#MyAntiFanStory : Bukan Benci, Hanya Takut Menyukai

Sinopsis novel So, I Married The Antifan

Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea. Tapi… Aku adalah antifan-nya.

 H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.

 Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan

 Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti

Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya.

Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikitpun maka mereka tidak segan2 untuk bertindak.

***

My Antifan Story : Bukan Benci, Hanya Takut Menyukai

Untukku yang idola, hidup ini seperti cermin yang akan memantulkan setiap hal yang aku lakukan—sekecil apa pun itu. Akan ada dua tipe manusia yang menatap dan menemukanku di dalam cermin itu, mereka adalah fans dan antifansku. Bagiku, kalau fans adalah seumpama nyawa yang ditiupkan kepadaku—yang menjagaku tetap hidup dan memberiku kesadaran atas keberadaanku di dunia, maka antifans adalah seumpama nafas yang aku hirup di tiap detiknya. Tanpanya, aku bukanlah sebenar-benarnya manusia. Tanpanya, aku tak akan memiliki keinginan untuk hidup lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya.

Buatku, bertemu fansku, kapanpun itu, selalu jadi hal yang tak akan terlupakan. Tapi, kalau bertemu dengan antifansku, itu lain lagi cerita dan rasanya. Pertama kali terjadi, mereka meneriakiku dengan banyak sekali kata-kata yang terdengar menyakitkan. Untuk sesaat aku hanya bisa menatap mereka tanpa kata-kata, tak menyadari bahwa manajerku telah menyeretku untuk buru-buru bersembunyi, meski sejujurnya aku tak pernah ingin melarikan diri.

Kejadian itu membuatku banyak berpikir, terutama tentang mengapa mereka bisa membenciku sebegitu besarnya. Apakah itu karena kemampuan aktingku yang buruk hingga mereka tak mau menontonku di televisi, ataukah karena suaraku yang biasa-biasa saja hingga mereka tak mengerti kenapa aku disebut penyanyi, ataukah karena struktur wajahku, yang meski ada banyak orang menganggapnya unik, sebenarnya hanyalah potongan-potongan hal-hal aneh yang disatukan, ataukah karena suatu ketika aku pernah berbuat salah secara personal kepada salah satu dari mereka, atau malah karena senyumku yang terlalu lebar atau karena aku terlalu sering melambaikan tangan jika bertemu orang-orang di jalan?

Lama setelah itu aku sampai kepada kesimpulan bahwa mereka itu, para antifansku, mungkin hanya ingin menyampaikan rasa cinta mereka dengan cara yang lain. Mungkin dulu, dulu sekali, mereka pernah menyukaiku dan mengikrarkan diri menjadi fansku tapi kemudian berhenti karena mereka pikir mencintai sebagai fans itu terlalu biasa dan tak akan membuatku menganggap mereka istimewa.

Jadi, ketika suatu hari yang lain aku bertemu satu dari sekian banyak antifansku di sebuah kedai kopi yang nyaman tak terlalu ramai di dekat apartemenku, aku membungkukkan tubuhku dan menyapanya dengan senyum lebarku yang biasa. Mungkin kau bertanya-tanya darimana aku mengetahui kalau dia adalah antifanku padahal kami bisa dibilang hanya bertemu secara kebetulan. Kuberitahu kau, aku ini idola, jadi aku akan selalu tahu mana yang fans dan mana yang antifansku hanya dengan melihat cara mereka memandangku.

Setelah aku menyapanya, perlu tiga detik bagi antifanku yang adalah seorang gadis berseragam SMA itu untuk menatapku kemudian mengerjapkan matanya sebelum mendelik benci lagi ke arahku. Aku tersenyum lagi, kali ini lebih lembut, tapi dia masih tak bereaksi. Kuputuskan untuk mendekatinya dibarengi dengan bisik-bisik yang terdengar dari kanan-kiriku. Dalam hati aku bersyukur bahwa hanya ada aku, antifanku, dan dua pengunjung lain serta penjaga kedai kopi yang sudah jadi langgananku siang ini, hingga aku yakin tak perlu khawatir namaku akan muncul dalam salah satu headline berita di tabloid atau televisi besok pagi. Bisa ditebak,antifanku langsung berjengit dan menjauh dariku dengan tampang jijik bercampur marah, seolah aku adalah manusia pembawa virus menular yang mematikan. Aku lalu duduk di kursi di hadapannya dan menatap kedua matanya dalam-dalam.

Kutanya padanya, “Permisi. Aku tahu kau membenciku, tapi bolehkah aku mengetahui apa alasannya? Tenang saja, aku tak sedang bersama manajerku sekarang, jadi kau tak perlu khawatir aku akan mengadu padanya. Dan kurasa kau sudah cukup dewasa untuk bisa diajak bicara baik-baik.”

Dia melempar tatapan jengkel padaku. “Kau itu palsu. Tidak bisa akting, suaramu jelek, tampangmu membosankan, dan tingkahmu terlalu berlebihan. Aku muak melihatmu. Kau bahkan tak layak untuk dianggap sebagai idola,” desisnya marah.

Aku meringis. Rupanya dia memang benar-benar membenciku. “Well, terimakasih. Kau adalah orang yang jujur. Aku pasti akan berusaha dengan sangat keras untuk mengubah penilaianmu.”

Dia menyeringai. “Kau tak akan bisa. Sekali benci, ya, tetap akan benci. Sejuta kali pun kau mencoba, aku tetap tak akan menyukaimu. Sedikitpun.”

Aku menghela nafas panjang kemudian berujar pelan padanya, “Walau begitu, aku tetap berterimakasih. Kau pasti selalu menonton dramaku untuk tahu betapa jeleknya kemampuan aktingku. Kau juga pasti mendengarkan lagu-laguku untuk bisa menilai kalau suaraku payah. Selain itu kau pasti memperhatikan detail wajahku dan tiap gerak-gerikku. Kau tahu, kau adalah pengamat yang hebat. Aku senang punya pemerhati sepertimu.”

Untuk sesaat dia hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Wajahnya pias dan aku tahu kalau kata-kataku tadi semuanya adalah kebenaran. “Aku bukan pemerhatimu, dasar kau idola palsu!” umpatnya, pada akhirnya bisa bicara.

“Kau tahu, kurasa kau bukannya membenciku, kau hanya takut menyukaiku,” kataku, lalu mengedip singkat padanya. Aku tersenyum dan berdiri dari kursiku kemudian membungkuk singkat ke arahnya. “Kalau begitu permisi. Terimakasih atas waktumu dan maaf telah mengganggu. Selamat menikmati kopimu. Sampai jumpa!”

Dia ternganga. Aku lalu memberinya satu kali lagi senyuman lebarku sebelum benar-benar berbalik dan keluar dari kedai kopi itu—bahkan tanpa sempat memesan segelas kopi pun. Tak apa, yang penting aku merasa lega luar biasa. Aku telah mengalami satu lagi hal menakjubkan yang hanya bisa dialami oleh seorang idola, sepertinya.

DING!

ikuti kuisnya di sini : My Antifan Story Quiz

Iklan

4 pemikiran pada “#MyAntiFanStory : Bukan Benci, Hanya Takut Menyukai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s