You’re My Sweetest Dream (1/2)

Title             : You’re My Sweetest Dream (Part 1)

Author         : Yuridista

Main Casts  :

Hwan Seungmi (OC)

JYJ Yoochun

JYJ Junsu

Genre          : Romancy a.k.a romance-fantasy

Rating         : AA-PG

***

Musim gugur, 1996.

Hari itu adalah saat aku pertama kali melihatnya…

“Appa, nugu ya?” tanyaku pada appa saat melihat seorang namja berperawakan jangkung yang tidak aku kenal tengah mengelus Anabelle, kuda putih kesayanganku, di halaman berumput di depan rumah kami.

Appa tersenyum lalu mengelus pelan kepalaku. “Dia pengurus kudamu yang baru, Sayang,” jawabnya lembut.

Aku menautkan alis. “Pengurus baru? Memangnya Seungho-ajjushi kemana?” tanyaku lagi, menyebut nama pengurus kudaku yang lama, yang sudah ku anggap seperti ayahku sendiri.

“Seungho-ajjushi sedang sakit, Nak. Appa sendiri yang memintanya untuk istirahat beberapa minggu,” Appa berujar lagi,  “Kasihan dia. Appa rasa dia sudah terlalu lama mengurus kudamu yang sama manjanya sepertimu itu.”

Aku menggembungkan pipiku. “Enak saja. Siapa bilang aku manja?” protesku tidak terima. “Kalau begitu aku mau melihat Anabelle dulu. Siapa tahu orang baru itu membuatnya jengkel,” lanjutku, lalu beranjak dari kursi beranda setelah sebelumnya memeluk sekilas appaku yang duduk di sampingku.

“Hei. Kau.” Aku menyapa namja yang berdiri membelakangiku itu dengan nada arogan, ciri khasku setiap kali bertemu dengan orang baru. Aku mengangkat daguku tinggi-tinggi, menunjukkan sisi angkuhku yang sama terkenalnya dengan sifat aroganku. Yah, aku rasa cap sebagai putri tunggal bangsawan Hwan Kwangjoo yang sombong dan arogan memang telah melekat dengan sempurna pada diriku.

Namja itu menoleh, dan hal pertama yang terjadi padaku saat bertatapan dengan mata coklat tuanya adalah tertegun. Aku menelan ludah. Ya, namja itu telah berhasil membuatku salah tingkah hanya dalam dua detik. Ini benar-benar konyol.

Namja itu lalu membungkuk sekilas padaku. “Ye, Aggashi? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan.

Aku mengerjapkan mataku, kembali terkesiap saat mendengar suaranya yang khas itu, suara yang serak dan dalam, suara yang entah bagaimana bisa memberiku sensasi aneh yang tidak bisa dijelaskan rasanya.

“Aggashi?” tegurnya saat melihatku membisu.

Aku tergeragap, berusaha mengembalikan lagi kewarasanku ke tempat semula. “Ah, ne. Ku dengar kau adalah pengurus Anabelle yang baru. Benar begitu?” tanyaku seanggun mungkin, mengabaikan perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba saja aku rasakan. Apa ini gara-gara gaun berleher tinggi yang aku kenakan sekarang?

“Anabelle?” tanyanya agak bingung. Dia lalu menoleh ke belakang, ke arah Anabelle, dan kembali memandangku dengan sorot paham.”Ah─ne, Anabelle. Ya, saya pengurusnya yang baru, Aggashi. Jadi Anda pemiliknya? Putri Tuan Hwan?”

Aku mengangguk satu kali. “Siapa namamu?” Aku berujar seraya melangkah mendekati Anabelle.

Namja itu langsung menyingkir untuk memberiku jalan. “Nama saya Yoochun, Aggashi. Park Yoochun imnida,” jawabnya, kembali membungkuk sopan padaku saat aku berada tepat di hadapannya.

Gerakan tanganku yang tengah mengelus punggung Anabelle terhenti sebentar. Aku menoleh memandang namja bernama Park Yoochun itu dan menyahut, “Aku Seungmi. Dan ingat, kau harus menjaga Anabelle dengan baik. Dia kuda kesayanganku. Jangan pernah membuatnya jengkel atau marah.”

Yoochun mengangkat wajahnya. “Alggasseumnida, Aggashi. Saya pasti akan menjaga Anabelle dengan baik. Anda tidak perlu khawatir,” jawabnya, lalu memamerkan senyumnya untuk pertama kalinya, yang sukses membuat jantungku mencelos untuk kedua kalinya.

***

Kamar Seungmi, 2011.

Aku terbangun dari tidur siangku dengan perasaan aneh menggumpal di dalam tenggorokkanku. Astaga, mimpi apa itu tadi? Kenapa tampak nyata sekali? Aku bahkan masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana wajah namja yang aku lihat dalam mimpiku barusan. Namja jangkung bermata coklat tua dengan suara khas dan senyum yang melumerkan kewarasanku. Ya, entah bagaimana aku justru baru bisa menyadari satu hal ketika terbangun dari tidurku : bahwa aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada namja maya bernama Park Yoochun itu.

***

“Apa Anabelle sudah makan?” tanyaku saat akan mengecek keadaan Anabelle di kandang kuda milik keluarga kami.

Yoochun tampak agak kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Dia langsung menghentikan kegiatannya memberi makan pada kuda milik ayahku dan berbalik menghadapku. “Ah─rupanya Anda, Aggashi. Jeongsonghamnida, Anda tadi berkata apa?”

Aku mendengus, pura-pura sebal. “Ku tanya, apa Anabelle-ku sudah makan?” ulangku dengan nada angkuh.

Yoochun mengangguk mantap. “Sudah, Aggashi. Dia makan banyak sekali tadi. Anak baik,” jawabnya, lalu beranjak mendekati Anabelle untuk mengelus kepalanya yang bersurai tebal.

Aku agak terkejut melihatnya. Namja ini─kenapa tampaknya dia sudah sangat akrab dengan kuda kesayanganku? Padahal Anabelle termasuk kuda yang pemilih dan tidak gampang dekat dengan orang baru. Kenapa Yoochun bisa dengan mudah dekat dengannya, ya?

“Aggashi, apa Anda mau berkuda sekarang?” tanya Yoochun memutus lamunanku.

“Ah─Eh, iya. Kau tidak lihat apa kalau aku sudah memakai pakaian seperti ini?” sahutku, menunjuk setelan berkuda warna pastel yang aku kenakan.

Yoochun meringis. “Jeosonghamnida, Aggashi. Kalau begitu biar saya siapkan Anabelle sekarang. Anda bisa menunggu di halaman,” katanya, lalu mulai membuka pintu kandang Anabelle.

Aku menggeleng. “Tidak usah. Aku menunggu di sini saja, sekalian melihat caramu menyiapkan peralatanku,” tukasku, lalu mulai mengamati gerak-gerak namja itu.

“Alggasseumnida, Aggashi. Saya akan menyiapkan peralatan berkuda Anda dengan cepat,” ujar Yoochun bersemangat, yang hanya ku tanggapi dengan anggukan sekedarnya.

***

Perpustakaan kampus, 2011.

“Yuri-ah, apa kau pernah bermimpi aneh?” Aku berbisik pada Yuri, sahabatku, di antara kesibukan kami mencari bahan referensi untuk paper biologi kami.

Yuri mengangkat alis mendengar pertanyaanku. “Mwo? Mimpi aneh? Seperti apa misalnya?” Dia balik bertanya.

Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Misalnya saja, mimpimu bersambung, atau tampak seperti kenyataan, atau kau bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Hal-hal semacam itulah. Apa kau pernah mengalaminya?”

Yuri tampak berpikir-pikir, tapi lalu menggelengkan kepalanya. “Kurasa tidak. Waeyo, Seungmi-ah? Apa kau pernah mengalami hal semacam itu?”

Aku menelan ludah, bingung harus menjawab jujur atau tidak. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, apa salahnya menceritakan hal ini pada Yuri? Toh, dia adalah sahabat terdekatku. Dan lagi, aku merasa semakin aneh karena telah memimpikan namja bernama Park Yoochun itu selama dua hari berturut-turut. Rasanya seperti melihat opera sabun di televisi, tapi kali ini diriku sendirilah pemeran utamanya.

“Ne.” Akhirnya aku berhasil mengeluarkan jawaban itu dari mulutku.

Yuri membulatkan matanya. “Jinjja? Kau serius?” tanyanya setengah terkejut setengah gila. Ah, rupanya aku telah melupakan fakta bahwa Yuri adalah penggemar berat hal-hal yang berbau ketidakmasuk-akalan seperti ini.

Aku mengangguk satu kali. “Ne. Aku memimpikan hal yang sama selama dua hari berturut-turut. Tapi mimpiku ini seperti cerita bersambung. Orang-orangnya sama, hanya saja kejadiannya seperti berurutan. Dan satu lagi, aku juga berada di dalamnya,” jawabku menjelaskan.

Yuri mengangguk-angguk mendengar ceritaku, lalu meletakkan telunjuk di bibirnya, ciri khasnya saat sedang memikirkan sesuatu yang menurutnya serius. “Hmmm. Menurutku itu cukup aneh. Tapi bisa juga hanya kebetulan, karena kau baru mengalaminya selama dua hari,” katanya menimbang-nimbang. “Coba kita lihat apa setelah ini kau masih memimpikan hal yang sama lagi. Kalau iya, kita bisa mulai melakukan penyelidikan,” lanjutnya serius.

Aku mengerutkan kening. “Musun soeriya? Penyelidikan apa maksudmu?”

“Yah, siapa tahu itu jenis penyakit baru atau ilmu hitam yang berbahaya. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi sebelum mengalaminya sendiri, Seungmi-ah,” ujarnya, memamerkan seringaian menyeramkan yang sukses membuatku bergidik ngeri.

“Ya! Jangan berkata macam-macam, Kang Yuri! Aku tidak suka hal-hal semacam itu, arratchi?!” bentakku, yang langsung membuat penjaga perpustakaan mendesis marah padaku.

Di sampingku, Yuri terkikik geli. “Makanya jangan berisik,” katanya, membuatku dengan senang hati melayangkan cubitan ganas ke lengannya.

***

“Aggashi, bolehkah saya ikut duduk di sini?” Suara itu menyapaku sopan saat aku sedang asyik membaca buku kesukaanku, Pride and Prejudice, sambil menyandarkan tubuhku ke batang pohon mahogani tua yang berdiri kokoh di halaman rumah keluargaku.

Aku mendongak, dan mendapati Park Yoochun kini tengah menunduk ke arahku sambil tersenyum lebar. “Mworago?” tanyaku, pura-pura tidak mendengar kata-kata yang diucapkannya sebelumnya.

Yoochun menggaruk bagian belakang telinganya, tampak salah tingkah. “Jeosonghamnida, Aggashi. Saya hanya ingin duduk di sini, apa boleh?” ulangnya sungkan.

Aku mengalihkan pandangan ke halaman berumput di sekelilingku dan menunjuk satu titik dengan daguku. “Kau boleh duduk di situ. Jangan menggangguku, aku sedang sibuk,” ujarku, mengangkat sekilas buku tebal di tanganku.

Yoochun mengangguk senang. “Jeongmal kamsahamnida, Aggashi.” Dia membungkuk singkat, lalu buru-buru duduk di tempat yang tadi aku tunjuk seraya mengeluarkan sesuatu dari kantung celana selututnya.

Aku mencondongkan kepalaku, ingin tahu benda apa yang kini sudah berpindah ke pangkuannya. “Apa itu?” tanyaku, tidak bisa menahan rasa penasaranku sendiri.

Yoochun mengangkat kepalanya. “Ye? Ige?” tanyanya, menunjuk benda di pangkuannya.

Aku mengangguk sekilas. “Hmmm.”

“Ini buku kumpulan puisi saya, Aggashi,” jawabnya, lalu menunjukkan benda yang rupanya adalah sebuah buku kecil bersampul kulit yang telah memancing rasa penasaranku.

“Puisi? Maksudmu, kau bisa membuat puisi?” tanyaku, kini menjadi semakin tertarik dengan buku kecil itu. Sejak kecil sampai kini saat usiaku telah menginjak angka 22 tahun, aku memang sangat menyukai puisi, terlebih karena eomma selalu membacakan puisi untukku sebagai ganti dongeng pengantar tidur. Oleh karena itu, tidak heran kalau aku jadi semakin ingin tahu saat Yoochun menyebut kata ‘puisi’ barusan tadi.

Yoochun tertawa canggung. “Ah─Sebenarnya tidak juga, Aggashi. Saya hanya suka bermain kata-kata. Kalau Anda yang membacanya, mungkin kumpulan kata-kata yang saya sebut puisi ini jadi terlihat sangat kacau dan tidak pantas disebut sebagai puisi,” ujarnya merendah.

Aku berdeham. “Kalau begitu bacakan satu untukku,” perintahku.

Mata Yoochun langsung terbelalak. Tampak sekali dia terkejut mendengar kata-kataku. “Ne? Maaf, tapi apa Anda serius? Anda mungkin tidak akan suka mendengarnya, Aggashi.”

Aku menggeleng tegas. “Aku paling tidak suka kalau keinginanku tidak dituruti, arratchi?”

“Ah─Ne. Alggasseumnida, Aggashi. Kalau begitu saya akan membacakan sebuah puisi untuk Anda,” sahut Yoochun buru-buru, kemudian mulai membuka-buka buku kecil miliknya, seakan sedang mencari puisi yang mungkin akan cocok dengan seleraku. Aku tersenyum. Kira-kira puisi macam apa yang akan dibacakan namja itu untukku?

Aku mendengar Yoochun berdeham, kemudian mengalirlah kata demi kata dari bibirnya.

“Untukmu,

penjelmaan dari anggunnya daun yang gugur

dan lembutnya angin yang membuat rerumputan menari,

tidakkah kau tahu bahwa aku diam-diam memandangmu?

Kau,

seseorang yang menjadi seterang purnama

dan setegar bebatuan abu-abu di saat yang bersamaan,

bisakah kau merasa bahwa aku telah kau buat gila?

Dirimu,

yang menyihirku dengan sepasang mata keemasan,

dan menarikku ke dalam pesona alunan pita suara,

kapankah kau akan mengerti bahwa diriku kini merindumu?

Gadisku,

seseorang yang sempurna,

bahkan hanya dengan setelan berkuda,”

Sampai di situ, Yoochun menghentikan kata-katanya, membuatku menahan nafas. Dia mengangkat kepalanya, lalu menatapku tajam dengan mata coklat tuanya. Untuk kesekian kalinya, menatap mata itu membuatku kehilangan kewarasan untuk sesaat. Aku menelan ludah, merasakan tubuhku mulai mati rasa. Tapi sedetik kemudian Yoochun berhasil membuat perutku terasa mulas dengan senyuman separonya yang menawan.

“Kini ku katakan padamu bahwa kau telah membuatku sekarat karena jatuh cinta.” Dia melanjutkan puisinya yang berjeda, mengangguk padaku, kemudian menutup buku kecil di tangannya.

Sialan. Puisi itu benar-benar membuat jantungku berdebar seribu kali lebih cepat daripada sebelumnya. Park Yoochun sialan. Kenapa dia bisa membuatku merasa kalau puisi yang tadi dibacakannya memang ditujukan untukku? Aigooo~ sejak kapan seorang Hwan Seungmi dengan gampangnya termakan rayuan bodoh dari seorang namja? Ini benar-benar bukan aku!

“Aggashi, apa puisi saya sebegitu jeleknya, sampai-sampai membuat Anda marah?” tanya Yoochun memecah keheningan.

Aku refleks menggeleng. “Marah? Siapa yang marah?”

Yoochun menggerakkan dagunya ke arahku. “Wajah Anda memerah, Aggashi. Itu pasti karena Anda tidak menyukai puisi saya, kan?” tuduhnya langsung.

Mulutku membulat. Dasar Park Yoochun bodoh. Wajahku memerah bukan karena marah, melainkan karena malu! Namja ini benar-benar membuatku mati langkah! Aku lalu buru-buru bangkit dari dudukku, takut pada akhirnya namja menyebalkan ini akan bisa membaca pikiranku, atau bahkan perasaanku. “Aku masih banyak urusan. Sampai jumpa,” kataku, kemudian berbalik dengan tergesa untuk meninggalkan tempat itu. Tapi aku lalu teringat akan satu hal penting yang belum sempat aku katakan padanya. Jadi aku berbalik lagi, dan menambahkan dengan nada biasa-biasa saja, “Oh, ya. Puisimu lumayan. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk marah karenanya.”

“Eh, jamshimanyo, Aggashi,” cegah Yoochun saat aku sudah akan berbalik untuk kedua kalinya.

Aku menoleh tanpa membalikkan tubuhku dan menyahut tidak sabar, “Mwo?”

Namja itu lalu membuka kembali buku kecil bersampul kulitnya, dan menyobek salah satu halamannya dengan terburu-buru. Dia kemudian berjalan menghampiriku dan menyodorkan lembaran kertas itu padaku. “Sebenarnya, kalau boleh saya jujur, puisi tadi memang saya buat khusus untuk Anda, Aggashi. Geuraeso,” Yoochun berkata seraya meraih sebelah tanganku dan menyelipkan lembaran kertas itu ke dalamnya,” jeongmal gamsahe karena telah menjadi inspirasi yang sempurna untuk saya.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan menyunggingkan seulas senyum di bibirnya.

Dan aku hanya bisa menelan ludah, tahu bahwa namja bernama Park Yoochun ini memang akan menjadi hal yang tidak biasa dalam hidupku, hidup seorang Hwan Seungmi.

***

Kamar Seungmi, 2011.

Aku terbangun dari tidurku dengan terengah-engah. Dadaku sesak, seakan aku baru saja berlari sejauh seratus kilometer tanpa sempat beristirahat. Aku memang bukan habis bermimpi buruk, karena kalau boleh jujur sebenarnya mimpi yang baru saja aku alami adalah mimpi yang sangat indah, bahkan terlalu indah. Namja maya itu, si Park Yoochun, baru saja menyatakan perasaannya padaku dalam mimpiku. Astaga, aku bahkan masih belum mempercayainya meski sudah terbangun dari tidurku.

Aku melirik jam di dinding kamarku, dan membuang nafas saat melihat jarum jam yang menunjuk ke angka 12 dan 1. Masih tengah malam, tapi aku bahkan sudah tidak merasa mengantuk. Ku usap peluh yang menetes di sekitar leherku, lalu menyadari bahwa ada sesuatu yang lain yang tidak sempat aku pikirkan sejak tadi. Aku membuka genggaman tangan kiriku, dan ternganga selebar-lebarnya saat mendapati benda itu ada di sana, membentuk gulungan kecil yang tidak rapi. Ya, kertas sobekan yang berisi puisi Park Yoochun yang diberikannya untukku di dalam mimpi kini berada di dalam genggamanku, terasa sangat nyata, senyata suara detak jantungku yang bergemuruh di dalam dadaku.

Aku menelan ludah, dengan perlahan membuka gulungan kertas itu sambil berharap bahwa aku memang tidak sedang bermimpi kali ini. Dan tulisan tangan dengan huruf hangul ejaan lama itu memang benar-benar ada di sana, tersusun dengan rapi membentuk rangkaian kalimat yang menjadikannya sebentuk puisi yang diberi judul: Untukmu. Di sudut bawah kanan kertas berwarna coklat kayu itu tertera tulisan Y.P, yang mungkin adalah inisial nama Yoochun. Untuk kedua kalinya aku menelan ludah, kali ini seraya mencubit kedua lenganku.

“Ouch! Appo,” keluhku, menyadari bahwa aku memang tidak sedang bermimpi sekarang. Jadi, sebenarnya ada apa denganku? Apa aku sudah menjadi gila dengan tiba-tiba?

Aku lalu memutuskan untuk kembali tidur karena ingin tahu apa yang akan terjadi di dalam mimpiku selanjutnya. Akankah Park Yoochun muncul lagi? Apakah aku bisa menemukan jawaban atas semua keanehan ini ketika aku terbangun lagi nanti? Susah payah aku memejamkan mataku, dalam hati sibuk menghitung jumlah domba tak kasatmata yang berlalu-lalang dalam pikiranku sambil tetap menggenggam gulungan kertas berisi puisi Yoochun di tanganku. Satu, dua, tiga, empat,seribu,dua ribu, tiga ri….zzz…zzz…zzz…

***

Aku beranjak menuju ke kandang kuda milik keluargaku dengan setengah berlari. Well, aku memang ingin segera bertemu dengan namja itu─Park Yoochun, maksudku. Meskipun aku belum tahu apa yang akan aku katakan padanya, mengingat betapa konyolnya reaksiku saat berlari meninggalkannya setelah dia memberiku puisi buatannya, tapi tetap saja, dorongan sinting untuk menemuinya yang menguasaiku ini tidak bisa aku redam lagi. Jadi kupikir, sekalian saja kalau begitu. Toh, aku memang sudah mempermalukan diriku sendiri di hadapannya.

Senyumku mengembang tanpa diperintah saat melihat Yoochun yang sedang sibuk memberi makan Anabelle seraya mengelus-elus surai tebal kuda itu. Dia berdiri membelakangiku, jadi aku bisa sedikit lebih lama menikmati pemandangan punggungnya yang lebar itu.

“Park Yoochun,” tegurku, saat akhirnya berhasil menyembunyikan senyumku.

Yoochun menoleh dengan cepat. “Ye, Aggashi,” ujarnya refleks seraya membungkuk sopan padaku.

Aku berdeham satu kali. “Aku─aku─ng…Aku minta maaf. Soal yang waktu itu,” gumamku canggung, tidak berani menatap langsung pada Yoochun.

Aku melihatnya mengulum senyum. “Karena sudah lari meninggalkan saya?” sambarnya dengan nada menggoda.

Aku langsung mengangkat wajah. “Kau─”

“Apa Anda malu, Aggashi?” Dia menyela, yang sukses membuat wajahku terasa panas.

Aku membuang muka. “Ah, sudahlah. Sia-sia saja aku datang ke sini. Aku pergi,” tukasku ketus. Buru-buru ku balikkan badanku, hendak kembali menuju rumah. Tapi lenganku keburu ditarik Yoochun dari belakang. Dia menariknya hingga membuatku kembali harus menghadap ke arahnya. Aku terkesiap, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Mata kami kini saling bertatapan, dan aku harus berulangkali mengingatkan diriku sendiri agar tidak tenggelam dalam kedalaman mata coklat tuanya.

Semuanya lalu terjadi begitu cepat. Yoochun menyunggingkan senyum separonya, dan tiba-tiba saja bibir kami telah bersentuhan. Awalnya aku tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Tapi perlahan aku bisa merasakan bibirnya di bibirku. Hangat, manis, dan lembut. Aku memejamkan mataku, berusaha mengingat siapa diriku dan sedang berada di mana aku sekarang, tapi tidak berhasil. Yang aku tahu kini aku sedang berada dalam pelukan namja bernama Park Yoochun, pengurus kudaku, dan dia telah mencuri ciuman pertamaku. Tidak adakah sesuatu yang lebih tidak masuk akal daripada hal ini?

Entah setelah detik keberapa dia akhirnya melepaskan ciumannya, hingga membuatku harus membuka kembali mataku dengan perasaan tidak rela yang anehnya kini mulai menggumpal di dasar perutku.

Jantungku mulai bereaksi berlebihan lagi saat Yoochun menarikku lebih dalam ke pelukannya dan bibirnya menyapu lembut telingaku. “Hwan Seungmi, jangan pernah mencoba lari dariku lagi, ya?” bisiknya, yang hanya bisa kujawab dengan anggukan patuh dari atas bahunya.

***

Petite Cafe, 2011.

“Ige mwoya?!” Yuri terbelalak saat aku menunjukkan sobekan kertas berisi puisi Park Yoochun.

Aku menopang dagu di atas meja seraya menghela nafas. “Nado molla. Aku sendiri sudah nyaris gila memikirkannya, Yuri-ah,” ujarku frustasi.

“Kau yakin namja di dalam mimpimu itu yang menulisnya, lalu memberikannya padamu?” tanyanya menyelidik.

Aku mengangguk. “Seperti itulah yang terjadi di dalam mimpiku. Aku sih sempat berpikir jangan-jangan aku sendiri yang menulisnya saat terbangun di bawah sadar dari tidurku. Hajiman─aku kan tidak bisa menulis huruf hangul dengan ejaan lama seperti itu. Dan yang paling penting, tidak ada kertas semacam itu di kamarku!” tukasku berapi-rapi.

Yuri langsung terdiam mendengar kata-kataku. Untuk beberapa saat sahabatku itu hanya sibuk memandangi kertas coklat yang kuberikan padanya, sambil sesekali menggelengkan kepalanya, seakan sedang menganalisa apa pun yang bisa dilihatnya dari kertas itu.

“Jangan-jangan…si namja dalam mimpimu itu benar-benar ada di dunia nyata, Seungmi-ah.” Akhirnya Yuri membuka mulutnya.

“Mwo?!” Aku memekik tak percaya.

Yuri mengangguk-angguk. “Ne. Jadi, si namja ini benar-benar ada, tahu semua hal tentangmu, mungkin juga dia menyukaimu, dan entah bagaimana dia berhasil mempengaruhi alam bawah sadarmu,” katanya panjang lebar, yang mulai terdengar semakin tidak masuk akal untukku.

“Jangan bercanda, Yuri-ah. Analisismu benar-benar tidak masuk akal. Dan kalau pun memang Park Yoochun benar-benar ada, aku masih tidak bisa memikirkan kemungkinan dia mempengaruhi alam bawah sadarku. Maksudku, kalau dia benar menyukaiku, memangnya dia tidak bisa langsung saja menyapaku dan meminta nomor teleponku? Kenapa harus dengan cara yang sangat aneh seperti ini?” Aku menukas dengan keras kepala.

Yuri mengedikkan bahunya, menyerah untuk meladeniku. “Mollasseo, Seungmi-ah. Yang jelas, sekarang aku benar-benar yakin kalau yang terjadi padamu ini bukanlah hal yang biasa. Ku rasa, selama tidak terjadi hal-hal buruk padamu, kau tidak perlu melakukan apa-apa. Dan mengenai namja itu, siapa tadi namanya? ah, ya─Park Yoochun, sejauh ini dia tidak berbahaya, kan?” tanyanya, sekarang berlagak menjadi seorang psikiater yang sedang bertanya mengenai kondisi psikologis pasiennya.

Entah kenapa, tanganku lalu terangkat untuk menyentuh bibirku. “Ku rasa, dia cukup berbahaya juga,” gumamku tidak jelas. Di kepalaku kini berkelebat lagi bayangan Park Yoochun yang memelukku dan mencium bibirku dengan lembut.

Yuri menautkan kedua alisnya. “Eh? Apa maksudmu, Seungmi-ah?” tanyanya tidak mengerti.

Aku menoleh menatapnya, lalu menjawab perlahan, “Dia…sudah mencuri ciuman pertamaku.”

Yuri melotot. “MWO?!”

***

“Mworago? Apa appa tidak salah? Appa bilang, appa ingin menjodohkan aku dengan Kim Junsu?” tanyaku bertubi-tubi. Aku memandang appa yang sedang duduk di kursi berlengan di dekat jendela kamarku dengan tatapan tidak mengerti. Lelucon apa lagi ini? Kenapa mendadak appa mengatakan hal semacam ini padaku?

“Seungmi-ah, dengarkan appa dulu, Sayang. Kau tahu kan, kalau keluarga Kim itu adalah keluarga bangsawan yang sangat terhormat di Korea. Dan keluarga kita sudah sangat dekat dengan mereka. Sejak eommamu meninggal, kau bahkan sudah menganggap eomma Junsu seperti eommamu sendiri, kan? Selain itu, Junsu juga sudah sangat dekat denganmu. Jadi appa pikir, tidak ada salahnya kalau appa dan appa Junsu menjodohkan kalian berdua. Perjodohan ini akan menjadi suatu hal yang baik bagi keluarga kita, Seungmi-ah,” jelas Appa panjang lebar, yang tetap membuatku tidak mengerti dengan jalan pikirannya.

“Lantas, memangnya kenapa kalau keluarga kita sudah akrab dengan keluarga Kim? Memangnya kenapa kalau eomma Junsu ku anggap seperti eommaku sendiri? Memangnya kenapa kalau aku dan Junsu berteman dekat? Astaga, Junsu itu lebih muda dua tahun dariku, Appa. Dia bahkan memanggilku ‘noona’!” Nada bicaraku naik beberapa oktaf karena menyadari betapa konyolnya bayangan aku menikah dengan Kim Junsu, seseorang yang sudah ku anggap seperti adik laki-lakiku sendiri.

Appa kini menatapku tajam dari kursinya. “Pokoknya itu sudah menjadi keputusan appa. Mau atau tidak, kau tetap harus mematuhinya. Appa tidak pernah meminta apa pun darimu, Seungmi-ah. Jadi appa mohon, untuk sekali ini, jangan menolak appa,” kata appa tegas, kemudian bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkanku sendirian di kamar.

***

“Mwo? Kau bilang, kau akan dijodohkan dengan Kim Junsu-ssi, anak sahabat appamu?” Yoochun terkejut setengah mati saat aku menyelesaikan ceritaku dengan berapi-api. Setelah appa pergi dari kamarku tadi, aku memang langsung pergi menemui Yoochun di pondoknya, tempatnya tinggal selama menjadi pengurus Anabelle.

Aku mengangguk. Mataku kini mulai terasa panas. Aku ingin menangis, tapi bukan karena sedih. Aku ingin menangis karena baru pertama kali ini appa memaksaku untuk menuruti perintahnya, dan aku marah karenanya. Appa seakan telah menjadi orang yang berbeda di mataku, dan aku benci dengan pikiran itu. Terlebih lagi, bagaimana bisa aku menikah dengan Junsu, sementara orang yang aku cintai adalah Park Yoochun, yang sekarang sedang berada tepat di hadapanku ini?

“Dan kau bilang apa?” Yoochun bertanya lagi.

Aku memutar bola mataku. Pertanyaan bodoh. “Paboya! Tentu saja aku tidak mau! Aku kan, hanya mencintaimu, Park Yoochun!” Ups! Aku refleks menutup mulutku. Aku sudah kelepasan bicara rupanya.

“Eh? Musun soeriya? Coba katakan lagi, Seungmi-ah.” Yoochun menyenggol bahuku seraya mengerling jenaka.

Aku menjitak kepalanya gemas. “Saranghaeyooo~  Park Yoochuuuun!” kataku sekeras mungkin di telinganya, yang langsung membuatnya meringis karena kaget.

“Aish, kau ini. Telingaku sakit, tahu,” keluhnya seraya mengusap telinga kirinya. Aku hanya tertawa. “Tapi, benarkah kau mencintaiku? Meskipun aku bukan bangsawan? Meskipun aku tidak kaya? Meskipun appamu mungkin tidak akan menyetujui hubungan kita?” lanjutnya, membombardirku dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi.

Aku tersenyum, kemudian menganggukkan kepalaku. “Aku sudah telanjur mencintaimu tanpa sempat memikirkan semua hal itu, Yoochun-ah. Ku rasa, sekarang pun aku masih tidak punya waktu untuk memikirkannya,” jawabku seraya mengecup lembut dagunya.

Yoochun balas tersenyum seraya mengelus pelan kepalaku. “Kalau begitu, aku akan menemui appamu dan mengatakan tentang semua ini padanya. Ku harap, dengan begitu masih ada kemungkinan untuk mendapatkan restunya.”

Aku melepaskan tubuhku dari pelukannya. “Jeongmalyo? Kau yakin mau memberitahu appa tentang hubungan kita? Kalau dia tetap tidak setuju bagaimana? Ottokhae, Yoochun-ah?” tanyaku, mulai ketakutan sendiri membayangkan reaksi appa yang mungkin akan berada di luar dugaanku.

Yoochun lalu meremas jemariku, seakan memberiku kekuatan tak kasatmata. “Untuk saat ini, hanya ada satu hal yang bisa aku katakan padamu, Seungmi-ah. Dan itu adalah semua pasti akan baik-baik saja, percayalah,” katanya, menyunggingkan senyum separo favoritku dan menarikku kembali ke dalam pelukannya.

-cont-

Iklan

2 pemikiran pada “You’re My Sweetest Dream (1/2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s