Ini Untukmu, Ibu.

Ini untukmu.

Aku di sini, Ibu, mencoba berbicara padamu meski mata kita tak bisa beradu.

Ada jutaan rindu di duniaku untukmu, Ibu, ketika malam-malam di tempatku kulewatkan tanpa senyum dan belaianmu.

Duniaku tak sama tanpamu, tanpa dendang pagi harimu dan senandung menjelang tidurmu.

Aku selalu, dan akan selamanya, mengingat segala hal tentangmu.

Tentang bagaimana kau akan membangunkan aku dari tidurku yang kelewat lelap, tentang bagaimana kau akan mengingatkanku untuk melaksanakan sholat, tentang bagaimana kau akan memasakkan makanan kesukaanku, tentang bagaimana kau akan bertanya padaku bagaimana hariku atau apakah segalanya berjalan baik-baik saja. Dan untuk semua itu, Ibu, rasanya aku mau menukar apa pun hanya agar bisa menyimpan segala hal itu di dalam ingatanku.

Kita sedang jauh, Ibu, dan setiap kali mengingatmu, aku tidak bisa bilang pada diriku sendiri untuk tidak menangis. Bukan, Ibu. Aku bukannya menangis karena sedih, atau justru karena bahagia. Aku menangis karena rindu, Ibu. Karena rinduku untukmu kadang-kadang memang tak bisa ditangguhkan.

Kalau bisa, Ibu, aku selalu ingin kembali ke waktu di mana aku masih suka menyelinap ke peraduanmu, menyusup di bawah lenganmu, mengganggu tidurmu, dan pada akhirnya mendapat usapan di kepala dari tanganmu. Aku juga ingin kembali ke waktu di mana kau yang mengantar-jemput aku ke sekolah, kau yang membanggakan aku di depan ibu teman-temanku, kau yang tersenyum padaku saat aku mendapat ranking pertama pada kenaikan kelas, kau yang memarahiku atas kesalahanku, tapi lalu kau jugalah yang menuruti apa pun keinginanku. Aku ingin kembali ke saat-saat itu, Ibu, kalau saja bisa.

Di sini, di setiap malam-malam yang kulewatkan tanpamu, setiap telepon dan pesan singkat darimu selalu saja bisa membuatku jadi kelewat melankolis. Aku tidak akan pernah bilang padamu, tapi sebenarnya aku selalu menangis setiap kali kau meneleponku atau mengirim pesan singkat bernada khawatir padaku. Aku pasti akan mati-matian berusaha terdengar baik-baik saja, hanya agar kau tidak lagi cemas dan khawatir karena aku.

Di sini, di antara hari-hari yang kulewatkan tanpa jeda, setiap tanggal dan waktu yang berlari bersamaku membuatku tahu bahwa pada akhirnya aku akan tiba pada kepulanganku padamu, dan itu membuatku sejuta kali lebih bersemangat lebih dari siapa pun juga untuk melewatinya.

Dan di sini, bersama dengan sekotak besar mimpiku untuk membahagiakanmu, aku menjadikan senyum dan tangis harumu sebagai motivasi terbesarku untuk terus, terus, dan terus berjalan ke ujung tujuanku, hingga ketika aku tiba di sana pada akhirnya, aku akan menemukanmu yang sedang menungguku, dengan kedua lengan terentang, menawarkan pelukan paling hangat yang bisa ku sambut.

Kau, Ibu, dengan pemahaman magis tentangku dan segala tingkah anak-anakku yang terkadang aku sendiri pun tidak mengerti, selalu punya cara untuk membuatku tenang, membuatku belajar berteman dengan kegagalan dan kesedihan, menguatkanku ketika aku merapuh di atas kakiku, memberiku nasehat tentang hidup, dan membimbingku untuk dapat memegang kendali atas hidupku tanpa kehilangan jati diriku.

Maafkan aku Ibu,

Karena sampai usiaku berada di penghujung kesembilan-belaspun, aku masih belum sanggup memberimu apa yang sepantasnya kau dapatkan.

Aku masih terlalu kekanak-kanakkan untuk memahami bahwa cintamu tidak pernah cukup untuk dibalas hanya dengan deretan kata-kata dan ungkapan rindu dariku.

Aku masih terlalu egois untuk berhenti memintamu mencintaiku, memintamu memperlakukanku seakan aku masih gadis kecilmu yang bahkan belum bisa mengikat tali sepatunya sendiri.

Aku masih ingin mendengar marahmu, tawamu, senyummu, tangis harumu.

Aku masih ingin merasakan pelukanmu, belaianmu, usapan tanganmu, tepukan lembutmu di kepalaku.

Aku juga masih terlalu bodoh untuk memperbaiki kemampuan verbalku yang buruk, yang bahkan terlalu sulit untuk bilang padamu bahwa, “Aku sangat sayang sekali padamu, Ibu. Dan aku merindukanmu. Sungguh.”

Jadi, sebelum kata-kata ini menjadi semakin kacau nantinya, aku ingin menyampaikan sebuah hal padamu :

Terimakasih, Ibu. Untuk menjadi wanita paling hebat yang pernah diciptakan Allah SWT dalam hidupku. Untuk menjadi Ibu paling luar biasa di dunia. Untuk cinta yang tak ada habisnya. Untuk tetap bersamaku. Untuk segalanya, terimakasih.

 

Dengan sekotak cinta dan segebung rindu,

 

Aku, (masih) gadis kecilmu

Iklan

2 pemikiran pada “Ini Untukmu, Ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s