Untukmu, Lelakiku : Bagian Satu

Buatku, menerka-nerka itu melelahkan, tapi menunggu juga membosankan.

Jadi, kalau tentangmu, aku akan memilih berada di antara keduanya;

menerka-nerka sambil menunggu, atau mungkin sebaliknya.

Di dunia kita, ada banyak sekali hal yang belum aku pahami.

Bagaimana takdir bekerja,

atau bagaimana kebetulan bermain-main di selanya,

atau bagaimana semua hal hanyalah soal waktu dan tempat yang tepat,

aku belum memahami semuanya,

meski yang sebenarnya ingin aku lakukan hanyalah menikmatinya.

Aku percaya,

kita, aku dan kamu, adalah salah satu di antara milyaran kisah yang telah dituliskan Tuhan.

Karenanya, kita pun juga akan berada dalam lingkaran takdir, kebetulan, waktu, dan tempat yang tak seorang pun tahu kapan berakhirnya.

Kita akan berputar-putar di sana, mencari satu sama lain, kelelahan, kemudian memilih untuk diam dan menunggu, walau pada akhirnya kita akan kembali ke awal, mengulang lagi semuanya dari mula.

Di antara waktu-waktu itu, kita akan menerka-nerka tentang satu sama lain, tersenyum-senyum sendirian, membayangkan apa yang sebenarnya tak bisa divisualisasikan, mencampurnya dengan harapan, kemudian menutupnya dengan doa—bahwa penantian ini akan segera menemui ujungnya.

Selama itu, kita akan memiliki dunia kita sendiri, bertemu manusia-manusia lain, mengira bahwa kita telah jatuh cinta kepada satu di antaranya, kemudian patah hati karena salah satu dari mereka juga, merasa dicintai, merasa telah melukai, dan sekali lagi, menerka-nerka dan menunggu, untuk satu sama lain.

Selama itu, aku akan menunggumu sambil menulis kisah orang-orang lain, membiarkan diriku menciptakan takdir manusia-manusia fiksiku, dan diam-diam menyelipkan harapan di antaranya, bahwa entah bagaimana, kau akan membaca kisah yang aku tulis dan menemukan petunjuk tentangmu di dalamnya.

Selama itu, kau mungkin akan menungguku sambil memainkan gitarmu, atau menggambar sketsa bangunan rancanganmu, atau mengerjakan presentasi kerjamu, atau mengutak-atik mesin mobil kesayanganmu, atau menatap senja dari puncak gunung yang baru saja kau daki, atau justru sambil membaca kisah-kisah favoritmu di salah satu sudut kamarmu.

Selama itu, bersabarlah. Tidak perlu lama-lama, cukup sampai kita sama-sama tiba kepada waktu dan tempat di mana pada akhirnya kita akan saling menemukan…

Salam,

Wanitamu.

Iklan

6 pemikiran pada “Untukmu, Lelakiku : Bagian Satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s