In Between

Title : In Between

Author : Yuridista

Genre : Romance

Pairing : Homin

Rating : AA-PG

BGM : Edge of Desire-John Mayer

p.s : FF ini dibuat dalam rangka memperingati ultah Yunho 6 Februari kemarin dan menyongsong ultah Changmin 18 Februari besok.

p.s.s : sangat disarankan untuk membaca FF ini sambil dengerin BGMnya, supaya bisa lebih ngerasain apa yang dirasain sama Changmin *tsaaah*

***

Dorm DBSK lengang. Musim dingin nyaris mencapai puncaknya. Kulkas hampir tak ada isinya. Yunho tak sedang berada bersamanya. Dan kombinasi keempatnya memaksa Changmin untuk menghabiskan malam ini dengan bergelung dalam balutan sweater dan celana olahraganya—sebelah tangan memencet-mencet remote televisi dengan setengah hati, sementara tangan yang lain tergantung bebas di samping sofa. Mood lelaki itu sedang benar-benar jelek sekarang, hingga dia bahkan mampu menolak ajakan Kyuhyun untuk minum bersama dalam sekali percobaan—sesuatu yang tidak akan bisa dilakukannya tanpa keajaiban, mengingat fakta bahwa Kyuhyun selalu terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya, termasuk memaksa Changmin untuk menemaninya pergi minum hampir setiap akhir pekan.

Sepuluh menit berlalu, dan Changmin memutuskan untuk berhenti mengganti-ganti channel terlevisi yang sebenarnya samasekali tidak pernah ditatapnya dari tadi. Dia bangkit dari posisi berbaringnya, menimbang-nimbang untuk tidur lebih awal saja malam ini, tetapi kemudian dia mendengar suara pintu dormnya dibuka lalu ditutup lagi oleh seseorang. Changmin memutar kepalanya, ingin tahu siapa yang datang, dan terkejut luar biasa ketika melihat Yunho berjalan ke arahnya dengan langkah gontai dan kepala tertunduk.

“Hyung?” tegurnya, tiba-tiba merasakan sedikit kekhawatiran menyisip di hatinya.

Yunho mendongak, memberinya senyum terpaksa, kemudian melemparkan dirinya sendiri ke sofa di samping Changmin. “Hai. Aku pulang,” katanya pelan.

“Kau kenapa? Kok sudah pulang? Katanya mau merayakan ulangtahun bersama Jae-hyung?” tanyanya bertubi-tubi. Dipandanginya Yunho yang kini tengah bersandar di kepala sofa seraya memijat-mijat pelipisnya dengan tatapan penasaran.

“Tidak jadi. Jae membatalkan janji kami. Sibuk katanya,” jawab Yunho tanpa memandang Changmin.

Alis Changmin terangkat sebelah. “Sibuk bagaimana? Jae-hyung tidak mungkin membatalkan janji begitu saja. Apalagi ini janji denganmu. Untuk merayakan ulangtahunmu.”

Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu. Mungkin dia sudah berubah. Entahlah,” gumamnya, sepertinya lebih kepada dirinya sendiri.

Changmin menghela nafas, kemudian ikut menyandarkan tubuhnya ke sofa di samping Yunho. “Apa kau baik-baik saja, Hyung?”

“Baik?” Yunho menggumam lagi. “Mungkin tidak. Kurasa aku sudah lelah, Changmin-ah,” desahnya.

“Eh?”

Yunho kini mengangkat wajahnya dan benar-benar menatap Changmin tepat di mata. “Mencintai Jaejoong itu melelahkan,” ucapnya kemudian.

Changmin terkesiap, tapi buru-buru menyahut, “Maksudnya?”

Yunho mengangkat bahunya sekilas. “Sejak dulu dia selalu jadi pusat perhatian, dan sekarang malah semakin parah lagi. Ditambah dengan situasi kami yang seperti ini, rasanya jarak di antara kami semakin lebar saja. Bertemu tanpa diikuti paparazzi saja sudah sangat sulit dilakukan. Aku hanya capek dengan semua ini, itu saja,” jelasnya, matanya mulai berkabut sekarang. Lelaki itu kemudian menjatuhkan kepalanya begitu saja ke bahu Changmin di sampingnya, hingga membuat Changmin sedikit bergerak karena terkejut.

“Hei. Kau tak apa, kan, Hyung?” tanya Changmin seraya memandang khawatir ke arah kepala Yunho.

“Aku hanya lelah. Kan, aku sudah bilang padamu tadi,” jawab Yunho perlahan.

Changmin menggaruk tengkuknya, merasa bingung harus menyahut bagaimana. “Oke. Tapi tetap saja hari ini adalah hari ulangtahunmu. Masa kau mau melewatkannya seperti ini saja?” tukasnya kemudian.

Kepala Yunho menggeleng dari atas bahu Changmin. “Biar saja. Aku tidak berminat melakukan apa pun,” ujarnya malas, lalu kepalanya terangkat tiba-tiba. “Hei. Bukankah seharusnya kau pergi bersama Kyuhyun malam ini?” tanyanya.

Changmin mengangkat bahu. “Sedang tidak mood. Dia bisa pergi bersama Minho atau Jonghyun. Lagipula aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian dalam keadaan begini.”

“Jangan begitu,” Yunho membalas, “Pergilah. Aku tak apa-apa, kok.”

“Kubilang tidak, Hyung. Aku akan tetap di sini menemanimu,” tegas Changmin mengulangi perkataannya.

Yunho tertegun, tapi lalu menyunggingkan senyum miring ke arah dongsaengnya itu. “Baiklah. Terserah kau saja kalau begitu,” ujarnya, kemudian kembali meletakkan kepalanya ke atas bahu Changmin.

“Jadi, kau mau makan apa sekarang? Aku bisa memasakkannya untukmu. Bagaimanapun juga ini, kan, hari ulangtahunmu,” kata Changmin mengubah topik.

“Tidak usah. Aku tidak lapar,” tolak Yunho seraya menggeleng.

“Tapi Hyung—”

Ucapan Changmin terhenti ketika Yunho meraih tangannya yang berada di atas paha dan meremasnya perlahan. “Aku senang kau yang ada di sini bersamaku, Changmin-ah. Terimakasih banyak,” bisiknya, kemudian mulai menimang-nimang tangan Changmin di atas tangannya.

Changmin bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat di dalam rongga dadanya. Sebentuk senyum terpahat di wajahnya. Sedikit saja, tidak banyak-banyak. Karena di saat yang bersamaan dia tahu jantungnya juga berdenyut nyeri sekarang. Keduanya karena lelaki di sampingnya ini—karena Yunho.

“Jangan memulai drama melankolismu sekarang, Hyung. Ini masih terlalu awal,” tukasnya setengah bercanda.

Tawa Yunho terdengar, dan dada Changmin ikut bergetar karenanya. “Kau tahu, hanya kau satu-satunya orang yang menganggap keromantisanku adalah sebuah lelucon, Changmin-ah.”

Changmin menyeringai kemudian menyahut, “Dan apakah itu salah?”

Yunho menggeleng. “Tidak samasekali. Bahkan justru itulah kau jadi istimewa, karena kau berbeda dengan orang-orang lainnya.”

Ucapan itu membuat rasa hangat menjalari pipi dan leher Changmin. Lelaki itu berpikir, bolehkah dia merasa seperti ini? Merasa bahagia di saat seharusnya dia mencoba untuk mengenyahkan perasaan mendambanya terhadap Yunho—yang jelas-jelas telah jatuh cinta setengah mati terhadap Jaejoong?

“Changmin-ah, aku menyayangimu,” bisik Yunho lagi, kemudian lelaki itu menautkan jemarinya dengan jemari Changmin untuk sekali lagi meremasnya dengan lembut.

Changmin tertegun, tapi lagi-lagi seulas senyum muncul secara otomatis di wajahnya. Ya, dia rasa, untuk saat ini, bersama Yunho yang bersandar padanya dan bilang sayang padanya seperti ini, dia boleh merasa bahagia. Dia boleh merasa bahagia karena dialah yang masih bersama Yunho sampai detik ini—karena dialah yang berada di samping lelaki itu untuk berbagi kelelahan dan tawa dengannya. Dan karena dialah yang merasa cukup hanya mencintai Yunho diam-diam seperti ini, meski dia tahu sejak awal dia telah berada di antara cinta yang tak mungkin dipisahkannya walau sebesar apapun dia ingin melakukannya.

“Aku juga menyayangimu…Hyung,” balasnya, lalu tangannya balas menggenggam tangan Yunho lebih erat lagi.

DING!

Iklan
In Between

3 pemikiran pada “In Between

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s