Jarak, Waktu, dan Rasa

note : puisi yang ini satu set sama cerita Rumah Tanpa Jendela yang saya post sebelumya yaaaaah 🙂

#Jarak

Dunia menggumpal dalam pintalan pertemuan dan perpisahan yang berulang
Kadang tamat, kadang tak terselesaikan
Terjejak di atas tanah, atau menggantung di udara
Kita, salah satu di antara keduanya
Berdiri dengan spasi tak terkatakan,
Menggenggam depa-depa jarak yang tak terjumlahkan,
Rasanya aku tak bisa lagi melihatmu dari jendela,
Dua meter dari tempatku mengatakan ini semua

 

#Waktu

Kau tahu, jika ku bilang di sini waktu tiba-tiba ku rasa seperti udara,
Itu bukan cuma tentang kata
Karena bagaimana bisa aku memikirkanmu tanpa jeda,
Jika waktu seterbatas kata mereka?
Dan kau mulai ku lihat di mana-mana,
Menyentuhku dalam mimpi atau ketika terjaga,
Makin meyakinkanku jika waktuku adalah udara
Katakan padaku ini hanya teori, gumpalan kata-kata semata, halusinasi atau semacamnya
Karena jika kau bertanya,
Inginnya hanya ini yang jadi jawabannya :
Aku benci padamu sepenuhnya,
Dengan seluruh waktu yang aku punya

 

#Rasa

Tak bisakah kau membohongi waktu untukku?
Tak bisakah kau menipu jarak buatku?
Saat aku terjaga dari pilin-pilin mimpi tentangmu,
Dan kau ada, begitu saja
Saat rasa tak lagi punya tempat bercerita,
Dan kau tiba, begitu saja
Saat hanya rindu yang berbicara,
Dan kau di sana, memberiku jawabannya
Ketika segala rebah tanpa tanya, begitu saja
Tak bisakah kau, cinta?

 

Iklan

2 pemikiran pada “Jarak, Waktu, dan Rasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s