Kembang Gula Tengah Desember

Aku duduk tanpa teman di bus ini, di bangku nomor dua dari depan, di deretan kanan. Alih-alih mencoba berbasa-basi dengan wanita setengah baya berbaju motif bunga-bunga yang duduk di sampingku, aku memilih untuk memandang ke balik jendela, menaruh perhatian lebih pada hujan deras yang mengguyur jalanan beraspal dan membuat lampu-lampu kuning besar di tepinya tampak menyala temaram. Aku tersenyum, merasa sangat familiar dengan hujan dan lampu-lampu kuning itu. Lalu, bersama lagu Never Think milik Robert Pattinson yang aku putar lewat ipod shuffle-ku dan yang selalu menjadi lagu favoritku sepanjang masa, aku pun berlari dalam pikiran, mencari-cari ingatan itu, ingatan tentang kembang gula dan si jangkung berkacamata.

Aku ingat, waktu itu, tepat hari ini tujuh tahun yang lalu, aku menggigil sendirian di ujung halte bus seberang kampusku. Pakaianku basah, rambutku basah, sepatu kanvas lusuhku bahkan terasa berat karena kemasukkan air terlalu banyak. Aku sendiri tidak tahu pasti kenapa aku memilih berteduh di halte bus itu, karena seluruh tubuhku sudah kepalang basah dan jarak antara halte bus dan flatku cuma lima menit berjalan kaki. aku justru masih diam saja di pojok halte, memandangi hujan yang seperti mengejekku karena tidak membawa mantel maupun payung di musim yang sedang tidak bersahabat seperti ini. Walau begitu, hujan masih tetap menjadi hal kesukaanku sampai detik ini, ketika kedatangannya selalu membawa kesejukan dan kemagisan tersendiri.

Lalu, aku sadar bahwa kau sudah duduk di sampingku, entah sejak kapan. Pertama kali memandangmu, hal mencolok yang aku tangkap adalah kacamata frameless persegi bergagang merah yang bertengger di hidungmu. Kacamata itu segera saja memberikan kesan “cowok perpustakaan” bagiku. Ditambah lagi, kacamata itu sepertinya kebesaran untukmu, hingga membuat wajahmu tampak sedikit aneh di mataku.

Selebihnya, kau terlihat seperti anak kuliahan pada umumnya. Mengenakan kemeja biru dongker yang lengannya digulung sampai ke siku dipadu dengan jeans belel dan sepatu kets putih penuh lumpur, kau menggendong ransel coklatmu yang tampaknya berisi cukup penuh. Rambutmu sama basahnya dengan rambutku, hanya saja tampak lebih berantakkan. Kau jangkung dan kurus, bahkan ketika kau duduk dengan tubuh membungkuk seperti saat itu.

Bagiku, tak ada yang menarik tentangmu─selain soal kacamata yang kebesaran itu─kalau saja kau hanya duduk diam dengan tampang datar sambil menunggu hujan reda seperti yang aku lakukan. Tapi kau lalu melepas ransel di punggungmu dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebatang kembang gula berwarna merah muda. Aku mengerjapkan mata karena heran, kenapa cowok sepertimu membawa-bawa kembang gula berwarna merah muda di dalam ranselnya. Entahlah. Bagiku itu terasa janggal dan tidak biasa. Maksudku, kembang gula bahkan bukan termasuk dalam jenis snack yang setiap hari kau bawa-bawa dalam ranselmu, kan?

Kau melirikku sedetik, kemudian mulai memakan kembang gulamu. Aku menelan ludah satu kali. Eh, apakah kau tahu sejak tadi aku menatapmu dengan pandangan hei-cowok-aneh-apa-yang-sedang-kau-lakukan? Tiba-tiba saja kau menolehkan kepalamu 90 derajat ke arahku seraya menyodorkan kembang gula yang sudah kau makan seperempatnya ke depan hidungku tanpa berkata apa-apa. Aku melongo. Kau memberi isyarat dengan dagumu bahwa aku boleh memakannya. Kali ini aku menggeleng. Kau lalu mendengus sambil memutar bola matamu. Menjengkelkan. Ekspresimu seolah memberitahuku kalau aku ini anak nakal yang susah diberitahu saja. Tapi kau belum mau menyerah. Kau menarik tangan kananku yang mati rasa karena kedinginan, dan meletakkan batang kembang gula itu di atasnya.

Aku masih memandangmu dengan tatapan jengkel sekaligus bingung ketika menit berikutnya bus berwarna putih datang dan kau melompat dari dudukmu, menarik ransel di sampingmu, dan pergi begitu saja, nyaris terjengkang ketika menaiki bus putih itu. Sedangkan aku, masih menggenggam batang kembang gula merah jambumu, cuma bisa ternganga melihatmu menjauh bersama bus itu.

Lagu Never Think telah berganti menjadi lagu A Thousand Miles milik Vannesa Carlton. Aku masih tersenyum sendiri di dalam bus yang entah kenapa serasa berjalan terlalu lambat. Sambil menyenandungkan lirik lagu A Thousand Miles yang sudah terputar nyaris separuhnya di ipodku, aku menepuk-nepuk ranselku yang berisi dua batang kembang gula merah jambu. Kau tahu, kan, kalau aku tak pernah lupa saat itu? Saat ketika hujan di tengah Desember membawamu berteduh di halte bus yang sama denganku. Saat ketika kembang gula jadi penanda ingatanku tentangmu. Hari ini, 15 desember 2017 pukul empat sore, aku tahu kau pasti sudah menungguku di halte bus depan kampusku untuk menikmati kembang gula merah jambu kesukaanmu. Selalu sama, selalu semanis tahun-tahun sebelumnya.

Aku agak terlonjak ketika melihat bangunan megah Queen Mary and Westfield College, University of London dua puluh langkah dari tempatku duduk saat ini. Ini pemberhentianku. Itu artinya, aku akan kembali bertemu denganmu setelah empat tahun berlalu. Empat tahun, tapi aku bahkan masih ingat apa warna kacamata frameless yang kau pakai tepat hari ini tujuh tahun lalu. Tidakkah aku agak berlebihan mengenai hal itu?

Aku menguap panjang sebelum mengalihkan pandanganku dari luar jendela. Ah, rupanya mengingatmu agak sedikit membuatku lelah. Tapi, untuk kesekian kalinya, tak urung aku tersenyum juga saat membayangkan bagaimana reaksimu saat melihatku nanti. Aku mulai menimbang-nimbang beberapa opsi : pertama, kau akan sangat shock melihat perubahanku setelah empat tahun hingga tak bisa mengatakan apa-apa. Kedua, kau akan menyeringai seram ke arahku lalu berkata, “Apa yang kau lakukan di sini, hah?”. Ketiga, kau akan menertawakanku sampai puas atas nama penampilanku yang kusut dan acak-acakkan. Keempat, kau akan pura-pura tidak melihatku, tapi membiarkanku mengikutimu ke manapun kau pergi. Kelima, kau akan memelukku lama sekali, lagi-lagi tanpa dialog. Well, aku rasa aku lebih menyukai kombinasi dari kelimanya daripada harus mendapatkan salah satunya.

Sedetik kemudian pikiranku dipotong oleh kata-kata si kondektur bus yang memberitahukan bahwa kami sudah sampai di Queen Mary bus stop. Aku menghela nafas sebelum melangkah. Dan ketika aku sudah menginjakkan kakiku di jalanan beraspal, aku mendesah lagi untuk kedua kalinya sejak hari ini dimulai. Itu karena akhirnya aku bisa melihatmu berdiri di sana, bersedekap dengan tampang bosan di antara deretan para calon penumpang bus yang menunggu datangnya bus mereka dengan berbagai macam ekspresi : mengantuk, datar, bersemangat, tidak sabar, dan bosan─sama seperti ekspresi milikmu.

Aku tertawa. Rupanya kau masih belum berubah sejak lulus empat tahun lalu. Kau masih tampak seperti seorang dokter berkacamata frameless yang bertangan dingin dan arogan. Sejujurnya, aku lega mendapati fakta itu karena sejak empat tahun lalu aku juga masih seorang gadis sarjana teknik industri yang kelewat ceroboh dan kekanak-kanakkan. Oh, dan yang selalu susah datang tepat waktu, seperti hari ini.

Aku sudah tidak sabar lagi untuk menyapamu. Karenanya, aku pun berteriak tanpa pikir panjang, “Abang! aku tepati janjiku, Bang! Sekarang aku ada di London, di tempat yang sama denganmu!”

Kau menoleh cepat dan memberiku pandangan itu. Pandangan yang sama dengan yang kau berikan tujuh tahun lalu. Pandangan yang mengatakan padaku bahwa aku ini masih tetap seorang anak kecil yang menjengkelkan dan susah diberi tahu.

Aku menyeringai lebar sambil memutar bola mataku, membalas pandangan menyebalkanmu itu.

Kau mendekat dan berujar dengan suara yang dalam dan serak sambil menunjuk langit yang gelap, “Mana jaketmu? Tidak sadar kalau sedang hujan?”

Aku ikut-ikutan mendongak. “Ups. Aku lupa,” jawabku sambil mengangkat bahu.

Kau mendecakkan lidah sambil menggelengkan kepalamu. “Jangan-jangan kau memang tidak pernah punya jaket, “ katamu, lalu melepas jaket warna tanahmu dan menyampirkannya di bahuku. “Pakai itu. Nanti kau sakit aku yang repot,” tambahmu, masih dengan gaya bicara yang sangat menjengkelkan itu.

Aku mencibir, tapi tetap memakainya juga. Mmmh. Ternyata aroma jaketmu pun masih tetap sama. Aroma parfum favoritmu yang mengingatkanku pada padang rumput di Edensor.

“Mau berdiri di situ sampai kapan, hah?” tanyamu tidak sabar.

Aku buru-buru mengikutimu kembali berteduh di bawah halte. Hujan memang masih deras dan tampaknya tidak ada tanda-tanda kalau dia akan berhenti sekitar satu atau dua jam ke depan. Aku duduk di sampingmu dan melepaskan ransel dari punggungku, mengeluarkan dua batang kembang gula merah jambu favoritmu. Tanpa kata, ku sodorkan sebatang ke depan wajahmu. Kau menoleh dan menerimanya, juga tanpa kata.

“Beli di mana? Ku kira sekarang sudah tidak ada yang jual,” katamu, setelah kau memakan kembang gulamu nyaris setengahnya.

“Di sekitar Hyde Park. Aku harus berebut dengan anak-anak kecil yang mengerubungi penjualnya seperti semut. Mereka semua rupanya menggilai yang warna merah muda,” kisahku. Aku sengaja menekankan kata-kataku pada frasa merah muda agar kau tahu betapa anehnya seorang lelaki dewasa yang menjadikan kembang gula merah muda sebagai camilan favoritnya.

“Oh, pantas kau telambat hampir sepuluh menit. Aku tidak heran kalau itu alasanmu,” sahutmu, benar-benar sinis.

“Haha. Well, terimakasih atas pengertianmu, kalau begitu,” ujarku, nyata-nyata menunjukkan kejengkelanku.

Kau hanya menarik ujung bibirmu sedikit, puas karena telah berhasil membuatku kesal. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku menyukai dokter jangkung menjengkelkan ini selama tujuh tahun tanpa jeda? Adakah yang salah dengan otakku? Atau mataku? Atau hatiku?

“Kembang gulanya sudah habis,” katamu, entah apa maksudnya.

“Lalu?” tanyaku tidak mengerti.

“Kenapa kita masih ada di sini?” kau balik bertanya, seolah seharusnya aku sudah tahu jawabannya.

“Memangnya kita bisa berada di mana lagi?” balasku tak mau kalah.

Well, aku sebenarnya sedang menimbang-nimbang untuk pergi ke suatu tempat,” katamu, lebih kepada dirimu sendiri.

Aku menghela napas dan menyahut, “ Ke manakah itu?”

Kau menoleh dan menatapku tepat ke dalam mataku. “ Itu rahasia,” jawabmu, menyeringai sangat lebar sambil mengedipkan sebelah matamu.

***

“Kita sebenarnya mau ke mana?” tanyaku, mulai bosan bermain rahasia denganmu. Saat itu kau dan aku tengah berada di dalam bus yang menuju ke pusat kota London.

“Diam dan menurutlah. Tidak bisakah kau bersikap manis sebentar saja?” ujarmu, samasekali tidak terpengaruh dengan rengekkanku.

Aku mendengus. Memang tidak ada gunanya mencoba berdebat dengan si jangkung berkacamata di sampingku ini. Well, bukankah sejak tujuh tahun lalu dia sudah berhasil memenangkan pertandingan denganku? Masalah pemaksaan kembang gula itu, ingat?

Jadi aku memilih berpangku tangan dan melanturkan pikiranku sambil melihat pemandangan di luar jendela. Hujan sudah reda dan matahari mulai berani menampakkan batang hidungnya, walau masih setengah hati. London memang sangat menakjubkan di saat-saat setelah hujan seperti ini. Maksudku, siapa, sih, yang bisa menolak pesona kota London yang antik dan serba coklat seperti ini?

“Kita sudah sampai,” katamu beberapa menit kemudian, yang dengan mudahnya membuat lamunanku buyar seketika.

Aku memandang berkeliling dan langsung menyadari kami sekarang sedang berada di mana. “London Eye?” tanyaku terkejut. Aku bisa mendengar suaraku naik beberapa oktaf ketika mengucapkan dua kata itu.

Kau hanya mengangguk sambil membimbingku turun dari bus. Sedangkan aku, dengan patuh mengikuti langkahmu dengan perasaan takjub masih melingkupi sekeliling tubuhku.

“Kau tahu kan, aku sudah lama sekali kepengin datang ke tempat ini,” ucapku. Aku memandangmu dengan mata membulat saking senangnya.

Kau tertawa lalu menyahut, “Aku tahu. Bukankah kau selalu membuatku nyaris mati bosan karena mendengar ocehanmu tentang tempat ini?”

Aku meringis mendengar kata-katamu. “Eh, benarkah itu?” tanyaku malu.

“Diamlah. Lihat saja mata raksasa itu,” ujarmu sambil menunjuk si London Eye dengan dagumu.

Lagi-lagi aku menurut. Aku memandang London Eye lekat-lekat, mengagumi strukturnya yang seperti bianglala raksasa, salah satu wahana favoritku di taman bermain di kotaku.

“Ems.” Kau memanggilku pelan.

Aku menoleh ke arahmu dengan pandangan bertanya-tanya. “Yeah?”

“Well, aku, eh, ingin mengatakan sesuatu,” ujarmu, tiba-tiba tampak salah tingkah. Kau bahkan menggaruk-garuk kepalamu dan tidak berani menatap mataku.

“Apa?” tanyaku, merasa agak aneh dengan situasi ini.

Kau menjawabnya dengan mengeluarkan sesuatu dari saku kemejamu. Sebuah kotak perhiasan─kotak cincin lebih tepatnya. Sambil berlutut, kau lalu mengucapkan tiap kata ini lambat-lambat. “Sudah tujuh tahun sejak waktu itu. Sudah banyak kembang gula merah muda yang kita habiskan di tengah bulan Desember. Sudah banyak hujan yang kita lalui. Sudah waktunya kita membuat rencana yang lebih baik dari sekedar bertemu setiap tanggal 15 Desember. Aku sedang melamarmu di tempat favoritmu. Jadi, apa jawabanmu?” tanyamu lembut.

Aku ternganga saking speechlessnya. Ini benar-benar di luar dugaanku. Maksudku, dilamar oleh cinta pertamamu di tempat yang selalu ada dalam daftar teratas tempat yg ingin kau ku kunjungi sebelum kau mati? Isn’t it just perfect?

“Ehm. Kau mau membuatku kesemutan, ya?” tanyamu, mulai bertingkah menjengkelkan lagi.

Aku refleks menutup mulut dan mengangukkan kepalaku. “Oke. Well, aku mau. Tentu saja aku mau,” jawabku, merasakan jantungku mengembang karena bahagia.

Kau berdiri dan memasangkan cincin perak itu di jari manis tangan kiriku. “Tahu tidak? Sebenarnya aku sudah tahu kok kalau kau pasti menjawabnya dengan ‘ya’,” katamu sambil menyeringai jahil.

Aku memutar bola mataku. Dasar penyuka kembang gula merah jambu yang menyebalkan. Kau memang benar-benar berhasil membuatku jatuh cinta!

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s