[#15HariNgeblogFF] Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta…

Aku memandangi bayangan diriku sendiri di cermin bundar di hadapanku. Oke. Bahkan dengan mulut penuh busa seperti ini aku masih terlihat luar biasa ganteng. Plus kaya. Plus masih muda. Plus sedang jatuh cinta. Sempurna? Memang, jangan ditanya. Jadi, di mana sebenarnya letak masalahnya?

Oke. Akan aku jelaskan sambil menggosok gigi. Jadi, teman-temanku bilang aku gila. Alasannya? Sederhana. Karena aku sedang jatuh cinta. Tapi buatku, gila karena cinta sudah biasa. Yang beda adalah bagaimana sekarang aku justru mulai membandingkan kisahku dengan odol yang tergeletak tak berdosa di ujung wastafelku. Begini maksudnya. Bagiku, kisah cintaku mirip kisah si odol yang berdasarkan prediksiku punya kemungkinan sangat besar untuk jatuh cinta pada sikat gigi kesayanganku. Menurutku, kisah cinta mereka berawal karena terbiasa. Mereka terbiasa berada dekat satu sama lain setiap hari, bersentuhan, berbagi rasa, bahkan sampai memasuki mulutku berdua saja. Mungkin, seperti aku yang selalu merasa ada yang berbeda kalau tidak menyikat gigi dengan sikat dan odol yang biasa, si odol juga akan merasa ada yang hilang darinya—sensasi ketika kulitnya menyentuh permukaan sikat yang kasar namun familiar, dan si sikat juga akan merasa ada yang aneh karena bau mint yang biasa menyapanya tak lagi meresap di antara bulu-bulunya.

Sampai di situ, apa kalian sudah mengerti maksudku? Kalau belum, mari kita sederhanakan lagi. Singkatnya, persamaanku dengan odol yang lagi jatuh cinta adalah kami sama-sama mencintai sesuatu yang kami sebut rumah, tempat satu-satunya di mana kami bisa menjadi diri sendiri, tak peduli apakah badanku bau atau rambutku kusut dalam kasusku, dan tubenya tak berbentuk atau bau mintnya memudar dalam kasus si odol.

Jadi, lihat kan, aku tidak gila!

***

“Suster, Diandranya ada?” tanyaku ketika menjumpai Suster Asri di taman Bangsal Lili.

Suster Asri tersenyum. “Kayaknya di kamarnya, Mas. Daritadi sepertinya dia nungguin Mas, terus kecapekan karena Mas nggak dateng-dateng.”

Aku meringis, merasa bersalah. “Kalau begitu saya ke kamarnya langsung aja ya, Sus. Makasih,” kataku, kemudian buru-buru beranjak menuju kamar Diandra.

Di dalam kamarnya, gadis itu tampak sedang sibuk memainkan bunga di tangannya. Aku tersenyum. Itu pasti bunga yang dipetiknya dari taman, batinku. Kudekati dia dan kuelus lembut rambutnya seraya berucap, “Di, maaf, ya, aku telat. Tadi banyak kerjaan di kantor. Kamu nggak marah, kan, Sayang?”

Diandra menoleh, memandangku dengan mata coklatnya yang lebar. Dia tak bilang apa-apa, tapi aku tahu matanya tersenyum. Itu artinya, dia memaafkanku, seperti yang selalu dilakukannya.

Aku mendesah. Masa bodoh dengan teman-temanku yang bilang aku gila karena jatuh cinta pada Diandra, teman masa kecilku yang sudah tiga tahun ini menjadi penghuni tetap rumah sakit jiwa. Karena seperti halnya sikat gigi yang menjadi rumah bagi odolku, dialah rumahku, tempat di mana hati dan cintaku akan pulang, selalu…

Iklan
[#15HariNgeblogFF] Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s