Untukmu, Lelakiku : Bagian Dua

Pernah, suatu kali, ketika aku sedang memandang hujan dari balik jendela kotak-kotak di kamarku, pikiran-pikiran ini datang dan menyisip di sela-sela kepalaku. Aku tersenyum ketika itu, bertanya kepada diriku sendiri darimana datangnya semua pikiran ini—pikiran-pikiran tentang kita ini.

Menari berdua di bawah hujan; aku tidak bisa berdansa, dan kau pun hanya bergerak pelan-pelan saja. Tapi mata kita tersenyum, dan bibir kita membentuk tawa. Aku menyukainya.

Duduk berdua di dalam mobil kesayanganmu; kau yang menyetir, dan aku duduk di sampingmu—memandangi setengah sisi dari wajahmu. Dan ketika kau balik memandangku, tangan kita akan saling menggenggam, erat. Aku menyukainya.

Kau muncul di pintu ruang kerjaku di kantor; ada segebung besar bunga mawar merah muda favoritku di tanganmu. Bilangmu, selamat ulang tahun pernikahan yang ketujuh. Lalu, kau memelukku. Aku menyukainya.

Aku menemanimu nonton pertandingan bola tim favoritmu; kita duduk bersisian, tapi kau nyaris tak penah sekalipun menoleh padaku. Matamu terkunci pada layar televisi, dan pada akhirnya aku tertidur di bahumu, kelelahan. Tapi, esoknya, aku akan terbangun di ranjang kamar kita, dengan kau yang masih terlelap di sampingku. Aku menyukainya.

Kau memasak sarapan untukku; sederhana saja, hanya nasi goreng atau telur dadar atau pasta. Aku akan tertawa melihatmu kebingungan di dapur kita, salah mengambil bumbu atau takut masakannya akan berakhir dengan kegagalan. Kau akan memberengut padaku, pura-pura marah. Aku menyukainya.

Kita bertengkar karena aku benci kau pulang larut malam; tidak, aku bukannya benci ditinggalkan. Aku hanya benci melihat wajahmu yang kelelahan. Lalu aku akan memberimu pelukan, erat dan lama. Terimakasih, bilangmu dari atas bahuku. Aku menyukainya.

Kita pergi berbelanja bertiga bersama adik perempuanmu; dan kau akan merajuk padaku karena merasa diacuhkan. Adikmu akan tertawa dan mengejekmu. Aku akan memutar mata karena tingkah kanak-kanakmu. Kau lucu. Aku menyukainya.

Kau mengangguku menyelesaikan naskah novelku yang dikejar deadline; berpura-pura sangat butuh minum kopi buatanku detik itu juga. Kau akan mendelik jengkel pada laptopku ketika aku tak menyahutimu. Kau cemburu pada pekerjaanku. Aku menyukainya.

Aku menangis karena menonton drama favoritku di televisi; air mataku jatuh satu-satu, samasekali tanpa kuminta. Kau menggeleng-gelengkan kepalamu saat melihatku, tak habis pikir kenapa adegan yang tak nyata bisa membuatku jadi semelankolis itu. Tapi kau akan mendekat padaku dan mengusap mataku dengan jemarimu. Jangan menangis, Sayangku, bisikmu menenangkanku. Aku menyukainya.

Aku mencium tanganmu usai kau mengimami sholat kita; dan kau balas mengecup keningku. Ada haru yang menyisip di hatiku. Aku tahu, perasaan ketika menjadi makmum-mu tak akan tergantikan oleh apa pun. Dan aku yakin, kau adalah suami terbaik yang dihadiahkan Tuhan untukku. Aku menyukainya.

Hujan di balik jendelaku sudah mereda ketika pikiran-pikiran ini satu-satu memasuki kotak-kotak ingatanku. Senyumku memudar, dan aku tahu bahwa semanis apa pun mereka, kau akan membawakanku segala hal yang jutaan kali lebih manis dari apa yang berada dalam kotak-kotak ingatanku—kelak, ketika kita bertemu.

Sampai hari itu, biarkan aku membangun sendiri imaji-imajiku tentang kita. Sampai hari itu, biarkan apa-apa yang tak terjangkau olehku menjadi sebuah rahasia…

Salam,

Wanitamu.

Iklan
Untukmu, Lelakiku : Bagian Dua

10 pemikiran pada “Untukmu, Lelakiku : Bagian Dua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s