Tentang Lelaki dan Perempuan

BGM : Where Would We Be Now-Good Charlotte

Oke. Dia adalah perempuan menjelang dewasa yang sering menertawakan kebodohannya sendiri. Umurnya 20 lebih 9 bulan, kalau kau ingin tahu. Dan perempuan ini sangat menyukai stasiun kereta bawah tanah yang ada di kotanya. Dia suka pada semua detailnya. Pada peron-peronnya yang selalu ramai; pada bangku-bangku panjang tempat orang-orang duduk dengan ekspresi yang rata-rata sama : bosan, mengantuk, cemas, atau tidak sabar; pada gelas-gelas kertas bekas kopi yang berserakan di bawah bangku; pada peluit-peluit yang bunyinya selalu bisa mengejutkan si perempuan; pada kereta-kereta yang berhenti terlalu sebentar dan pergi terlalu lama, dan pada lelaki. Ya, lelaki itu.

Si perempuan selalu suka pada cara berjalan si lelaki yang aneh : menunduk dan tersaruk-saruk, tapi sangat cepat, seperti ingin menghindari keramaian. Perempuan juga menyukai topi kumal warna abu-abu yang selalu dikenakan si lekaki. Pernah suatu kali, ketika lelaki hampir saja menabrak perempuan di dekat loket tiket nomor tiga, lelaki mendongakkan kepalanya, hingga akhirnya perempuan bisa melihat matanya. Rupanya sepasang mata itu berwarna abu-abu pucat dengan sedikit sentuhan warna hitam,  serasi dengan topi kumal abu-abu yang tadi sempat ku sebut-sebut. Bukannya sengaja, tapi perempuan hafal benar dengan kebiasaan si lelaki. Dia tahu, si lelaki selalu turun di stasiun ini dari kereta yang datang pukul setengah lima, menjelang senja. Kemudian, dengan cara berjalannya yang khas itu, lelaki akan menyeberangi rel stasiun menuju kedai kopi di dekat peron yang paling sepi untuk memesan segelas latte panas dan sepotong donat tanpa rasa. Selalu begitu setiap hari, setiap kali perempuan melihat si lekaki. Lalu, lelaki akan duduk di bangku coklat yang paling ujung di stasiun, sendirian, menyesap lattenya tiap dua gigitan donat. Dan ketika peluit kereta pukul lima lebih sepuluh ditiup, lelaki akan melempar gelas lattenya yang sudah diminum setengahnya ke tong sampah dengan gaya ala pemain baseball profesional, kemudian berlari menaiki kereta nyaris kosong itu. Bagi perempuan, apa yang dilakukan si lelaki adalah menggelikan, tapi sekaligus juga menarik. Hal-hal kecil yang kadang terlewatkan oleh orang lain itu bisa membuat perempuan tersenyum, dan senyum itu terasa menyenangkan.

Mungkin lelaki tahu, mungkin juga tidak, bahwa perempuan selalu mengikutinya kemana-mana, seperti penguntit di film-film detektif yang biasa ditayangkan di televisi itu. Perempuan selalu menyipitkan matanya di antara keramaian untuk menemukan, setidaknya, punggung si lelaki. Lebih jauh lagi, perempuan akan menyamarkan dirinya di antara orang-orang waktu mengejar si lelaki berjalan, karena perlu kau tahu, langkah lelaki lebarnya adalah dua kali langkah perempuan dan terkadang hal-hal semacam itu memang agak merepotkan. Saat lelaki menyesap lattenya untuk pertama kali, perempuan akan berpura-pura sedang mengantre di kedai kopi sambil sekali-dua kali melirik ke arah si lelaki, memastikan lelaki masih berada di tempat seharusnya dia berada. Lalu, dengan sengaja perempuan akan menjatuhkan koin-koin peraknya di dekat kaki lelaki waktu lelaki menunggu kereta lima lebih sepuluh di bangku paling ujung favoritnya, seperti biasa.

Mungkin lelaki tahu, mungkin juga tidak, bahwa bagi perempuan, lelaki adalah objek terbaiknya di stasiun kereta bawah tanah ini, setidaknya sejak perempuan mulai menjadikan tempat ini sebagai tempat yang paling disukainya di dunia selain rumah pohon buatan ayahnya dan taman hiburan di pusat kota kecilnya. Perempuan sangat suka memotret dan itulah sebabnya dia senang  menahan bayangan si lelaki dalam berbagai sudut pandang versinya. Perempuan seolah telah memiliki lelaki secara keseluruhan,  dalam bentuk film negatif yang semuanya di simpannya di kamar gelap di loteng rumahnya. Kalau kau ingin tahu, perempuan ini sebenarnya masih amatiran dalam hal fotografi.  Tapi, entah kenapa jika dia menjadikan lelaki sebagai objek fotonya, hal itu selalu berhasil membuat foto yang diambilnya tampak sempurna.

Sejauh ini, perempuan tidak pernah tertarik untuk mengenal lelaki secara pribadi. Perempuan merasa tidak penting untuk mengetahui siapa nama si lelaki, di mana dia tinggal, apakah dia memelihara kelinci seperti si perempuan, atau hal-hal sederhana lain semacam itu. Bagi perempuan, kedatangan lelaki ke stasiun bawah tanah kesukaannya itu sudah lebih dari cukup untuk menyempurnakan harinya. Perempuan takut, jika dia mendatangi lelaki sambil mengulurkan tangan dan bertanya siapa namanya, hal itu justru akan membuat lelaki menjauh, atau parahnya tidak akan datang lagi ke stasiun ini. Entahlah. Pikiran-pikiran aneh semacam itu memang terkadang memenuhi kepala perempuan. Itulah sebabnya kenapa selama hampir setahun ini perempuan selalu memotret si lelaki dengan diam-diam, sambil berusaha untuk tetap tidak terlihat oleh si lelaki. Namun, ada satu hal yang mungkin diabaikan oleh perempuan. Satu hal yang akan membuat perbedaan besar jika dia mengetahuinya. Satu hal tentang si lelaki, yang sampai saat ini belum dia ketahui.

***

4 tahun lalu…

Lelaki sedang membereskan lokernya ketika dia melihat perempuan untuk pertama kali. Perempuan juga sedang membereskan lokernya yang berada tidak jauh dari loker lelaki. Saat itu keduanya masih sama-sama remaja, remaja tanggung lebih tepatnya. Usia mereka bahkan belum mencapai angka 17. Lelaki memandang perempuan nyaris tanpa berkedip, memperhatikan wajah berbintik-bintik kemerahan milik perempuan, hidungnya yang ditindik dengan anting kecil, rambut coklat keemasannya yang diikat asal-asalan, serta poninya yang diselipkan seenaknya ke balik telinga. Entah kenapa, hal-hal yang sebenarnya sangat biasa itu membuat lelaki terpesona pada perempuan. Dan walaupun dia belum dewasa, film-film drama romantis yang terkadang ditontonnya di akhir pekan telah memberitahunya satu hal, yakni bahwa dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada perempuan.

***

“Kau naksir dia, ya?” tanya salah seorang teman si lelaki suatu kali, sambil mengarahkan dagunya ke arah perempuan yang saat itu sedang duduk di bangku semen tak jauh dari tempat lelaki dan dua temannya duduk.

Lelaki mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, salah tingkah.

Well, dia kan cewek aneh, man. Apa kau nggak tahu soal itu?” tanya teman si lelaki lagi, kali ini bersikap seolah mereka sedang membicarakan seorang kriminal yang menjadi buronan polisi.

Lelaki menggeleng polos. “Nggak. Aneh bagaimana maksudmu?” sahutnya, nadanya agak defensif.

“Orangtuanya bercerai belum lama ini. Ayahnya pemabuk dan suka main wanita. Ibunya bahkan pernah masuk rumah sakit gara-gara dipukuli oeleh ayahnya. Sejak saat itu keluarganya dikucilkan dan tidak ada seorang pun yang mau menyapanya ketika berpapasan dengannya di jalan,” ujar teman si lelaki, masih tetap setengah berbisik.

“Darimana kau tahu semua itu?” tanya si lelaki acuh tak acuh.

“Kami tinggal tak jauh dari rumahnya, dude. Di daerah Bougenville Street. Kau tentu tahu di mana letaknya,” jawab teman si lelaki sambil mengangkat bahu.

Lelaki tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia kini sibuk melanturkan pikirannya ke mana-mana sambil memandangi perempuan yang masih berada di tempatnya semula, sibuk membaca buku entah apa. Lelaki tahu ibunya pasti akan marah besar kalau tahu dia menyukai perempuan dari keluarga broken home. Tapi dia juga tahu, dia menyukai perempuan bahkan tanpa alasan. Dia hanya menyukainya, dan rasanya tidak ada yang lebih penting selain menyukai seseorang apa adanya. Lelaki tersenyum, merasa pikirannya sangat dewasa dan keren pada saat yang bersamaan. Well, pikiran lelaki yang belum mencapai usia 17 tahun terkadang memang sangat sederhana, sesederhana hasil perhitungan 1×1 dalam pelajaran matematika.

***

Hari ini hari Sabtu dan itu artinya perempuan akan berada di stasiun kereta bawah tanah sebelum pukul setengah lima, menunggu kedatangan lelaki. Seperti biasa, dengan mantel tebal berwarna coklat, topi baret, dan sepatu boots tuanya, perempuan akan bersandar di balik pilar, berdiri menghadap ke arah yang berlawanan dengan kedatangan kereta yang ditumpangi lelaki. Tapi ini sudah pukul lima kurang seperempat dan si lelaki belum muncul juga. Perempuan merasa ini agak sedikit ganjil. Ke mana perginya lelaki? Apa terjadi sesuatu padanya? Apakah dia naik kereta yang berbeda karena suatu alasan? Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di kepala permpuan, membuatnya makin gelisah. Dia melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Lima kurang sepuluh. Bahkan kereta yang biasanya dinaiki lelaki menjelang senja sudah akan berangkat. Perempuan memutuskan untuk pulang saja. Toh, dia juga masih bisa melihat lelaki besok atau lusa. Lelaki bukan seseorang yang perlu dikhawatirkan seperti ini, kan?

Lalu perempuan mendengar suara itu, tepat saat akan membalikkan badan dan berjalan pulang. “Hei, sudah lama menunggu, ya?” Itu suara lelaki. Perempuan menoleh, menatap pemilik sepasang mata abu-abu yang berdiri sambil memegang dua gelas latte di kedua tangannya. Lelaki tersenyum padanya. Mendadak perempuan speechless. Dia kehilangan kata-kata.

DING!

Iklan
Tentang Lelaki dan Perempuan

2 pemikiran pada “Tentang Lelaki dan Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s