Sepenggal Kisah Langit

Sebuah kisah yang ditulis untuk #Proyek27

“Bulan ini kayaknya aku mau pergi mendaki, Sayang,” Dre berkata seraya menyelipkan helai-helai rambutku ke balik telinga ketika aku membenahi letak dasinya.

Aku menautkan alis. “Lagi? Bukannya baru dua bulan kemarin kamu pulang dari Jawa Timur? Mendaki gunung apa itu namanya? Aku lupa,” ujarku, kini beralih untuk merapikan kerah kemejanya.

“Argapura. Iya, tapi kali ini aku mau ke Everest. Tahu, kan, gunung tertinggi di dunia itu, lho, Sayang.”

Mataku langsung melotot. “Jangan, ah, Dre. Jauh banget itu. Lagian bahaya juga. Nggak boleh. Ntar kalau ada apa-apa gimana?” aku menukas, tak bisa kalau tak mengkhawatirkannya.

Suamiku nyengir. “Mumpung masih muda, Jen. Boleh, dong, please. Mendaki Everest itu cita-citaku sejak zaman kuliah, lho. Nanti aku fotoin senja buat kamu, deh, Sayang. Ya?” Dia merajuk, kini sudah mengikuti langkah-langkahku keluar kamar.

Aku berbalik dan menatapnya tepat di mata. “Terus siapa yang mau ngejagain aku dan calon anak kita kalau kamu malah pergi ke Nepal sana? Kamu nggak kasihan sama kita?” tanyaku seraya mengelus perutku yang sudah membesar. Ada janin berusia lima bulan di dalamnya. Lelaki, kata dokter langgananku saat aku dan Dre melakukan USG untuk mengetahui jenis kelaminnya—calon anak kami ini. Ketika itu aku tersenyum dan berkata iseng pada suamiku, “Aku berharap dia nggak gila gunung seperti kamu.”

Dan Dre membalas, “Sama aja kalau akhirnya dia jadi gila senja kayak kamu, karena senja terbaik hanya bisa dilihat dari puncak gunung tertinggi.” Kemudian tawanya berderai, hingga membuat dokter di hadapan kami berkerut-kerut keningnya.

“Sayang,” Dre berkata, mengembalikan ingatanku ke masa sekarang, “sekali ini aja, izinin aku pergi, ya. Setelah itu, aku janji hanya akan punya dua status dalam hidupku, sebagai suami buat kamu dan ayah buat anak-anak kita. Can’t you just trust me?”

Aku menunduk, memandangi tangannya yang juga berada di atas perutku. Ada cincin pernikahan kami terpasang di jari manisnya, simbol kepercayaanku padanya. Aku mengangkat wajah dan mendesah pasrah saat melihat kesungguhan yang terpancar dari wajahnya. “If only you can go back as soon as possible,” kataku akhirnya.

Senyum Dre mengembang. “Sure. Makasih, Jen. I love you.”

Aku ikut tersenyum. “Me too.”

***

Dua cangkir teh tersaji di atas meja di hadapan kami. Tawar untuk Dre, dan sedikit manis untukku. Keduanya nyaris belum tersentuh karena kami berdua sama-sama terdiam dan memilih menatap langit, yang sekarang menggelap karena titik-titik gerimis berjatuhan dari permukaannya.

“Sayang, kalau anak kita lahir nanti, kita namain dia Langit, yuk,” Dre berkata memecah keheningan.

Aku menoleh padanya dengan alis terangkat. “Kok Langit?”

“Iya, Langit. Soalnya, kita berdua sama-sama suka hal-hal yang berhubungan dengan langit. Kamu suka senja, sedangkan aku suka dengan siluet gunung yang menyatu dengan langit. Filosofinya, anak kita adalah penyatu buat perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita, Jen. Romantis, kan?” jelasnya, kemudian nyengir lebar.

Aku memutar mata. “Iya, deh. Aku nurut. Langit juga cakep, kok, kalau didenger. Pokoknya asal nggak ada bau-bau gunungnya aku iya-iya aja,” sahutku setengah bercanda.

“Astaga, segitu sensinya kamu sama gunung, Sayang. Kasihan gunungnya, nggak salah apa-apa kamu jutekin begitu,” balas Dre seraya tertawa.

“Biarin. Salah sendiri bikin cintanya suamiku jadi terbagi. Mana besok aku udah ditinggal, lagi,” rajukku, mendadak teringat bahwa besok adalah hari keberangkatan Dre dan teman-teman di komunitas pecinta alamnya ke Gunung Everest di Nepal sana.

Dre meringis, kemudian menggeser duduknya mendekatiku. Sebelah tangannya kemudian merangkul bahuku dan menepuk-nepuknya lembut. “Jangan gitu, dong, Jen. Kan, kamu udah ngasih izin aku buat pergi. Aku janji bakal pulang dan bawain foto senja terbaik di seluruh dunia buat kamu, deh. Suer.”

Kuletakkan kepalaku ke bahunya kemudian berujar pelan. “Aku percaya, kok, kalau kamu bakal pulang buat aku dan Langit. Aku cuma khawatir. Itu aja.”

“Then don’t,” sahut Dre lembut namun tegas. “Because when time flies, I will be beside you again just in one second. Okay?”

Aku tersenyum di dadanya. “Okay.”

***

Hujan turun pagi ini. Deras dan lama. Langit gelap, dan gumpalan awan menggantung tak ramah di permukaannya. Aku duduk di sini, di beranda rumah kita, bersama dua cangkir teh favorit kita—satu tawar, satu sedikit manis. Tapi, kali ini ada yang berbeda. Kau tak lagi duduk di sini bersamaku.

Kau tahu, Dre, Sayangku, sampai hari ini pun aku masih duduk menunggumu di sini, di tempat terakhir kalinya kau memelukku dan menepuk lembut bahuku. Aku masih berharap kau akan muncul tiba-tiba di gerbang rumah kita, tersenyum lebar padaku seraya berseru, “Aku pulang, Sayangku!” seperti yang selalu kau lakukan di setiap kepulanganmu dari pendakian-pendakianmu yang dulu-dulu. Aku masih berharap kau ada di sampingku sekarang, duduk menikmati hujan bersamaku sambil sesekali menyesap teh tawar buatanku yang selalu jadi favoritmu. Aku masih berharap kau akan menyeringai padaku seraya memamerkan foto siluet senja tebaik yang kau janjikan untukku. Aku masih berharap melihat senyummu dan mendengar suara tawamu, Dre. Tapi, kau bohong padaku. Nyatanya, Gunung Everest akhirnya benar-benar merebutmu dariku. Karenanya, meski aku menunggu sejuta tahun pun, aku tahu kau tak akan pernah datang lagi padaku.

***

“Bunda, Ayah itu seperti apa, sih?” tanya anakku, Langit, ketika aku dan dia tengah duduk berdua saja di beranda rumah kami, menikmati hujan yang sekali lagi datang terlalu pagi.

Tanganku terulur untuk mengelus kepalanya. “Hmmm,” aku memulai, “Ayah itu seperti pelangi yang datang setelah hujan, Sayang.”

“Pelangi setelah hujan? Kok bisa, Bun?” tanya Langit ingin tahu.

Aku tersenyum. “Iya. Karena Ayah itu orangnya nggak bisa ditebak. Dia suka tiba-tiba kasih kejutan buat Bunda. Dan dia juga suka bikin Bunda kesel karena nungguin dia, tapi justru di situlah letak keistimewaan Ayah,” jelasku, “Pelangi juga datangnya nggak bisa ditebak, kan? Nggak setiap habis hujan selalu ada pelangi, padahal banyak sekali orang yang kepengin lihat gimana indahnya pelangi. Tapi, sekalinya datang, dia bisa bikin semua orang bahagia. Sama, kan, sama Ayah?”

Langit mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. “Tapi, Bun, kalau Ayah seperti pelangi, berarti nggak cocok sama Bunda yang suka senja, dong?” tanyanya lagi.

“Iya, Sayang. Makanya ada kamu,” ujarku lembut.

Kening Langit berkerut bingung. “Maksudnya?”

“Gini, Sayang. Senja dan pelangi memang nggak bisa muncul bersamaan. Mereka emang nggak pernah bisa berdampingan. Tapi, langit akan selalu ada buat mereka. Langit akan dengan senang hati menampilkan keindahan mereka masing-masing. Dan seperti langit di atas sana, kamu ada untuk menjadi penyatu buat perbedaan-perbedaan Ayah sama Bunda. Ngerti, kan, Nak?”

Kini ganti anakku yang tersenyum lebar ke arahku. “Langit ngerti, Bunda.” Kemudian, kepalanya menoleh cepat ke arah langit yang kini sedang menampilkan siluet samar tujuh warna pelangi di balik kumpulan awan. “Bunda, itu lihat, Bun! Ada pelangi! Ada Ayah!” Dia berseru senang.

Mataku berkaca-kaca ketika menatap raut bahagia anak lelakiku. Dre, bisikku dalam hati, akhirnya kamu pulang. Akhirnya, setelah hujan berkepanjangan yang kau tinggalkan untukku, kamu datang untuk menemui aku dan Langit, lelaki setangguh gunung dan seindah pelangiku.

Terimakasih telah menepati janjimu di penghujung hujan kali ini, Suamiku. Selamat beristirahat. Aku mencintaimu.

Iklan
Sepenggal Kisah Langit

10 pemikiran pada “Sepenggal Kisah Langit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s