Rumah Tanpa Jendela

Jakarta, Desember 2011

Waktu aku menyetir mobilku melewati jalanan yang cukup lengang untuk ukuran kota Jakarta di malam hari, aku ingat padamu. Aku ingat pada kata-kata penyemangatmu yang manis, pada argumen-argumen konyolmu waktu kita berdebat, pada pujianmu yang tersirat, pada sikapmu yang seperti roller coaster, pada kebiasaanmu yang aneh, pada ucapanmu yang membingungkan, pada hal-hal favoritmu yang menyenangkan, dan pada segala keambiguan dan ketidakpastian yang kau petakan untukku. Belum-belum aku sudah rindu pada semua itu, dan aku tidak menyukai fakta menjengkelkan ini.

Kalau kau ingin tahu, aku sengaja melarikan diri dari rutinitas monotonku setiap malam: menyelesaikan paper-paper membosankan tentang credit review nasabah bank tempatku bekerja sambil menenggak bercangkir-cangkir kopi pahit favoritku hingga pagi buta, bukan untuk tenggelam dalam cerita lama tentangmu seperti saat ini. Tapi begitu melihat lampu-lampu kota Jakarta yang berpendar menakjubkan, yang membuatku seperti melihat langit dari atas, selalu saja mengingatkanku padamu. Bukan hanya karena kau pernah bilang padaku bahwa kau menyukai kedipan lampu-lampu kota di malam hari yang ramah, tapi juga karena cahaya mereka yang meredup kian larut membuatku menganalogikannya denganmu, dengan eksistensimu yang tampak semakin absurd kian hari. Kau tidak pernah mencoba mengisyaratkan perpisahan, hanya semakin menjauh, dan itu membuatku merasa seperti tersesat tanpa kompas atau peta di tengah hutan, sendirian.

Tahukah kau bahwa kadang aku ingin jujur padamu bahwa aku memang berharap? Tahukah kau bahwa aku memang besar kepala, karena pernah menganggap diriku istimewa untukmu? Tahukah kau bahwa aku, sampai detik ini, masih menyimpan semuanya? Dan sekarang, aku baru sadar bahwa aku telah berada terlalu jauh dari rumah, dan tak bisa menemukan jalan teraman untuk pulang. Kau tahu maksudku?
Depok, April 2007

Aku melirik arloji di tangan kananku. Pukul delapan malam. Fiuh. Aku menghembuskan nafas dengan berat, memunculkan uap serupa asap rokok yang mengabur di ujung hidungku. Sudah dua jam aku di sini. Sendiri. Kedinginan karena aku cuma mengenakan piyama dan sandal kamar waktu kabur dari jendela kamarku tadi. Aku duduk di atas ayunan kayu favoritku di sepetak tanah berumput yang berjarak limapuluh meter dari rumahku ini, tidak tahu harus melakukan apa selain berayun maju-mundur sambil bersenandung tidak jelas. Aku cuma ingin lari, sebenarnya. Lari dari rumah, dari kedua orangtuaku yang tidak bisa berhenti berdebat tentang segala sesuatu, walaupun itu cuma tentang jenis menu makan malam. Lari dari handphone tuaku, yang membuatku nyaris depresi karena benda persegi panjang itu tidak pernah memperdengarkan dering pesan singkatnya padaku, membuatku muak menunggu si ‘calon’ pengirim pesan. Lari dari buku rapor di meja belajarku, yang sepertinya terus-menerus menatapku dengan pandangan menghina sekaligus sakit hati, seakan menghakimiku atas deretan angka-angka tidak maksimal dalam lembar-lembar di dalamnya. Well, oke, aku memang berhalusinasi tentang buku rapor itu, tapi itulah yang aku rasakan. Dan semua hal itu menumpuk di hatiku, seperti plak di rongga gigi atau kerak di keramik kamar mandi. Membuatku nyaris tersedak dan memuntahkannya.

Seandainya bisa, aku kepengin menekan tombol pause di film kehidupanku ini, mengevaluasi apa saja yang tidak pas, kemudian menekan tombol rewind dan memperbaiki semuanya. Aku rasa itu adalah sebuah ide yang bagus mengingat situasiku saat ini.

Sekali lagi aku melirik arloji anti air yang tidak pernah lepas dari pergelangan tangan kananku, dan melihat bahwa sekarang sudah pukul delapan lebih duapuluh. Aku bisa merasakan gerimis mulai turun dan membasahi tubuhku, tapi aku enggan beranjak dari ayunan usangku. Aku masih ingin terpuruk di sini, bergelung dengan rasa frustasiku, meringkuk bersama keputusasaanku. Aku mendengarkan suara gerimis yang bertabrakan dengan pucuk-pucuk daun, tanah berumput, dan jalan setapak di seberangku dan berusaha menyatukan diri dengan suara-suara menenangkan itu. Aku juga mencoba berteman dengan perpaduan macam-macam perasaan dalam diriku. Dan aku sedang menimbang-nimbang untuk tinggal di sini sampai pagi ketika aku melihat sesosok tubuh kecil dan kurus berlari ke arahku. Tubuh itu terengah-engah ketika sampai di hadapanku, menatapku khawatir sekaligus marah.

“Kau tahu? Aku sudah mencoba meneleponmu hampir seratus kali dan aku bahkan tidak menyentuh sandwich tuna kesukaanku karena aku khawatir padamu, dan itu membuat nafsu makanku hilang. Kau beruntung karena aku sudah mengenalmu berabad-abad jadi aku bisa menemukanmu di sini dalam keadaan selamat. Dan sekarang, aku cuma ingin bilang bahwa aku benci padamu dan ayo kita pulang,” kata pemilik tubuh itu tanpa jeda. Aku tersenyum lemah memandang wajah di hadapanku. Wajah itu balas memandangku, menganalisa ekspresi wajahku yang muram, kemudian berujar lagi dengan nada yang lebih lunak, “Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja.” Sosok di hadapanku itu lalu mengulurkan tangannya yang dibalut sarung tangan warna hijau ke arahku. Detik itu juga aku tahu aku akan selalu percaya pada sosok itu, pada sahabatku. Jadi aku meraih uluran tangannya dan untuk pertama kalinya selama hari ini, aku bisa meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Dan itu karenamu, sahabatku.

 

Depok, Februari 2008

Aku bersandar di tembok bata merah rumah nomor duapuluh ini tadinya dengan euforia yang meluap-luap nyaris tumpah, tapi kemudian, dari menit ke menit, mulai digantikan oleh sesuatu yang disebut sikap apatis. Aku mulai bosan menunggu. Bersandar di depan pagar rumah bata merah berhalaman sempit tapi tampak sangat indah sambil mengetuk-ngetukkan sepatuku ke trotoar dengan ritme yang tidak teratur membuatku jenuh, lelah secara naluriah.

Sekarang sudah pukul dualimabelas tapi kau belum juga datang bersama seikat balon mejikuhibiniu, seperti yang kau janjikan. Aku sebenarnya mulai jengkel padamu, tapi aku masih mencoba percaya bahwa kau bukannya ingin melarikan diri dari ritual enam bulan kita: bertemu tepat di nol kilometer, di depan rumah bata merah tempatku bersandar sekarang, kemudian kita akan melepaskan balon-balon yang kau beli dari tukang balon di dekat sekolahmu bersama-sama, dan ditutup dengan makan mie ramen super pedas di kedai makanan Jepang di seberang rumah bata merah ini. Semuanya untuk mengistimewakan persahabatan kita, walau kadang aku tidak terlalu yakin dengan definisi persahabatan versiku dan kau. Mungkin lebih, mungkin malah kurang. Tapi semuanya istimewa dan tak ada duanya.

Kita memang jarang bertemu, hingga ritual enam bulan sekali yang kita lakukan ini tampak terlalu berarti bagi kita. Dan mungkin kita terlalu berlebihan memaknainya. Seperti sekarang, ketika limabelas menit keterlambatanmu sudah bisa membuat sinisme dan pikiran-pikiran negatifku muncul, walau aku masih mencoba percaya, seperti yang aku katakan. Sejujurnya, aku juga merasa bersalah atas kejengkelan dan kejenuhan yang aku rasakan sekarang, karena kalau aku menengok ke belakang, ke waktu di mana kita dengan susah payah mengukur jarak antara sekolahmu dan sekolahku, membaginya menjadi dua untuk menemukan nol kilometer tempat kita selalu mengawali pertemuan kita, waktu ketika aku melihatmu terduduk sendirian di depan rumah bata merah ini, nyaris pingsan karena menungguku hampir setengah hari untuk memberiku kejutan di hari ulangtahunku, waktu di mana kita saling menyalahkan atas topik yang sebenarnya tidak begitu penting, kemudian selalu menutupnya dengan lomba makan mie ramen porsi besar, semuanya membuatku merasa bahwa menunggumu di sini selama hampir tigapuluh menit belum bisa dibandingkan dengan betapa menyenangkannya segala hal yang telah kita lakukan bersama-sama. Jadi ketika pukul duatigapuluh aku mendengar bunyi bel sepedamu mendekat dan melihat kau tersenyum sangat lebar sambil menggenggam seikat balon mejikuhibiniu di tangan kirimu, aku bisa merasakan bahwa aku tidak pernah salah karena mempercayaimu, dan kekesalan yang sempat mampir di benakku tak beralasan karena kau tidak pernah mengecewakanku. Saat itulah aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta padamu, sahabatku.

 

Depok, Juni 2008

“Mi, kamu itu kayak rumah tanpa jendela, ya?” tanyamu, memandangku dengan tampang menganalisa.

Aku menghentikan aktivitas membaca majalahku dan mendongak menatapmu. “Hah?” sahutku tak mengerti.

“Iya, kamu kayak rumah nggak ada jendelanya,” ujarmu, tidak menjawab ketidakmengertianku.

Aku mengernyit. “Maksudnya?”

Kau nyengir lalu berkata, “Kamu itu bisa bikin orang nyaman, betah deket kamu. Tapi susah banget baca pikiran sama isi hati kamu, Mi. Ngerti maksudku, nggak?”

Aku memutar bola mataku. “Aneh, ah, analoginya. Kalau rumah nggak ada jendelanya, berarti pengap dong?” tanyaku asal.

Kau berdecak lalu mengacak rambutku, pura-pura jengkel. “Aku aja nggak bisa baca kamu, Mi. Padahal aku kan best man kamu. Ya, nggak?” ujarmu sambil mengedipkan sebelah mata.

Aku tercekat memandangmu. “Haha. Iya, kamu memang best man-ku. Best man yang payah,” ujarku lalu menjulurkan lidah. Kau menggelengkan kepalamu dengan putus asa. Aku suka saat-saat seperti ini.

 

Jakarta, Januari 2012

Jurnal Simmi, 10 Januari 2012

Aku mengenalnya seperti sebuah cerita lama.
Seperti perasaan saat aku membuka buku harian lamaku dan menemukan bahwa aku bisa memainkan kata-kata, mengubahnya menjadi gambaran, lalu menerjemahkannya sebagai perasaan.
Dia juga ku kiaskan sebagai rol film tua yang sudah ngadat.
terus berulang, memenuhi layar dengan adegan maju mundur , tapi tak pernah mencapai kata tamat.
Sia-sia saja menunggunya, karena kau hanya akan terus berada dalam labirin kebingungan .
Tak tahu harus kemana, tanpa peta, kompas, bahkan sedikit cahaya.
Tapi, walau bagaimanapun, segala tentang dia juga bisa ku rasakan bak permen lolipop.
Manis, penuh warna, indah, sekaligus membuatmu kecanduan.
Sayangnya, jauh di dalam hatiku, aku hanya bisa melihatnya sebagai langit mendung tak berbatas, yang membuatku merasa tak bisa bahagia lagi.

p.s : Kenapa kamu pergi, Ga? Kamu ninggalin rumah yang nggak ada jendelanya sendirian. Siapa yang bakal nyediain udara dan cahaya buat rumah ini, Ga?
p.s.s : Aku benci kamu. Sangat.

 

Jakarta, September 2012

Undangan Pernikahan

Airlangga Hadiwijaya & Kalyana Tantri
Rabu, 24 September 2012 pukul 19.00
Hotel Banyu Biru, Bandung, Jawa Barat

Aku limbung membaca undangan berwarna emas di tanganku. Ternyata, Angga nggak cuma pergi dari aku sebentar. Dia pergi untuk selamanya. Bukankah kisah ini terlalu menyedihkan untuk disebut romantis? Karena nyatanya Angga benar. Aku yang tolol karena menjadi rumah tanpa jendela. Aku yang bodoh karena mencoba menjadi seseorang yang tidak mau ‘dibaca’, bahkan olehnya, sahabat dan cinta pertamaku, Airlangga Hadiwijaya.

 

DING!

Iklan
Rumah Tanpa Jendela

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s