Rindu.

Sesuatu menahanmu untuk mendekati nisan itu. Dia ada di sana, berjongkok dengan sebelah tangan mengusap nisan itu dan tangan yang lain menggenggam setangkai bunga mawar berwarna putih—bunga favoritmu. Bahkan, dari jarak seperti ini pun, kau tahu bahwa dia sedang menangis. Dia memang selalu begitu, dan kau hafal itu.

Kau tersenyum tipis, masih tak beranjak dari tempatmu berdiri sekarang. Kau ingin mendekat, tapi takut dia akan terganggu. Kau ingin pergi, tapi setengah hatimu masih ingin berada di situ, menikmati memandangnya selama yang kau mau.

Dia kini sedang berbicara pada nisan itu, dan senyummu berubah menjadi seringaian sendu karena mengetahui betapa dia masih sama sedihnya seperti dulu. Dia tak mau lupa; kau paham sepenuhnya mengenai hal itu. Tapi rupanya, dia masih tak mau beranjak dari masa lalu. Dia masih bergelung dan kini malah nyaris tenggelam di dalamnya. Dia menolak diselamatkan. Kau tak mau dia begitu. Kau tak pernah mau. Tapi kau tak tahu bagaimana caranya membuatnya mengerti keinginanmu.

Dia akhirnya berdiri setelah sebelumnya meletakkan setangkai mawar yang dibawanya di kepala nisan itu. Kau menatapnya lama-lama, dan dia juga balik menatapmu. Ah, tidak—kau merasa dia juga balik menatapmu.

Kau melihat cinta di matanya. Kau juga menemukan rindu di sana. Semuanya untukmu, yang kini malah memilih untuk menjaga jarak darinya.

Lalu dia berbalik dan menjauh dari nisan itu. Kau mendesah kemudian menoleh untuk memandang nisan yang baru saja ditinggalkannya—nisan yang bertuliskan namamu.

Ah, seandainya kau bisa bilang padanya bahwa kau juga rindu…

 

Iklan
Rindu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s