[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Ksatria Penjaga dan Gadis Gula-gula

Note : Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Fiksi Fantasi 2012 yang diadakan oleh Ninelights Production bekerjasama dengan nulisbuku.com.

Keywords : gula-gula, cerpelai, polkadot, rasi, pasar malam, rajah, salju

Characters (no spaces) : 9994

***

“Temukan gadis itu segera. Aku hanya mau dia yang jadi istriku. Mengerti?” Raja Galarangga bertitah kepada Arayya, salah seorang ksatria utama kerajaan yang juga adalah teman baiknya sejak kecil.

Arayya mengangguk. “Saya mengerti, Yang Mulia. Saya pasti akan menemukan gadis itu untuk Anda,” katanya, mantap dan penuh keyakinan.

“Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu, Arayya,” ujar raja, kemudian menepuk pelan bahu Arayya.

***

Bagi Arayya, setiap kata raja adalah putusan. Jadi, kalau sekarang Galarangga memintanya untuk menemukan gadis yang diinginkannya untuk dijadikan istri, Arayya tahu bahwa meskipun waktu diputar mundur, dia tetap tak akan bisa menolak dan berkata tidak. Dan karena dia mengenal Galarangga sejak kecil, dia tahu bahwa sekali raja muda itu menginginkan satu hal, dia akan mengejarnya sampai dapat, tak peduli bahwa nyawa pun bisa jadi taruhannya.

Satu hal yang tak dimengerti Arayya, kenapa Galarangga bisa jatuh cinta kepada gadis biasa seperti Paramitha, dan kenapa gadis itu justru dengan sangat berani malah menolak cintanya dan melarikan diri dari desa tempat tinggalnya Memang, gadis itu cukup termahsyur di kalangan penduduk di sekitar istana. Mereka bahkan menyebutnya gadis gula-gula, karena konon katanya setiap hal yang ada pada gadis itu membuatnya terlihat manis luar biasa. Sepasang matanya, pahatan hidungnya, lekuk bibirnya, bentuk senyumnya, deretan giginya, semburat pipinya, hingga ikal-ikal rambut yang jatuh dengan lembut di bahunya, semuanya melebur jadi satu untuk membuatnya terlihat sempurna. Itu semua kabarnya membuat pemuda seantero desa berebut untuk memilikinya. Tapi, tetap saja bagi Arayya, mustahil kalau gadis desa, semanis apa pun dia, bisa membuat Galarangga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama—seperti yang pernah diceritakan sahabatnya itu padanya. Dan lebih mustahil lagi kalau gadis itu sampai berani menolak lamaran sang raja mentah-mentah dan memilih untuk menghilang entah ke mana, seperti sekarang.

Semua hal-hal itu begitu memenuhi kepala si ksatria ketika dia tengah duduk sendirian di padang rumput belakang istana untuk menikmati hembusan angin yang menyapu wajah dan helai-helai rambutnya. Arayya membuka matanya dan menatap langit penuh bintang di atas kepalanya, berharap bintang bisa jatuh kali ini saja, karena dia ingin permintaannya untuk menemukan petunjuk tentang keberadaan Paramitha dikabulkan oleh dewa.

“Aku ingin menemukan gadis itu. Aku ingin. Dan harus. Tidak boleh tidak,” dia berkata tegas kepada dirinya sendiri.

Bruk! Sebuah bunyi debam keras membuat Arayya terlonjak dari duduknya. Dia buru-buru memicingkan mata mencari sumber suara, dan refleks bergerak mundur dari tempatnya karena tak percaya atas apa yang dilihatnya—sebuah bintang, dan seekor cerpelai yang muncul dari baliknya.

“Aku harusnya tidak memilih naik benda ini. Payah sekali mendaratnya,” umpatan terdengar dari tempat si cerpelai berada, yang membuat Arayya semakin meragukan keabsahan penglihatan dan pendengarannya.

“Kau—cerpelai…bisa—kau bisa bicara?” Arayya terbata-bata bertanya.

Si cerpelai berkulit kelabu yang kini tengah melompat-lompat kecil ke arahnya tampak memutar mata sebelum berujar sambil menunjuk langit, “Di atas sana, apa saja bisa bicara, Nak. Kau akan kaget kalau tahu gumpalan awan-awan itu pintar merayu. Ah, kau juga tak akan percaya kalau bintang bisa jadi sangat cerewet dan menyebalkan.”

Arayya mengerjapkan matanya berkali-kali, masih bingung dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. “Tadi itu…bintang jatuh, kan? Bagaimana kau bisa ikut jatuh juga?” tanyanya lagi.

“Aku naik bintang yang kau sangka jatuh itu, lebih tepatnya. Tapi kurasa aku telah mengajak bintang yang salah untuk bepergian. Pantatku masih terasa sakit sampai sekarang,” keluh cerpelai kelabu seraya mendelik jengkel ke arah bintang yang kini tergeletak tak berdaya di ujung kaki Arayya. “Ngomong-ngomong, kau tadi menyebutkan sebuah permintaan, kan? Langsung saja, ya, aku disuruh ke sini oleh Raja Langit untuk membantumu menemukan si gadis gula-gula. Kalau tidak salah, sih, dia masih bersembunyi di Hutan Polkadot sampai sekarang,” lanjut cerpelai tanpa jeda.

“Tunggu sebentar. Kau mengenal Paramitha? Dan darimana kau tahu kalau dia berada di Hutan Polkadot? Bukankah hutan itu dikenal mengerikan, sampai-sampai tak ada manusia yang berani mendatanginya?” tuntut Arayya bertubi-tubi.

Cerpelai mengibaskan ekornya dengan tak sabar. “Aku cuma pesuruh yang diminta menyampaikan kabar, Nak. Semua yang kau tanyakan tadi, jawabannya hanya diketahui Raja Langit,” sahutnya, “Sudah dulu, ya. Aku buru-buru. Bintang di sana itu mungkin tak akan mau mengantarku kembali ke langit kalau aku terlalu lama bicara denganmu.”

“Hei. Aku, kan, belum selesai bertanya,” Arayya menukas buru-buru.

Tapi cerpelai kelabu keburu berbalik dan dengan cepat sudah mencapai tempat bintang yang berkedip-kedip lemah di dekatnya. “Selamat berjuang, Ksatria. Sampai jumpa!” katanya, melambaikan ekornya sebentar sebelum melompat ke atas bintang dan melesat kembali ke angkasa.

Arayya terganga, masih tak habis pikir dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Tapi, satu sudut hatinya mengatakan padanya bahwa Paramitha memang benar-benar sedang berada di Hutan Polkadot untuk bersembunyi dari Galarangga. Dan dia akan segera menemukan gadis itu secepatnya, apa pun resikonya.

***

Hutan Polkadot masih gelap ketika Arayya tiba di sana keesokan paginya. Ia berjalan pelan-pelan memasuki kedalaman hutan yang belum dikenalnya. Dia hanya tahu, dia tak boleh menyentuh motif-motif polkadot yang menghiasi batang-batang pohon di sekitarnya karena bagian itu menyimpan racun yang mematikan, yang akan langsung membunuh manusia yang lalai menyentuhnya. Selain itu, daun-daun pohon yang berwarna seputih salju konon adalah tempat tinggal burung pemangsa segala yang bisa menyerang penganggunya kapan saja.

Tanpa disadarinya, Arayya telah semakin jauh memasuki hutan ketika didengarnya suara gemerisik pelan dari sebelah kirinya, tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Dia menoleh cepat dan bergerak hati-hati ke arah sumber suara, untuk kemudian bernafas lega karena apa yang dicarinya mungkin telah ditemukannya. Di sana, di antara bonggol-bonggol akar pohon polkadot, dia melihat seorang gadis tengah tertidur lelap. Arayya mendekati gadis itu perlahan, dan semakin yakin bahwa gadis itu adalah Paramitha setelah melihat dengan jelas fitur wajahnya. Matanya, hidungnya, bibirnya, pipinya, rambutnya, semua sesuai dengan apa yang selama ini didengungkan oleh penduduk desa. Dalam hati Arayya mengakui bahwa gadis ini memang manis, semanis gula-gula. Dan dia tak lagi bertanya-tanya mengapa Galarangga bisa jatuh hati pada pandangan pertama kepadanya.

Ksatria itu tersenyum, tak menyadari bahwa gadis di dekatnya telah bangun dan menatapnya dengan sorot ketakutan yang kentara. “K—kau…s—siapa?”

Arayya mengerjap, kemudian buru-buru berujar dengan suara selembut mungkin, “Tenang, jangan takut. Aku Arayya, ksatria penjaga raja. Aku ke sini untuk mencarimu dan membawamu pulang ke istana. Kau mau, kan, ikut denganku?”

Mulut Paramitha membulat, kemudian kepala gadis itu dengan cepat menggeleng kuat-kuat. “Tidak!” pekiknya, “Aku tak mau pulang dan diperistri raja! Aku tak mau! Aku benci padanya!”

Arayya mengerutkan kening mendengar ucapan gadis di hadapannya. “Kau benci pada Raja Galarangga? Kenapa?” tanyanya tak mengerti.

“Orang itu jahat. Dia ingin meniadakan pasar malam yang selalu berangsung tiap akhir pekan di alun-alun dekat istana. Padahal, aku sangat menyukai komidi putar dan bianglala. Ayah dan ibuku juga bekerja di sana, sebagai pembaca ramalan rasi bintang dan penjaga sirkus binatang-binatang,” kisah Paramitha, kemudian mulai terisak-isak dengan merana.

Arayya menghela nafas panjang setelah menyimak kisah Paramitha. Rupanya, karena itu gadis ini tak mau diperistri Galarangga. Arayya berjanji dalam hati untuk segera mengatakan pada sahabatnya itu agar membatalkan keputusannya meniadakan pasar malam jika Galarangga tak mau kehilangan gadis pujaannya. “Paramitha, kau tak usah khawatir. Aku pastikan raja tak akan meniadakan pasar malam di dekat istana. Ayah dan ibumu akan baik-baik saja. Jadi, ikut pulang bersamaku sekarang, ya? Raja sudah menunggumu sejak lama,” ujar Arayya lembut.

Mata bulat Paramitha yang kini merah dan basah oleh air mata memandang Arayya dengan pandangan menderita yang sama dengan sebelumnya. “Tapi aku tak bisa. Aku sudah ditandai dengan rajah oleh peri penunggu hutan ini. Aku sudah dijadikan tawanan olehnya. Aku harus tinggal di sini selamanya,” bisiknya dengan suara kecil.

Arayya terkesiap. “Tawanan…selamanya? Kau gila, ya? Memangnya tak ada cara lain untuk menyelamatkanmu?” tanya ksatria itu gusar.

Paramitha mengangguk ragu-ragu. “Aku akan bebas…hanya jika ada manusia yang bersedia menggantikanku menjadi tawanan selamanya di sini sampai—“

“Sampai apa?” Arayya memotong tak sabar.

“Sampai tawanan itu membeku dan menjadi patung batu di sini pada akhirnya, seperti yang terjadi pada semua tawanan milik peri hutan lainnya.” Akhirnya Paramitha bisa menyelesaikan kalimatnya.

Arayya tertegun, cukup lama hingga dia bisa merasakan keheningan yang tak nyaman menggantung di udara pekat di sekitar mereka. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya ksatria penjaga raja itu menghela nafas dan berujar lembut pada Paramitha, “Kau pulanglah ke istana sekarang dan temui raja secepatnya untuk memberitahunya tentang keinginanmu. Aku yang akan menggantikanmu di sini. Mengerti?”

Mata Paramitha membulat tak percaya. “Tidak! Tentu saja aku tak bisa membiarkanmu menggantikanku jadi tawanan dan berakhir sebagai patung batu di sini! Aku bukan gadis sepicik itu!”

Arayya menggeleng tak sabar. “Walaupun kau tak mau, kita tetap akan mati kalau berani mencoba kabur dari sini tanpa sepengetahuan peri hutan. Kau tahu, kan, kalau burung-burung pemangsa segala yang tinggal di antara dedaunan bisa diperintahkannya untuk membunuh kita kapan saja?”

Paramitha terdiam sejenak ketika menyadari kebenaran pasti yang terdapat dalam setiap kata-kata Arayya. Kalau begitu…

“Kau saja yang pulang. Biar aku yang tetap di sini,” kata gadis itu akhirnya.

“Tidak,” Arayya menukas tegas. “Kau yang pulang. Galarangga menunggumu. Dia mencintaimu, dan dia sahabatku. Aku lebih baik mati daripada harus melihatnya bersedih seumur hidupnya.”

“Tapi Arayya—“

“Pergilah, Paramitha. Sekarang,” kata Arayya tajam.

Untuk terakhir kalinya Paramitha menatap lelaki itu sebelum berdiri dan beranjak pergi. Ketika sekalinya dia menoleh kembali, dilihatnya Arayya tersenyum kepadanya seraya melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal tanpa suara.

***

Empat puluh tahun kemudian…

Arayya selalu memohon kepada langit agar cerpelai kelabu datang padanya bersama bintang sekali lagi. Tidak, dia tak akan minta dibebaskan sebagai tawanan peri Hutan Polkadot. Dia hanya ingin bilang pada cerpelai untuk menyampaikan pesan kepada sahabatnya, Raja Galarangga, bahwa dia minta maaf karena tak sempat mengucapkan selamat tinggal. Dan bahwa dia sangat menyayangi Galarangga.

Malam itu, Arayya bisa merasakan tubuhnya mulai kaku dan tak bisa digerakkan. Dia tahu, waktunya sudah habis. Dia akan menjadi patung batu sebentar lagi. Ksatria itu tersenyum, meski air mata jatuh satu-satu membasahi wajahnya. “Selamat tinggal, Galarangga. Semoga kau bahagia,” bisiknya sebelum tubuhnya benar-benar membatu.

Dari kejauhan, diam-diam cerpelai kelabu dan bintang di sampingnya menyaksikan adegan itu, sebelum kemudian melesat cepat menuju istana Raja Galarangga untuk menyampaikan pesan terakhir Arayya, ksatria penjaga raja yang paling setia.

 

DING!

Iklan
[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Ksatria Penjaga dan Gadis Gula-gula

10 pemikiran pada “[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Ksatria Penjaga dan Gadis Gula-gula

      1. elsa allisanda berkata:

        “Untuk terakhir kalinya Paramitha menatap gadis itu sebelum berdiri dan beranjak pergi. ” >>> menatap gadis itu? kupikir arayya adalah cewe –a

  1. bagus! temanya pengorbanan gitu, keren :]

    btw itu tiba-tiba si Arayya tau klo yg jatuh itu bintang darimana?
    dan “bahwa Arayya sangat menyayangi Galarangga”, suka sesama jenis ya maksudnya?

    anyway, selamat ya masuk 15 besar 😀

    *punyaku ga masuk :[ *

    1. makasih kakak udah mau mampir :3
      eh? iya ya. itu aku ngebayanginnya bintang bintang bentuknya emg kayak di gambar2 gitu kak, jadi dia langsung tau *ngasal*
      bukan, dia syg sebagai sahabat sejak kecil kok 🙂
      iya, makasih yah kak 🙂
      gapapa kak, tulisan kakak kan kece abis, pasti lain kali bisa menang 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s