Will You Marry Me?

 

note : tulisan ini dibuat beberapa jam setelah saya nonton acara on the spot di tivi yang menayangkan video-video lamaran paling so sweet sedunia. believe me, those man are just so brave, cool, handsome, elegant, funny, perfect, and rrromantic at the same time 🙂 cheers for their awesome job 😀

BGM : Marry Me-Train

***

Aku belum tahu apa, tapi jelas ada yang aneh dengannya saat ini. Matanya yang selalu tampak tersenyum itu kini tak berhenti berkedip setiap tiga detik, membuatku khawatir ada yang salah dengan penglihatannya. Kedua tangannya tampaknya sudah dilem kuat-kuat dengan kemudi mobil ini, dan mulutnya sudah direkatkannya dengan lem yang sama kuatnya, hingga sepertinya menyetir dalam diam adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukannya saat ini.

“Semua oke?” Aku bertanya, tanganku menyentuh lembut lengannya.

Dia berjengit sedikit, tampaknya tidak menduga aku akan mencoba memecah keheningan aneh ini pada akhirnya. “Oh, yeah. Semua, well, benar-benar oke,” dia menjawab, tapi tanpa menatapku.

“Kau yakin?” Aku bertanya lagi, tidak terlalu yakin dengan jawabannya barusan.

Dia buru-buru mengangguk. “Tentu saja,” katanya, kini baru benar-benar menoleh untuk memandangku. Senyumnya terbentuk, dan senyum itu juga menyentuh matanya yang masih berkedip terlalu sering—meski cuma sebentar.

Aku balas menatapnya, meneliti ekspresi wajahnya sejenak, kemudian memutuskan untuk mempercayainya bahwa semua memang baik-baik saja. “Kau harusnya melihat wajahmu di kaca. Aku benar-benar khawatir telah terjadi sesuatu yang mengerikan,” kataku, tanpa sadar mendesah lega.

Dia tertawa. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Ems. Aku hanya terlalu sering lembur akhir-akhir ini. Tapi secara keseluruhan semua oke, kok.”

Aku mengerucutkan bibirku dan memberinya pandangan tidak setuju. “Harusnya kau tidak memaksakan dirimu seperti itu. Kau benci lembur, Cass.”

Dia tersenyum lagi. “Untung sekali kalau begitu. Karena itu berarti kau akan mengkhawatirkan aku lebih banyak lagi,” ujarnya, kemudian menngedip singkat padaku.

Aku memutar mata. “Sangat dewasa, Tuan Cassidy,” balasku sarkastik.

“Tunggu dulu,” dia tiba-tiba berkata, “sepertinya mobilnya mogok, Ems.”

“Eh?!” Aku memekik tertahan. “Kau serius?”

Aku terdorong ke depan kemudian terhempas dengan keras ke sandaran kursiku sebagai jawabannya. Setelahnya, mobilnya benar-benar berhenti.

“Kau serius,” aku mengulangi, masih sedikit pusing karena goncangan tadi.

Dia nyengir, tampak merasa bersalah. “Maaf. Mungkin akinya yang bermasalah.”

Aku mengangkat bahu. “Lalu sekarang bagaimana? Kita ada di tengah jalan utama, nih. Mobil-mobil di belakang kita pasti akan ribut luar biasa kalau kita tetap di sini lebih dari sepuluh menit,” kataku, menoleh sekilas ke belakang, ke arah mobil-mobil yang kini mulai mendekat ke arah mobil kami.

“Coba lihat itu sebentar, Ems. Kelihatannya menarik,” dia membalas, samasekali tidak menanggapi kata-kataku.

Aku mendesah. “Tapi, Cass—”

“Ssst. Lihat dulu. Sini,” potongnya, kemudian menarik tanganku untuk memaksaku melihat ke luar jendela yang sudah dibuka sepenuhnya olehnya.

“Apa, sih, yang kau—”

Ucapanku terhenti seketika, karena apa yang kulihat sekarang benar-benar di luar dugaan. Di sana, kira-kira 10 meter jauhnya dari ku sekarang, ada layar besar yang sedang menampilkan potongan-potongan gambar kebersamaan kakek dan nenekku, kakek dan nenek Cass, ayah dan ibuku, juga ayah dan ibu Cass. Ada banyak senyum, tawa, beberapa tetes air mata, dan cinta yang tak terhingga dalam gambar-gambar itu. Aku tersenyum, merasa kebahagiaan dalam foto-foto yang aku lihat sekarang juga menular padaku.

Lalu, tiba-tiba saja layar yang tadinya terang berubah gelap. Tidak ada gambar yang ditayangkan lagi di dalamnya. Aku mengerutkan kening, kemudian menatap Cass yang hanya memberiku seringaian lebar tanpa kata-kata.

Aku membuka mulut, bersiap untuk bertanya, tetapi alunan melodi dari lagu favoritku, Flying Without Wings, mencegahku untuk menanyakan apa pun yang ingin aku ketahui barusan. Aku menatap layar besar itu lagi, yang kini sudah beralih menayangkan potongan-potongan gambarku bersama Cass. Layar menggelap lagi setelahnya, kemudian tulisan-tulisan ini muncul menggantikannya.

Rasanya, belum terlalu lama sejak aku mengenalmu

Satu hari, dua hari, seminggu, satu bulan, sampai tepat tiga tahun hari ini, tetap saja aku tak pernah merasa cukup untuk mencintaimu…

Kalau boleh, aku ingin kita tetap bersama-sama seperti kakek-nenek dan ayah-ibu kita…

Tak perlu lama-lama, cukup satu hari lebih banyak dari selamanya…

Jadi, Nona Emma Anderson, will you marry me?

Lalu aku merasakan satu tangan Cass meraih tanganku sementara tangan yang lain menyodorkan kotak berisi cincin emas putih ke hadapanku, dan dia berkata seraya menatap mataku, “Will you marry me?”

Aku mengerjap. Air mata sudah jatuh ke pipiku. Wajah Cass dan senyumnya dan matanya yang mengharapkan jawabanku tampak mengabur, meski aku masih bisa merasakan hangatnya genggaman tangannya dan mendengar alunan nada Flying Without Wings di sekelilingku.

Aku tersenyum, sangat lebar, kemudian mengangguk satu kali untuknya. “Yes, I will,” bisikku.

Cass membalas senyumku kemudian memasangkan cincin itu ke jari manisku. Dia mengecup keningku sekilas lalu mengeluarkan kepalanya melalui pintu mobil. “Aku diterima!” teriaknya keras-keras.

Aku menganga, tapi lalu tertawa. Sepertinya malam ini mobil-mobil di sekeliling kami bisa sekalian diajak berpesta.

 

DING!

 

Iklan

4 pemikiran pada “Will You Marry Me?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s