Aku Rindu Kamu, Dik.

Sebuah penggalan kisah cinta sederhana…

Aku membaca surat itu lagi, lagi, dan lagi. Surat tentang janji-janji, surat tentang rindu di hati, surat tentang dorongan sinting untuk berlari dan kembali, menemuiku di sini. Surat bertuliskan huruf-huruf penyusun namamu─Airlangga, suamiku.

***

Selamat malam, Tantri.

Lagi-lagi ini aku, yang masih mencoba berbicara padamu lewat tulisanku. AKU-RINDU-KAMU. Aku ingin kembali. Aku ingin ada di dunia yang sama denganmu lagi.  Aku ingin menikmati pagi bersamamu. Aku ingin menyantap masakan buatanmu. Aku ingin tertidur di sampingmu. Aku ingin menggenggam tanganmu. Aku ingin rindu ini menemui keinginannya. Dan itu kamu, istriku.

Tunggu aku, seperti setiap malam yang telah kau habiskan setahun ini. Doakan aku, agar Amerika tidak mengubahku seperti musim-musim yang dimilikinya. Tetap cintai aku, Tantri. Maka aku akan kembali bersama segala rindu yang ku miliki, untukmu, selalu hanya untukmu.

Dengan banyak sekali cinta,

Airlangga-mu.

***

“Mas, aku udah baca surat kamu. Aku juga kangen kamu, Mas,” ucapku di ujung telepon.

Suamiku tertawa. “Tumben kamu ngaku kalau kangen sama aku, Dik. Kamu sehat-sehat aja, kan?” candanya, mau tidak mau membuatku memutar bola mata.

“Alhamdulillah sehat, Mas. Justru kalau aku sehat ngomongnya jadi begini, Mas. Nggak terkendali,” sahutku membalas candaannya.

Di ujung sana, Mas Angga─begitu aku biasa memanggilnya, mengumandangkan tawa panjangnya lagi. “Aduh, Dik. Kamu jangan bikin aku tambah kangen sama kamu, dong. Sekarang di sini lagi musim dingin, nih. Dan kamu harus tahu betapa nggak enaknya merindukan istri sendiri di musim dingin seperti ini.”

“Iya, iya, maaf. Makanya, kamu sekolahnya yang rajin. Nggak semua orang bisa dapet beasiswa S2 keluar negeri kayak kamu kan, Mas?” kataku mewanti-wanti.

“Siap komandan!” ujar suamiku dengan suara yang dibuat-buat ala tentara. Aku tertawa mendengarnya.

“Ya, sudah. Sekali lagi makasih buat surat super romantisnya. Sering-sering aja bikin yang kayak begitu,” cetusku setengah bercanda.

“Huuu…maunya.” Mas Angga mencibir sambil tertawa. “Oke, udah dulu ya, Dik. Selamat tidur. Mimpi indah, ya?” lanjutnya lembut.

“Eh, ada yang kelupaan,” cegahku sebelum dia keburu memutuskan sambungan.

“Apa?”

“Ini aku punya kata-kata bagus buat kamu,” aku berdeham sebelum melanjutkan, “Kata ibuku, rindu itu kadang cuma perlu dinikmati aja, Mas. Karena dengan begitu kita nggak akan pernah merasa takut kehilangan. Get it?”

Mendengar kata-kataku, Mas Angga mendesah di ujung sana. “Iya, Dik, aku ngerti. Doain aja supaya aku kuat, ya?”

“Insya Allah, Mas. Insya Allah,” ujarku menenangkannya.

“Selamat malam, Dik. Aku mencintaimu karena Allah.”

“Selamat malam, Mas. Aku juga mencintaimu karena Allah,” jawabku, lalu menutup telepon dengan perasaan yang luar biasa lega.

 

DING!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s