkaman─”

Yoochun membalikkan tubuhnya lagi. “Mworago?”

Aku menghela nafas sebelum menjawab, “ Berjanjilah padaku kau akan menemuiku di padang rumput dekat peternakan nanti malam. Aku akan menyelinap saat para penjaga sudah tidur. Arra?”

Yoochun menyunggingkan senyum separonya. “Pasti, Chagiya. Tapi sebelum itu, kau harus janji dulu untuk tidak mencoba kabur dan mengajakku kawin lari. Kau tahu? Aku memang sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu berada dalam bahaya seumur hidupmu,” ujarnya seraya menatap mataku dalam-dalam.

Aku tertawa pelan. “Kenapa kau selalu mengatakan hal-hal yang bisa membuatku jatuh cinta padamu setiap hari, Park Yoochun?” kataku setengah bergurau.

Yoochun ikut tergelak, kemudian mengedipkan sebelah matanya. “Itu memang keahlianku, Hwan Seungmi,” katanya jenaka. “Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti malam,” lanjutnya, kemudian benar-benar berbalik dan keluar dari rumahku.

***

Aku terbangun dari mimpi buruk itu dengan pipi yang masih berdenyut-denyut nyeri. Aku mengangkat tanganku dan menyentuh pipi kiriku. “Appo,” gumamku saat menekankan tanganku ke bagian yang terasa sakit itu. Ini gila, kan? Bahkan tamparan appa pun sampai bisa kurasakan hingga sekarang, padahal jelas-jelas appaku yang sebenarnya sedang berada di Jepang sana, sedang melakukan entah apa bersama eommaku.

Aku mengusap wajahku, berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang mungkin masih tertinggal di sana, kemudian beranjak dari ranjangku. “Aku tidak boleh tidur lagi,” gumamku saat menatap jam weker di atas nakas di samping tempat tidurku dan mendapati bahwa ini masih pukul dua pagi. Aku lalu memutuskan untuk turun ke lantai satu apartemenku, berpikir untuk membuat secangkir kopi panas yang super-pahit untuk membunuh rasa kantuk yang mungkin akan menyerangku. Aku tahu kalau cara itu mungkin tidak akan cukup membantu, tapi mengingat bahwa setelah ini mimpiku bisa jadi akan lebih buruk daripada sebelumnya, aku rasa tidak ada salahnya menunda datangnya rasa kantuk barang dua atau tiga jam, atau setidaknya sampai aku tahu aku tidak punya cukup waktu untuk jatuh tertidur dan mengalami adegan panjang yang mengerikan lagi dalam mimpiku. Yeah, aku rasa bekas tamparan di pipi kiriku ini sudah bisa menjelaskan betapa mengerikannya adegan yang aku maksud.

***

Aku duduk meringkuk di sofa di depan televisi di ruang santai lantai satu apartemenku. Satu tanganku memegang cangkir kopi yang sudah aku minum setengahnya, sedangkan tanganku yang lain sibuk memencet tombol remote televisi, mengganti-ganti channel dengan malas-malasan.

“Hoaheeeem…” Aku menguap panjang. Sial. Bahkan kopi super-pahit pun sepertinya tidak bisa membunuh rasa kantukku. Aku masih ingat, appa dan eomma selalu memanggilku si Tukang Tidur sejak saat umurku masih lima atau enam tahun karena kebiasaan tidurku yang parah. Aku bisa jatuh tertidur dengan mudah di mana dan kapan saja, tidak peduli apakah itu pagi, siang, sore, atau malam. Appa bahkan pernah meledekku tentang bagaimana aku akan tetap tertidur nyenyak meski gempa berskala puluhan ritcher mengguncang kota Seoul dan membuat rumah kami hancur berantakkan. Lelucon bodoh, tapi aku tetap tertawa saat appa mengatakannya. Ah, appa… Aku sangat merindukanmu sekarang. Kenapa aku bisa memimpikan hal yang begitu buruk tentangmu?

“Hoaheeem…” Aku menguap lagi untuk yang kedua kalinya. Aigooo~ ottokhajji? Bagaimana jika aku tertidur lagi setelah ini? Aku benar-benar sedang tidak ingin berurusan dengan Park Yoochun, ‘appaku’, maupun segala hal yang berkaitan dengan mimpi aneh itu. Tapi payahnya, rasa kantuk ini memang sepertinya tidak bisa aku tahan lagi. Jadi aku lalu meletakkan cangkir kopi dan remote televisiku di meja, mengambil bantal terdekat, kemudian berbaring begitu saja di sofa seraya merutuk pelan, “Sialan. Kenapa sih aku samasekali tidak bisa mengendalikan mimpiku?”

***

Aku capek menangis. Ini sudah menjelang tengah malam, dan aku belum mengganti cocktail-dressku dengan gaun tidur sutra kesayanganku. Jangankan berganti pakaian, mandi pun aku belum. Sejak Yoochun meninggalkanku tadi siang aku memang hanya duduk meringkuk di ranjangku, sibuk menangisi segala hal tidak pas yang terjadi dalam hidupku belakangan ini. Aku samasekali tidak berbicara dengan orang lain, kecuali dengan pelayanku yang datang beberapa jam lalu untuk mengobati luka di pipiku. Saat itu, Jihye, nama pelayanku itu, datang dan memberiku tatapan terkejut bercampur iba di saat yang bersamaan. “Jangan menangis lagi, Aggashi. Percayalah, Tuhan pasti akan melindungi Anda jika Anda mau percaya padaNya,” katanya pelan seraya mengompres lukaku.

Aku tersenyum lemah. “Jeongmalyo? Apa Tuhan juga akan menyatukan aku dengan Yoochun jika aku mempercayaiNya?” tanyaku padanya.

Jihye balas tersenyum lembut. “Keajaiban Tuhan itu selalu ada, Aggashi. Anda tinggal menunggu waktunya saja,” ujarnya bijaksana.

Aku terdiam. Benarkah itu? Keajaiban─apakah hal itu akan datang di saat yang tepat untuk membebaskanku dari situasi ini?

Setelah itu Jihye lalu beranjak meninggalkan kamarku dan membuatku sendirian lagi sampai saat ini. Aku lalu teringat janjiku pada Yoochun untuk datang menemuinya malam ini, jadi aku buru-buru bangkit dari ranjangku dan mengganti gaunku dengan gaun sutra panjang yang lebih tebal dan hangat. Kemudian aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku sekedarnya, mengabaikan rasa nyeri yang masih berdenyut-denyut di pipi kiriku. Tak lupa ku kenakan jubah tebalku untuk menghalau rasa dingin yang nyaris terasa menyakitkan di penghujung musim gugur seperti ini.

Untung sekali aku bisa menyelinap keluar rumah tanpa diketahui oleh appa maupun para penjaga rumah dan pelayan-pelayan. Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Hampir pukul duabelas. Sial. Aku pasti sudah membuat Yoochun kesal sekarang. Ku percepat langkahku menuju ke kandang kuda, dan segera ku naiki Anabelle dengan tergesa-gesa setelah aku membuka pintu kandangnya. Kemudian, ku pacu kuda kesayanganku itu menuju padang rumput di dekat peternakan, tempat di mana aku meminta Yoochun untuk datang menemuiku.

***

Aku tersenyum luar biasa lega saat melihat Yoochun yang sedang berdiri membelakangiku di dekat pagar kayu yang membatasi peternakan milik keluargaku dengan pondok-pondok kecil milik para penduduk sekitar. Rupanya dia masih menungguku, batinku senang. Aku pun segera turun dari punggung Anabelle dan berjalan menghampiri si tampan itu.

“Yoochun-ah,” tegurku seraya memeluknya dari belakang.

“Kau membuatku terkejut, Chagiya.” Yoochun menolehkan kepalanya ke samping seraya tersenyum. Tangannya menyentuh kedua tanganku yang berada di dadanya.

Aku terkekeh pelan. “Kejutan yang menyenangkan, bukan?” Aku mengedipkan sebelah mata. “Apa aku sangat terlambat?” tanyaku merasa bersalah.

Yoochun mencubit hidungku. “Ne. Kau sangat, sangat, saaaaangat terlambat, Hwan Seungmi. Jadi, kau harus diberi hukuman,” ujarnya seraya melepaskan diri dari pelukanku dan berbalik menghadapku.

Aku menatapnya takut-takut. “Hukuman? Hukuman ap─”

Tapi Yoochun keburu membungkam mulutku dengan ciumannya. Aku terkejut, tapi lagi-lagi, selalu meleleh setiap Yoochun sudah melakukan hal ini padaku. Aku tidak bisa berfikir, tidak bisa bernafas, dan bahkan tidak bisa mengingat siapa namaku. Berlebihan, eh? Tapi itu memang benar, dan aku justru menyukainya.

Namun, aku merasakan ciuman Yoochun kali ini agak berbeda. Dia tidak menciumku dengan lembut seperti biasanya. Kali ini seperti ada tuntutan di dalam ciumannya. Dia melumat bibirku dengan agak kasar, tangannya mencengkeram bagian belakang kepalaku, menahanku untuk tetap berada dalam jangkauannya. Ini memang bukan seperti Yoochun yang biasanya, meski aku belum tahu apa sebabnya.

“Seungmi-ah…” Aku mendengar namaku mengalun dari bibirnya setelah dia melepaskan ciuman panjangnya.

Aku membuka mataku, agak kehabisan nafas karena perlakuannya barusan. “Ne?” ujarku pelan.

Yoochun menyeringai. “Apa kau…menikmati hukumannya?” tanyanya menggodaku.

Aku bisa merasakan wajahku memanas mendengar ucapannya. Kugembungkan pipiku untuk menyembunyikan rasa maluku. “Hah. Aku merasa dijebak,” sahutku pura-pura ngambek.

Dia menarik pipiku. “Jangan pura-pura, Hwan Seungmi. Aku tahu kau pasti sangat menyukainya. Wajahmu sudah menjelaskan semuanya padaku,” katanya seraya tersenyum-senyum menyebalkan.

Aku memutar bola mataku. “Berhenti menggodaku, Park Yoochun. Sekarang, lebih baik kau segera memberitahuku apa rencanamu setelah ini.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Yoochun mengerutkan keningnya. “Rencana? Rencana apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.

Aku berdecak tidak sabar. “Paboya. Tentu saja rencana untuk membuat appa membatalkan pernikahanku dengan Junsu. Memangnya kau mau meilhatku menikah dengan orang lain, dan bukannya denganmu?” tukasku.

Yoochun tampak menelan ludah mendengar kata-kataku. Ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi muram. “Mianatta, Seungmi-ah… Aku… Sebenarnya aku… Aku memang ingin melepaskanmu…” ucapnya seraya menundukkan kepalanya, menghindari tatapanku.

Aku bisa merasakan jantungku mencelos. “Mworago? Kau ingin apa? Aku tidak mengerti…” Aku berkata dengan suara serak karena menahan air mata yang lagi-lagi sudah mulai membasahi mataku.

Yoochun mengangkat wajahnya. “Mianhae… Aku tidak bisa membawamu pergi dari sini… Aku tidak bisa memisahkanmu dari appamu… Aku─”

“Aku tidak peduli kalau harus berpisah dengannya, Yoochun-ah. Dia bukan appaku. Kau lihat sendiri, kan, bagaimana dia menamparku dan membentakku dengan kejam tadi? Apa kau masih berpikir bahwa dia adalah appaku?”  selaku seraya menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Mungkin kau tidak peduli, tapi aku peduli, Seungmi-ah. Aku pernah ditinggalkan oleh appaku, dan itu sangat menyakitkan rasanya. Sekarang kau mungkin bisa bilang bahwa appamu jahat, tapi saat kau berpisah dengannya, kau akan menyadari bahwa sebenarnya dia sangat menyayangimu. Dia hanya menginginkan yang terbaik untukmu, Seungmi-ah. Dan aku tidak bisa memisahkan seorang anak dari ayah kandungnya, karena itu berarti aku lah yang jahat, aku lah yang tidak punya perasaan…” ucap Yoochun dengan pelan namun tegas. Air mata juga mulai membasahi wajahnya. Dia tampak sangat menderita, hingga aku tidak tega untuk mendebatnya lagi. Tapi…apakah dengan begini…itu berarti aku memang harus benar-benar berpisah dengannya?

“Dan lagi, aku punya adik, Seungmi-ah. Kalau aku nekat membawamu pergi dari sini, itu berarti aku bukan hanya akan membahayakan hidupmu, tapi juga hidup adikku. Kita tidak akan bisa hidup tenang karena appamu pasti akan mencarimu sampai kau ditemukan. Jadi, ku rasa…mulai sekarang aku harus bisa hidup tanpamu, begitu juga denganmu. Apa kau mengerti maksudku, Seungmi-ah?” lanjutnya, kini memandang dalam-dalam kedua mataku.

Aku tidak menjawabnya, dan lebih memilih mengangkat sebelah tanganku untuk menyentuh wajahnya. Aku tahu, setelah mendengar kata-katanya barusan, mungkin ini adalah saat terakhir untukku bisa menemuinya, melihat mata coklat tuanya, dan menyentuh wajahnya seperti ini… Yoochun hanya mengerang pelan saat jemariku mulai bergerak di sekitar wajahnya. Aku lalu menyusuri garis wajahnya dengan jari-jariku, menyingkirkan helai-helai rambutnya yang sudah jatuh menutupi matanya, menikmati sensasi sengatan listrik saat jemariku menyentuh kulit wajahnya. Ku tatap dalam-dalam kedua mata coklat tuanya yang selalu bisa membuatku lupa bernafas untuk sesaat. Kemudian kusentuhkan jari-jariku ke kelopaknya, hingga kedua mata itu menutup perlahan-lahan. Jemariku lalu bergerak turun ke hidungnya yang terpahat sempurna, ke bibirnya yang tipis, yang juga adalah bagian wajahnya yang jadi favoritku setelah matanya, ke garis rahangnya yang menonjol, yang menunjukkan ketegasan wajahnya… Ah, namja ini memang benar-benar sempurna…

“Yoochun-ah…” ucapku sambil masih tetap mengamati wajahnya lekat-lekat.

Di bawah jemariku, matanya membuka perlahan-lahan. “Mmm?” gumamnya.

Aku tersenyum, sekali lagi menyapukan tanganku ke bibir dan pipinya. “Apa kau tahu kalau kau jauh lebih tampan jika dilihat dari jarak seperti ini?” tanyaku pelan.

Yoochun terkekeh. Matanya bersinar jenaka. “Arra. Jadi inikah sebabnya kau melarikan diri dariku saat aku memberimu puisiku waktu itu? Karena aku terlalu tampan?” Lagi-lagi dia menggodaku.

Aku memutar bola mata lalu memukul pelan lengannya. “Ish. Aku benci kalau kau sudah bertingkah kekanak-kanakkan seperti ini,” tukasku dengan wajah ditekuk.

Tawa Yoochun berkumandang lagi. “Jeongmalyo? Benarkah kau membenciku yang seperti ini?” Dia berkata jahil, kemudian merogoh saku jaket kulitnya untuk mengeluarkan sesuatu dari dalamnya dengan tampang yang susah ditebak. “Lalu, bagaimana kalau aku bilang kau terlihat sangat cantik bahkan meski hanya dari kejauhan? Masihkah kau membenciku?” Lanjutnya, kemudian memasangkan benda yang ternyata adalah hiasan rambut itu ke kepalaku.

Tanganku refleks tergerak untuk menyentuh hiasan itu. “Yoochun-ah…” ucapku setengah bingung setengah senang.

Yoochun tersenyum lembut. “Kenakanlah itu saat kau menikah nanti. Maka aku akan bisa melihat kecantikanmu yang bersinar meski hanya dari kejauhan, arratchi?”

Dan entah bagaimana tangisku langsung pecah saat itu juga. Tanpa sempat berpikir aku sudah melompat ke dalam pelukan Yoochun, mengeratkan kaitan tanganku di lehernya, dan membenamkan kepalaku di bahunya. “Saranghae, Park Yoochun… Jeongmal saranghae…” bisikku di antara isakanku.

Aku lalu merasakan tangan Yoochun bergerak menyentuh kepalaku. Dia pun balas berbisik, “Na do. Yeongwonhi…”

***

Seperti yang sudah ku duga, hiasan rambut itu masih ada saat aku terbangun dan menyentuh kepalaku. Aku menghela nafas, lagi-lagi merasa terlalu lelah setiap kali bangun dari tidurku setelah memimpikan hal aneh itu. Tanganku lalu tergerak untuk melepas hiasan rambut itu dari kepalaku.

“Ah, rupanya ini terbuat dari bebatuan,” gumamku sambil mengamati hiasan berwarna keperakan itu. “Yeppeo,” lanjutku kagum. Tapi aku lalu tersenyum getir saat teringat bahwa hiasan ini adalah penanda berakhirnya ‘hubungan dalam mimpi’ku dengan Park Yoochun. Apakah itu berarti setelah ini aku tidak akan memimpikan namja itu lagi? Apakah dengan menghilangnya dia dari kehidupan mayaku berarti juga berakhirnya mimpi-mimpi aneh ini? Apakah setelah ini aku bisa bebas dari pikiran-pikiran tidak masuk akal yang nyaris membuatku gila ini? Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti memenuhi kepalaku, bersamaan dengan datangnya sensasi aneh yang ku rasakan di dasar perutku. Perasaan apa ini? Kenapa aku─justru merasa…tidak rela?

***

Taman Kampus, 2011.

“Hwan Seungmi, jangan bilang kau benar-benar sudah jatuh cinta pada namja khayalanmu itu.” Kang Yuri menunjuk wajahku seraya memberiku tatapan jebal-kau-jangan-bercanda-karena-ini-sama-sekali-tidak-lucu yang semakin membuatku tidak nyaman.

Aku meringis salah tingkah. “Molla. Kau tahu kan, namja itu sudah mencuri ciuman pertamaku, sudah memberiku puisi yang benar-benar indah, dan sudah menyatakan cintanya padaku. Bagaimana bisa aku tidak tersentuh oleh semua perlakuannya itu? Lagipula, dia bukan khayalanku, Yuri-ah. Dia itu…seperti kenyataan yang berada di tempat dan waktu yang tidak tepat,” tukasku membela diri.

Yuri memutar bola matanya. “Hajiman─Dia bahkan tidak ada di kehidupan nyatamu, Seungmi-ah. Kau hanya menemukannya di dalam mimpi. Bagaimana bisa kau bilang kalau kau jatuh cinta padanya? Kau ini benar-benar aneh.”

Aku tertawa, kemudian membuka tasku dan mengambil hiasan rambut pemberian Yoochun dari dalamnya. “Ini benda pemberian Yoochun yang terakhir untukku.Di dalam mimpiku, kami terpaksa harus berpisah karena aku akan dinikahkan dengan seseorang bernama Kim Junsu. Aku tidak peduli siapa itu Kim Junsu, tapi aku punya firasat kalau aku tidak akan bermimpi aneh lagi karena Park Yoochun sudah memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan denganku. Maksudku, bukankah sejak awal mimpi aneh itu memang dimulai dengan munculnya Yoochun?” kataku panjang lebar, yang langsung membuat Yuri mengerutkan keningnya.

“Chankkaman─Kau bilang kau harus berpisah dengan Park Yoochun karena akan dijodohkan dengan namja bernama Kim Junsu?” tanyanya dengan nada menyelidik, memilih mengabaikan hiasan rambut yang kutunjukkan padanya.

Aku mengangguk. “Ne. Waeyo?”

“Astaga, Kim Junsu itu kan nama mahasiswa dari fakultas kedokteran yang baru saja lulus bulan ini dan sekarang sedang melanjutkan studinya di Amerika. Dia itu namja yang digilai hampir semua yeoja di kampus kita, paboya. Masa kau tidak tahu, sih?” ujar Yuri berapi-rapi. Dia bahkan sampai menggoncang-goncangkan bahuku, seakan ingin mengembalikan kesadaranku ke dunia nyata.

Aku terbelalak. “MWO?!” pekikku tidak percaya.

Yuri melepaskan cengkeramannya dari kedua bahuku. “Kata itu juga yang ada di dalam pikiranku saat mendengarmu menyebutkan nama Kim Junsu untuk pertama kalinya tadi. Ini benar-benar tidak masuk akal, Seungmi-ah. Jangan-jangan, Kim Junsu yang ada di dalam mimpimu itu memang Kim Junsu idola kampus kita? Dan kalau itu benar, berarti…”

“Park Yoochun mungkin juga benar-benar ada… Dia─mungkin juga berada sangat dekat denganku sekarang!” Aku memotong kalimat Seungmi tanpa berpikir. Aku bisa merasakan jantungku berdentum-dentum dan telapak tanganku dingin karena memikirkan kemungkinan bahwa mungkin aku bisa bertemu lagi dengan Yoochun, dan itu bukan di dalam mimpi, melainkan di kehidupan nyata!

“Tunggu dulu─” cetus Yuri memutus pikiranku.

Aku mengerjapkan mata, kembali fokus menatap sahabatku itu. “Mwo? Wae?”

“Apa kau sudah melihat wajah Kim Junsu dalam mimpimu? Bagaimana wajahnya? Hmm?” tanya Yuri bertubi-tubi.

“Anni. Aku belum melihat wajahnya sampai sekarang.” Aku menggeleng pelan. “Tapi─kalau aku tidak bisa membuktikan bahwa Kim Junsu memang ada di dunia nyata, itu berarti aku juga tidak akan pernah tahu apakah Park Yoochun benar-benar ada atau tidak. Dan semua yang telah aku alami ini… Benda-benda pemberiannya… Perasaanku padanya… Semua akan sia-sia,” ucapku seraya menghela nafas berat. “Padahal aku tidak bisa bermimpi lagi…” lanjutku, kembali diserang dengan perasaan tidak rela itu.

Di sampingku, Yuri ikut membuang nafas dengan berat. “Jangan bilang seperti itu dulu, Seungmi-ah. Siapa tahu nanti malam kau bermimpi lagi. Tapi jangan terlalu berharap, ya? Aku tidak mau sahabatku ini jadi sakit hati gara-gara namja bernama Park Yoochun itu, arrasseo?” katanya mengingatkanku.

Aku tersenyum tipis. “Ne, arra. Gomawo, Yuri-ah,” ucapku seraya memeluknya sekilas.

“Hah? Terimakasih untuk apa?” tanya Yuri setelah melepaskan pelukanku.

“Untuk semua pikiran-pikiran tidak masuk akalmu. Walaupun kadang-kadang kau jadi kelihatan agak gila karenanya, tapi kali ini ku rasa aku berhutang banyak padamu,” kataku seraya menyeringai lebar.

Yuri langsung melotot mendengar ucapanku. “Ya! Kau ini sebenarnya teman macam apa, Hwan Seungmi?! Berani-beraninya mengataiku gila!” teriaknya, kemudian dengan sukses melayangkan dua jitakan ke kepalaku.

***

1 New Message

 

Sender : Yuri

 

 Seungmi-ah, aku sudah mengirimimu foto Kim Junsu lewat e-mail. Jangan lupa di cek!

 

Aku langsung log in ke akun e-mailku begitu menerima pesan singkat dari Yuri tentang kiriman foto Kim Junsu. Aku lalu buru-buru mengunduh fotonya dan mencetaknya agar bisa mengamati wajahnya dengan lebih jelas.

Hmmm. Tampan juga namja ini, pikirku saat selembar foto ukuran 4Rnya sudah berada di tanganku. Walaupun bagiku namja bernama Kim Junsu ini masih kalah tampan jika dibandingkan dengan Park Yoochun, tapi tetap saja, dia memiliki kharismanya sendiri. Dengan dagu lancip dan sepasang mata hitam legam yang memandang tajam di balik lensa kacamata minusnya, tidak heran bahwa Kim Junsu memiliki pesona yang luar biasa di mata kebanyakkan yeoja kampusku, seperti yang dikatakan oleh Yuri tempo hari.

Aku menghela nafas. “Hah. Kim Junsu-ssi, kalau kau memang benar-benar dijodohkan denganku, jangan coba-coba untuk membuatku jadi jatuh cinta padamu, arrasseo?” gumamku seraya menatap balik mata namja di dalam foto itu.

***

Awal musim dingin, 1996.

Tok, tok, tok. Aku mendengar suara pintu kamarku diketuk saat aku sedang sibuk merapikan tatanan rambutku dengan dibantu oleh dua pelayanku.

“Masuk,” kataku, kemudian si pengetuk pintu melongokkan kepalanya ke dalam kamarku dan tersenyum saat melihatku.

“Noona. Neo jeongmal neomu yeppeo,” cetusnya, yang mau tidak mau langsung membuat wajahku terasa panas.

“Ho. Sejak kapan kau jadi pintar memuji yeoja, Junsu-ah? Apa kuliah di Jepang telah meningkatkan kemampuan merayumu?” tanyaku, kemudian berjalan menghampirinya setelah memasang hiasan rambut pemberian Yoochun di kepalaku.

Ya, hari ini memang merupakan hari pernikahanku dengan Kim Junsu, namja yang sekarang sedang tersenyum di hadapanku ini. Aku memang tidak membencinya, karena aku tahu, dia juga pasti hanya menjadi korban dari pemaksaan orangtuanya sepertiku. Aku sangat tahu tentang hal itu, karena aku telah mengenal Kim Junsu sejak tiga belas tahun lalu, sejak setahun sebelum eommaku meninggal dunia.

“Aku serius, Noona. Kau terlihat sangat cantik hari ini. Kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu, ya?” sahut Junsu, masih saja betah menggodaku.

Aku tertawa. “Omong kosong. Lupakan soal kecantikanku. Sekarang katakan padaku kenapa kau datang ke sini. Kau tidak berniat untuk membatalkan pernikahan kita, kan?” tanyaku mencoba bergurau.

Entah kenapa, ekspresi wajah Junsu langsung berubah muram saat mendengar ucapanku. “Noona… Mianatta…” katanya pelan.

Aku mengangkat alis. “Mwo? Maaf untuk apa, Junsu-ah? Jangan bilang kalau kata-kataku tadi benar,” tukasku curiga.

Junsu menggeleng. “Anni. Aku bukannya minta maaf karena ingin membatalkan pernikahan kita. Aku…minta maaf karena telah membuatmu terpaksa harus menikah denganku, Noona. Appamu sudah bercerita tentang hubunganmu dengan seseorang bernama Park Yoochun. Aku tahu kau pasti sangat sedih sekarang, Noona. Gara-gara aku, kau harus mengalami hal seperti ini. Mianhae, Noona. Jeongmal mianhae…” ucap Junsu dengan mata yang nyaris berkaca-kaca.

Aku tersenyum tipis, kemudian beranjak mendekatinya untuk memeluknya. “Dasar bodoh. Aku sudah mengenalmu sejak kecil, Kim Junsu. Dan aku tahu bagaimana sifatmu. Kau tidak mungkin sengaja membuatku sedih. Kita hanya sedang bermain peran sebagai anak yang berbakti kepada orangtuanya, kau tahu? Jangan meminta maaf padaku. Sekarang, lebih baik kau bersiap-siap dan tunggu aku di altar gereja, arrasseo?” Aku berujar dari atas bahunya.

Junsu lalu balas memelukku. “Arra. Gomapta, Noona. Aku sayang padamu,” sahutnya, kemudian melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar padaku.

Aku ikut tersenyum. “Aku juga sangat menyayangimu, Junsu-ah.”

***

Aku turun dari limousin yang mengantarku dan appa ke gereja dengan perasaan yang tidak nyaman. Entah bagaimana, aku punya firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi hari ini, sebentar lagi. Dan benar saja, baru beberapa langkah aku berjalan ke dalam gereja, aku mendengar suara yang sangat familiar itu berteriak memanggil namaku bersamaan dengan suara deru limousin yang beranjak meninggalkan halaman gereja.

Aku langsung menoleh, menarik kaitan tanganku dari tangan appa yang berdiri di sampingku. “Yoochun-ah?!” teriakku, terkejut setengah mati saat melihat namja itu berdiri tak jauh dari tempatku sekarang. Wajahnya tampak kusut, dan rambutnya berantakkan. Pakaiannya juga acak-acakkan. Sebenarnya ada apa dengannya?

“Seungmi-ah… Mianhae…” Yoochun berteriak lagi dengan suara serak yang tidak biasa, yang membuatku tahu kalau dia juga sedang menangis.

“Park Yoochun, waeyo?!” balasku, kemudian mulai melangkahkan kakiku untuk mendekatinya, tapi sialnya tangan appa sudah keburu mencengkeram lenganku dengan erat.

“Maafkan aku, tapi aku sudah bohong padamu…” kata Yoochun sambil tetap memandang lurus ke arahku.

“Mworago? Apa maksudmu, Yoochun-ah? Aku tidak mengerti,” ujarku seraya mencoba melepaskan diri dari cengkeraman appa. Para bangsawan yang menjadi tamu pernikahanku juga mulai berbondong-bondong keluar dari gereja karena mendengar teriakan kami. Aku juga bisa melihat Kim Junsu dan kedua orangtuanya berada di antara tamu-tamu itu.

“Aku bilang aku harus bisa hidup tanpamu, begitu juga sebaliknya. Dan aku tahu, aku pasti bisa melakukannya, betapa pun sulitnya itu… Hajiman─aku tidak mau, Seungmi-ah. Aku tidak mau hidup tanpamu. Aku tidak mau merelakanmu menikah. Shiero, Seungmi-ah… Shiero…” Kini Yoochun sudah jatuh berlutut di pelataran gereja sambil menangis sesenggukkan.

Air mata juga sudah membahasi wajahku. Aku menoleh pada appa dan berkata padanya di antara isakanku, “Appa… Jebal, ku mohon… Lepaskan aku appa. Jebal… Appa…”

Tapi, appa tetap menggelengkan kepalanya. “Andwaeyo! Kau tidak boleh mendekatinya, Hwan Seungmi. Cukup sudah appa bersabar padamu. Sekarang cepat masuk ke dalam. Kau harus menikah dengan Junsu sekarang juga. Jangan membuat appa malu!” hardik appa seraya mengeratkan cengkeramannya di lenganku.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan frustasi, mengabaikan bisik-bisik para tamu di sekitarku, pandangan aneh yang dilemparkan kedua orangtua Junsu padaku, dan ucapan “Mianhae, Noona. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantumu sekarang” tanpa suara dari bibir Junsu. Yoochun bisa jadi akan melakukan hal yang lebih buruk dari sekedar berteriak-teriak tentang perasaannya di hari pernikahanku, dan aku jelas tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Aku sudah cukup menderita karena tidak bisa hidup bersamanya, dan kalau hal yang lebih buruk terjadi padanya… Aku─

“Seungmi-ah, mianatta. Jeongmal mianatta. Ku harap kita bisa bertemu di kehidupan yang lain. Saranghaeyo…” ucapnya pelan namun mantap. Aku kembali menolehkan kepalaku ke arahnya, dan DOR! Suara tembakan itu dengan cepat membuat jantungku mencelos dan sekujur tubuhku terasa kebas. Teriakan ngeri ku dengar di sana-sini, tapi aku merasa terlalu pusing untuk bisa memahaminya.

Tanpa berpikir aku menyentakkan cengkeraman tangan appa dengan sekuat tenaga dan berlari menyongsong Yoochun yang kini sudah berlumuran darah. Dia akhirnya roboh tepat saat aku sudah berhasil memeluk tubuhnya.

“Yoochun-ah! Park Yoochun! Jawab aku! Kau tidak boleh mati, paboya! Kau tidak boleh meninggalkan aku!” teriakku seraya mengguncang-guncangkan tubuhnya yang berada dalam pelukanku. Darah segar memang terus mengucur dari bagian kiri kepalanya, tempat di mana dia menembak dirinya sendiri. Aku tahu dia masih bernafas saat ini, jadi aku buru-buru berteriak lagi pada orang-orang yang berdiri terpaku di sekelilingku, “Apa yang kalian lihat?! Cepat panggil ambulans! Ppali!”

“Mmh─Mmianh─mianhhaeeh… Ssah─rangh─haehh…” Suara Yoochun yang terengah-engah masih bisa ku dengar dari atas bahuku.

Aku menggeleng-geleng. “Jangan banyak bicara Park Yoochun! Ku mohon, diamlah… Jebal… Jebal…”

***

“Jebal… Jebal… Jangan pergi sekarang… Jebal… PARK YOOCHUN!” Aku berteriak dengan keras kemudian terbangun dari tidurku dengan nafas yang nyaris putus. Aku melihat ke sekelilingku dan merasa pusing saat menyadari bahwa aku telah berada di kamar apartemenku, dengan wajah dan leher penuh keringat dan sekujur tubuh yang terasa dingin. Aku menunduk memandang tanganku, dan terkesiap ngeri saat melihat noda darah di telapak tanganku, merah dan masih segar. Tanpa dicegah air mataku turun lagi. Aku sangat takut dan bingung sekarang. Ku raih ponsel di nakas di samping tempat tidurku, kemudian ku pencet nomor ponsel Yuri tanpa berpikir.

Aku membuang nafas luar biasa lega saat Yuri mengangkatnya pada dering kedua. “Yeoboseyo?” sapanya di ujung telepon.

“Yuri-ah… Yuri-ah…hiks… Park Yoochun… Dia─dia─dia…hiks…bunuh diri… Dia menembak kepalanya…hiks  Banyak darah….di tanganku…hiks. Jebal, datanglah ke sini… Sekali ini saja…hiks. Jebal…aku takut, Yuri-ah… Jebal….hiks,” ucapku di selingi isakan.

“Mwo?! Apa kau bilang, Seungmi-ah?! Tunggu di situ, jangan melakukan apa pun! Aku akan segera ke sana, arrasseo?!” katanya dengan nada khawatir yang kentara.

“N─n─ne.” Aku menjawab terbata-bata, kemudin memutuskan sambungan.

***

Lima belas menit kemudian…

“Tenanglah, Seungmi-ah. Itu cuma mimpi buruk,” ucap Yuri seraya membersihkan noda darah di tanganku dengan handuk kecil.

Aku masih terisak seraya memeluk kakiku dengan satu tangan, duduk meringkuk di kepala ranjangku yang seprainya juga ikut ternoda darah. “Yoochun-ah… Yoochun-ah…” gumamku berulang-ulang.

“Sssttt… Jangan pikirkan dia lagi, Seungmi-ah. Dia mungkin sudah tenang di surga. Arra?” ucap Yuri lagi.

“Andwaeyo! Dia belum mati, Yuri-ah! Park Yoochun belum mati! Dia masih bernafas saat aku terbangun tadi! Dia masih hidup!” tukasku keras kepala. Tapi itu memang benar. Park Yoochun memang belum mati saat terakhir kali aku meneriakkan namanya sebelum terbangun tadi. Dan sekarang, saat aku yakin bahwa dia pasti ada di kehidupan nyata seperti Kim Junsu, aku justru tidak bisa memastikan keadaannya…

“Kau bilang Kim Junsu di dalam mimpimu itu memang Kim Junsu yang aku maksud, kan? Dan sekarang dia baik-baik saja, kan? Kalau begitu, kalau memang Yoochun belum mati, dia pasti juga baik-baik saja sekarang. Kau jangan khawatir, ya?” Yuri berusaha membujukku dengan lembut.

“Hajiman─”

“Kupastikan kau tidak akan memimpikan hal buruk lagi, Seungmi-ah. Semua akan baik-baik saja setelah ini.” Yuri menyelaku.

Dan faktanya, aku memang tidak pernah memimpikan Yoochun dan segala hal yang berhubungan dengannya lagi setelah malam itu.

***

Beberapa minggu kemudian…

Aku sedang duduk sendirian memandang jendela yang basah karena hujan di kantin kampus saat mendengar suara serak itu berbicara dari sebelah kiriku.

“Permisi. Joneun Micky Yoochun imnida. Apa kursi di sebelah Anda kosong? Kalau boleh aku ingin duduk di sini.”

Aku menoleh cepat dan ternganga sejadi-jadinya saat bertemu pandang dengan si pemilik suara serak itu. Rambut yang jatuh menutupi kening, sepasang mata coklat tua yang bersinar jenaka, hidung lancip yang terpahat sempurna, bibir tipis yang sedang tersenyum lebar, dan perban di bagian kiri kepalanya… Semuanya sama… Semuanya membuatku kehabisan nafas…

“Kau─” aku berkata terbata-bata, “PARK YOOCHUN?!”

DING!

Iklan
You’re My Sweetest Dream (2/2)

7 pemikiran pada “You’re My Sweetest Dream (2/2)

    1. hehe. jadi kepengen bikin sekuel beneran, nih *garuk kepala*
      tapi takutnya malah jadi aneh ntar wkwk~
      anw, makasih yaa buat komen manisnya :3
      jgn bosen main ke sini 😀

      1. Haha buat dong sequelnya, aneh jg gpp yg pntg romantis atau funny /kesanya maksa ya?/ lol
        saya suka sama bahasa ff kamu jd enak bacanya ^^

      2. hihihi. engga maksa kok. okedeh nanti dibikinin. tapi semoga sabar menunggu yaa. soalnya otak suka macet gajelas -.-*
        hehe makasih bgt yaaaaa :3
        jgn bosen main ke sini 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s