Takut

Angin memiliki musimnya sendiri,

planet memiliki orbitnya sendiri,

rasa memiliki masanya sendiri,

tapi kita, satu di antaranya yang tak pernah memiliki apa-apa.

Kita berdiri saja,

cukup mengerti satu sama lain berpijak di atas dunia yang sama

tanpa merasa perlu mengetahui nama.

Tidak, tak pernah ada makna.

Biar janggal pun kita tak berusaha untuk mengubahnya.

Tak ada yang mau bilang, apalagi repot-repot menjelaskan

sebuah hubungan yang alurnya maju-mundur dan memusingkan.

Yang lain punya lebih banyak urusan;

yang penting, yang jelas ke mana akhirnya.

Di sini, cuma kita yang ketinggalan.

Memilih jadi pengecut daripada mencoba-coba.

Takut sayap kita patah, lalu tak bisa kemana-mana.

Takut hati kita luka, lalu tak bisa mengobatinya.

Takut jiwanya direnggut, lalu merasa tinggal sejengkal dari maut.

Kita memunguti pembenaran yang dibuang orang-orang,

dan menjejalkannya ke dalam saku untuk dijadikan harta berharga.

Itu semua, kita tahu tak ada gunanya,

tapi toh tetap memaksa mempercayainya.

Karena sampai kapan pun, kita akan memilih untuk jadi seperti ini saja

: dua orang bodoh yang terlalu takut jatuh cinta.

Iklan
Takut

6 pemikiran pada “Takut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s