Si Dokter Gigi

Ini adalah kali kelima aku datang kemari, ke klinik gigi langganan ibuku, untuk menambal gigi bolongku yang keempat. Aku tidak sedang mengeluh, kau tahu. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku samasekali tidak keberatan kalau harus datang kemari lebih sering lagi. Kuberitahu padamu, aku tidak sedang bercanda. Dan sebentar lagi kau akan tahu apa maksudku.

“Halo. Selamat siang.”

Well, sapaan itu maksudku. Dan nadanya. Dan si penyapa. Dokter giginya.

Aku tersenyum. “Siang, Dok.”

Dokter bernama Arini itu ikut tersenyum dan menyuruhku duduk di hadapannya. Baginya, ini adalah waktu untuk bertanya padaku tentang kondisi terakhir gigiku. Bagiku, ini adalah waktu untukku bebas memandangi wajahnya. Well, segala sesuatu memang butuh alasan, kan?

“Jadi, kali ini gigi geraham yang sebelah kanan atas, kan?” tanyanya, menunduk untuk membaca lagi catatan rekam medisku.

Aku mengangguk, tak terlalu peduli pada nasib gigiku nanti. “Iya, Dok.”

Dokter Arini mengangkat wajahnya, tersenyum, kemudian berdiri dan berujar, “Kalau begitu mari. Keburu nyeri nanti giginya.”

Pada akhirnya, satu gigiku berhasil diselamatkannya lagi.

***

Kali keenam aku datang kemari, Dokter Arini belum juga bereaksi. Dia memang tertawa pada leluconku dan merona ketika kuberitahu kalau dia lembut dan perhatian seperti ibuku. Tapi cuma itu. Rasanya seperti tak pernah ada langkah maju. Kurasa, sesuatu yang baru perlu diujicoba hari ini juga.

“Dokter suka denger musik?” mulaiku hati-hati.

Dia, yang tengah sibuk menulis sesuatu untuk resepku, mendongak dan mengerutkan keningnya ketika bertemu pandang denganku. “Ng…iya. Memangnya kenapa, ya?”

Aku menyahut gugup, “Suka John Mayer?”

“Wah, iya. Suka banget saya sama John Mayer. Kamu juga suka?” Tak disangka, ujicoba berubah jadi rencana yang berjalan dengan sendirinya.

“Iya, Dok. Saya ngefans sama musiknya dia,” jawabku, mulai merasa rileks.

“Bagus banget, ya?” Dokter Arini berujar semangat.

Aku mengangguk. “Pastinya, Dok. Tiga minggu lagi dia mau ke sini, lho, Dok. Berminat nonton? Kebetulan saya punya dua tiket,” kataku, pada akhirnya mengungkapkan apa yang kuinginkan.

Dokter Arini tampak tertegun. Dia mengerjap beberapa kai baru kemudian menggigit bibir dan berujar, “Err—kayaknya saya nggak bisa, deh. Maaf.”

Oke. Aku ditolak. Tapi aku perlu alasan, jadi aku bertanya lagi. “Karena?”

“Udah ada janji pas jam itu,” jawabnya, tampak merasa bersalah.

Aku tersenyum maklum. Itu pasti janji penting yang berhubungan dengan dunia dokter dan pasiennya. “Oh. Oke, deh. Nggak masalah, kok, Dok.”

“Sip. Mungkin lain kali, ya?” katanya, memberiku harapan baru lainnya.

***

Aku langsung disambut dengan senyum lebar plus ucapan selamat sore yang ramah khas Dokter Arini ketika aku datang kali ketujuh untuk berkonsultasi tentang gigi geraham kanan atasku yang setelah ditambal pun entah kenapa masih terasa nyeri. Melihatnya membuatku merasa seperti seorang laki-laki yang baru pertama kali melihat wanita. Aku menelan ludah, merasa gigi gerahamku semakin berdenyut nyeri.

“Jadi?” Dia bertanya ketika kami sudah duduk berhadapan seperti biasa.

Aku menyentuh pipiku sebelah kanan dan menjawab, “Yang ditambal terakhir kemarin, kok, masih nyeri, ya, Dok?”

Dokter Arini mengangguk-angguk kemudian menyuruhku berbaring di kursi periksa dan seperti biasa, aku harus membuka mulutku agar dia bisa melihat apa saja masalah yang ada di dalamnya. Satu hal, kuharap dia juga bisa mencium wangi nafasku yang merupakan campuran antara mint dan stroberi, yang menurutku adalah hasil eksperimen paling manis dan romantis dari semua merk dan jenis pasta gigi.

Aku sudah hampir tertidur selama membiarkan mulut dan gigiku dieksplorasi oleh Dokter Arini dan alat-alatnya ketika dering ponselnya miliknya membuatku terpaksa harus mambuka mata.

“Maaf. Sebentar, ya,” katanya setelah melihat sebentar ke arah layar ponselnya.

Aku mengangguk buru-buru sebagai jawabannya dan mendengarnya keluar dari ruangan kemudian menutup pintu di belakangnya.

Cukup lama juga sebelum Dokter Arini kembali dan buru-buru mengambil lagi alat-alat yang tadi digunakannya untuk ‘menjajah’ mulutku. Dia tampak lebih manis dari sebelumnya dan senyum tak juga memudar dari wajahnya.

“Itu tadi pacarnya, ya, Dok?” aku bertanya asal saja, cuma sekedar ingin tahu bagaimana reaksinya.

Tak kusangka, pipi dan lehernya jadi merona tiba-tiba. “Suami,” bisiknya malu-malu.

Skak mat, pikirku. Sebaiknya, sekalian saja kuminta dokter yang sudah setengah mati kutaksir ini menambal semua gigi plus hatiku juga. Karena rasanya aku sudah tak bisa lagi membedakan yang nyeri ada di bagian mana.

DING!

Iklan
Si Dokter Gigi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s