Aku, Langit, dan Hujan Limabelas Desember

Aku membeku di bawah payung polkadot biru tuaku. Hujan masih deras dan aku tidak tahu harus melakukan apa selain duduk di sini, menunggunya reda. Pakaianku basah, rambutku basah, sepatu kanvas coklat lumpurku bahkan sudah kemasukkan air terlalu banyak. Aku menatap langit dan bertanya-tanya apakah ini layak?

***

Langit Wisnu Buntara

at 07.43pm on December 10th, 2010

Aku memandang gadis berpayung polkadot biru tua yang kini sedang duduk tak jauh dari tempatku berdiri. Dia tampak kedinginan, meski aku bisa melihatnya mengenakan coat abu-abu tebal yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Dia mendongak menatap langit sambil menggumamkan sesuatu, entah apa.

Aku tersenyum. Gadis yang menarik, pikirku saat itu.

Aku mengangkat alis membaca komentar di bawah postingan note facebook ku. Seseorang bernama Langit Wisnu Buntara telah melanjutkan postingan isengku dari sudut pandang yang lain. Seingatku, aku tidak pernah punya teman yang bernama Langit Wisnu Buntara. Karena penasaran, aku membalas komentarnya :

Langit menjawabnya dengan memberiku hujan yang lebih deras. Aku tertawa sendiri, menertawakan kebodohanku yang masih belum mau menyerah sampai detik ini. Ya, aku masih menunggunya seperti janjiku dua tahun lalu. Menunggunya datang tepat saat Desember tanggal limabelas menyapaku dengan mendungnya yang muram. Tepat hari ini.

 

p.s : salam kenal, Langit

 

***

13 Desember 2010…

Langit Wisnu Buntara

at 08.44pm on December 13th, 2010

Aku menebak, gadis itu sedang menunggu, entah sesuatu atau seseorang. Aku bisa mengetahuinya dari ekspresi wajahnya yang tampak cemas dan tidak sabar. Berulangkali dia mengedarkan pandangan hei-kau-di mana-aku sudah-menunggumu-sejak-tadi ke sekelilingnya.

Lalu, hei. Aku melihatnya tertawa. Tawa yang aneh, karena rasanya tidak ada yang lucu di sekitarnya. Ku pikir, dia pasti sedang menertawakan apa pun yang ada dalam pikirannya. Aku pasti juga tampak aneh sekarang karena masih berdiri di sini memandangi gadis tak biasa itu. Aku mendongak menatap langit. Hujan masih deras. Aku merapatkan jaketku dan kembali menatap gadis itu. Apalagi setelah ini?

p.s : salam kenal, Andra. Boleh kan, aku ikut menjadi pemeran dalam ceritamu?

 

                                                                        ***

13 Desember 2010 pukul 21.05 WIB…

Aku tersenyum membaca komentar kedua dari seseorang bernama Langit itu. Sambil mengunyah potongan brownies di tanganku, aku mulai memikirkan lanjutan postinganku. Lima menit kemudian aku sudah sibuk mengetikkan huruf-huruf yang berderet di dalam kepalaku.

 

Siapa dia?

 

Aku tahu, pertanyaan itu pasti sudah menggantung di ujung lidahmu jika kau bisa membaca pikiranku. Mungkin ada baiknya jika aku mengatakan padamu bahwa dia adalah apa pun yang bisa kau kaitkan dengan cinta, rindu, dan mimpi-mimpi tentang masa depan. Dia adalah sebuah kebetulan yang aku jumpai dalam kereta ekonomi AC hampir tiga tahun yang lalu, kebetulan yang menatapku dengan pandangan ingin tahu dan bertanya-tanya. Dia adalah ceritaku yang belum memiliki epilog. Dia bernama Bumi, cerita yang selama dua tahun ini memilih untuk menunda endingnya sendiri.

Bumi bilang, aku bisa menyebutnya sebagai cerita yang memiliki akhir tepat di hari ini, 15 Desember 2010. Katanya, sejak hari ini maka Bumi adalah cerita yang sudah tamat, dan akan digantikan oleh Bumi dan Adira, sebuah kisah baru tanpa akhir, tanpa epilog.

Aku tersenyum getir. Bumi bohong. Nyatanya, dia malah pergi tanpa permisi.

p.s : Boleh. Silakan saja.

 

                                                                        ***

 

Masih 13 Desember 2010…

Langit Wisnu Buntara

at 10.20pm on December 13th, 2010

Gadis itu kini menundukkan kepalanya, memandang kedua kakinya yang dibungkus sepatu kanvas berwarna coklat lumpur. Aku menyipitkan mataku, berusaha mencari tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat ini.

Tiba-tiba, handphone di saku jaketku berbunyi. Aku meraihnya dan membaca tulisan yang tertera di layar.

1 new message

sender : Kaditha

Hari ini setahun, kan? Kamu nggak ke makam?

 

Aku menghela nafas berat. Ya, memang sudah setahun. Buru-buru aku mengetikkan balasan singkat untuk adik perempuanku itu dan memasukkan lagi handphoneku ke saku jaket. Aku kembali menatap gadis berpayung polkadot itu. Dia kini tampak sedang memencet-mencet handphonenya, sepertinya membalas pesan entah dari siapa. Aku sudah ingin mendekat saat dia tiba-tiba menoleh ke arahku. Matanya menyipit, seakan sedang memastikan keberadaanku yang terhalang hujan.

Saat itu, hanya ada satu hal yang bisa ku pikirkan : aku ketahuan.

***

14 Desember 2010 pukul 08.50 WIB…

 

Aku buru-buru menghidupkan laptopku dan melakukan koneksi ke internet. Bisa ditebak, aku langsung log in ke akun facebook ku. Aku tersenyum saat melihat daftar notifikasi terbaruku. Ada komentar baru dari Langit di note ku. Rupanya, dia membalas komentarku kemarin malam, beberapa menit setelah aku memutuskan offline karena mataku sudah tidak bisa diajak bekerjasama barang satu atau dua jam lagi.

Aku membaca tulisan Langit dan mengernyitkan kening. Ada nama baru dalam cerita versinya. Seseorang yang disebutnya Kaditha. Aku mulai bertanya-tanya, akan di bawa ke mana cerita ini olehnya?

Entah bagaimana, aku menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan segala keanehanku sejak tadi. Aku menoleh ke arah kanan dan menemukan orang itu. Seseorang yang beberapa detik kemudian aku kenali sebagai seorang laki-laki jangkung yang mengenakan jaket parasut warna merah marun dan celana jeans berwarna biru pudar.

Aku menyipitkan mata untuk memandang laki-laki itu. Dia memang berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena hujan masih belum mau berhenti turun dan di saat seperti ini, kacamata minus duaku sudah tidak bisa diharapkan bantuannya lagi. Laki-laki itu tampaknya tahu kalau aku sedang menatapnya. Dia seperti mematung untuk beberapa saat, tapi kemudian mulai berjalan mendekat ke arahku.

Otakku mulai memikirkan hal-hal aneh macam penguntit, orang gila, dan pembunuh bayaran. Aku bergidik sendiri membayangkan kemungkinan-kemungkinan mengerikan itu. Laki-laki itu semakin mendekat. Aku tahu, sudah terlambat untuk pergi dari tempat ini.

p.s : Kaditha itu siapa?

***

Masih 14 Desember 2010…

 

Langit Wisnu Buntara

at 10.37am on December 14th, 2010

Well, karena sudah kepalang basah, aku lalu berjalan mendekati gadis itu. Sebenarnya aku takut dia akan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Maksudku, siapa sih yang tidak akan berpikiran aneh jika melihat ada seseorang yang memperhatikanmu diam-diam dari kejauhan? Tapi rupanya gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan melarikan diri atau bagaimana. Dia masih duduk sambil menggenggam payung polkadotnya, hanya saja sambil tetap memandang waspada ke arahku.

Ketika kami sudah berada dalam jarak 2 meter, aku tersenyum padanya, mencoba bersikap ramah. Gadis itu membalas senyumku dengan ragu. Dia masih waspada, aku bisa melihat itu.

Aku mengulurkan tanganku ke arahnya. “Hai. Namaku Langit,” kataku membuka percakapan.

p.s : anggap saja Kaditha adalah adik perempuan Langit

***

Tetap 14 Desember 2010…

“Hai. Namaku Langit.” Dia mengucapkan kata-kata itu dengan ringan, seolah kami adalah dua orang murid baru di sekolah menengah yang kebetulan duduk sebangku dan harus melalui sesuatu yang disebut fase perkenalan.

Walau begitu, aku tetap membalas uluran tangannya sambil menggumamkan “Aku Adira” dengan nada yang defensif.

“Hmm. Adira, ya?” ujarnya, terdengar seperti menimbang-nimbang.

Aku mengangguk kaku. “Kamu siapa?” tanyaku langsung.

Dia nyengir, menampakkan deretan gigi yang rapi dan putih. “Aku?” tanyanya menunjuk diri sendiri.

Aku memutar bola mataku. “Berhentilah berbasa-basi,” sahutku.

Bukannya menjawab, laki-laki yang mengaku bernama Langit itu malah tertawa. Aku berdecak. Rupanya dia adalah jenis orang yang menyebalkan.

***

14 Desember 2010, menjelang tengah malam…

Langit Wisnu Buntara

at 11.50pm on December 14th, 2010

“Kamu siapa?”

Pertanyaan gadis bernama Adira itu membuatku bingung harus menjawab apa. Jadi aku menunjuk diriku sendiri tanpa menjawab pertanyaannya. Adira memutar bola matanya dan menyuruhku untuk berhenti berbasa-basi. Aku tertawa gugup. Gadis ini rupanya tidak seperti yang aku kira. Dia keras.

Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin dia mulai sebal padaku, mungkin dia bahkan sudah ingin pergi jauh-jauh dari taman ini. Pandangannya mulai berubah tajam, bukannya defensif seperti pada awalnya. Sebelum dia marah, aku memutuskan untuk menyerah saja.

“Aku sahabat Bumi,” kataku pelan.

Untuk beberapa detik aku bisa melihat keterkejutan yang kentara di mata Adira. Dia menatapku seolah aku baru saja mengatakan kalau aku adalah pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk mencabut nyawanya saat itu juga.

“Maaf?” tanyanya, memintaku mengulang kata-kataku.

Aku menghela nafas sebelum menjawab, “Ya, aku sahabat Bumi. Bumi Surya Aditama.”

Mulut Adira menganga tidak percaya. “Untuk apa kamu ada di sini?” tanyanya, kembali menampilkan ekspresi defensif yang bercampur dengan nada kesedihan dalam suaranya.

“Sudah sejak tadi aku melihatmu duduk di sini sendirian. Bumi pernah cerita kalau dia janji padamu akan menemuimu di sini tepat pada tanggal limabelas Desember 2010. Tepat hari ini. Kamu masih menunggunya, kan?” aku menatap mata Adira lekat-lekat, mengabaikan hujan yang menggigilkan tubuhku.

Adira tidak menjawab. Dia hanya memandangku dengan tatapan kosong. “Bumi sudah pergi,” ucapnya lirih beberapa saat kemudian.

p.s : Please. Jangan marah, Andra. Aku nggak bermaksud buat mempermainkan kamu. Tapi aku memang sahabatnya Bumi. Aku tahu banyak soal kamu dari Bumi. Dan sejak Bumi pergi, aku diam-diam selalu memperhatikan kamu. Aku mengikutimu setiap hari, Dra. Dan entah sejak kapan aku sadar kalau aku udah jatuh cinta sama kamu…

p.s.s : Bisa nggak kita ketemu di taman yang jadi setting cerita ini besok jam 5 sore? Kalau kamu datang, maka aku akan menganggapmu menerima perasaanku. Kalau nggak, maka aku nggak akan ganggu kamu lagi.

 

p.s.s : Langit itu nggak selalu ngasih kamu mendung dan hujan kok, Dra.

 

                                                              ***

15 Desember 2010 pukul 17.00…

 

Langit masih belum mau mengembalikan matahari dan kaki-kaki hujan masih suka mempermainkan tanah dan rerumputan. Aku juga masih berada di sini, menunggunya di bawah naungan payung polkadot biru tuaku dalam keadaan setengah kuyup.

“Hai. Sudah lama menunggu, ya?”

Aku mendongakkan kepalaku dan melihat senyum itu. Menatapnya mau tidak mau membuatku tersenyum juga. “Nggak. Baru sebentar, kok,” jawabku riang.

Akhirnya aku bisa melihatnya. Melihat Langit-ku. Berbeda dengan langit di atas kepalaku, Langit-ku memiliki cahaya yang entah kenapa bisa membuatku merasakan kelegaan luar biasa.

Dia mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya tanpa keraguan. Dia benar. Langit memang tidak selalu memberiku mendung dan hujan. Langit bisa memberiku cinta. Aku rasa, semua itu hanya masalah waktu saja. Aku hanya perlu menunggu, kan?

DING!

Iklan

2 pemikiran pada “Aku, Langit, dan Hujan Limabelas Desember

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s