[#15HariNgeblogFF] Merindukanmu Itu Seru!

Aku. Kangen. Banget. When will we meet again?

Aku nyengir sedikit saat membaca pesan singkat yang kutulis sendiri itu sebelum akhirnya menekan tombol send. Cheesy, aku tahu, tapi biar saja. Toh, setelahnya ada lega yang terasa. Ah, rupanya aku memang benar-benar merindukan dia…

***

Suatu siang, La Belle Cafe...

Tiga cangkir kopi di atas meja bundar. Yang dua sudah tinggal separuh meski yang satu nyaris belum tersentuh. Aku menatap lelaki yang duduk di hadapanku, yang kopinya hampir sama sucinya seperti perawan, dan berujar, “Masih nggak suka kopi, bro?”

Lelaki di hadapanku tergelak. “Gue nggak suka yang pahit-pahit, bro. Kalau yang manis, sih, nggak nolak,” katanya, melirik sekilas kepada wanita yang duduk di sampingnya.

Aku menyeringai. “Sialan. Begini, nih, jadinya kalau gue cabut sama pasutri. Harus selalu siap jadi kambing congek,” balasku, kemudian tertawa.

Wanita di samping Dimas—nama lelaki yang duduk di hadapanku—memutar matanya dengan tampang bosan. “Nasib lo kali yang jelek, Ji,” sahutnya acuh tak acuh.

Aku meringis, kemudian menyeruput lagi kopiku. “Lo tau nggak, Kei, kalo lo sama suami lo udah kayak kembar siam? Nggak ada bedanya?”

“Pernah denger yang namanya jodoh belom, Ji?” Si Dimas menyela, kemudian melanjutkan setelah aku mengangkat bahu sekilas, “nah, itu gue sama Keira. Forever and ever kayak di film-film cheesy yang lo demenin zaman kuliah dulu.”

“Anjir lo, Dim. Gue nonton begituan karena gue pengen lebih memahami cewek, ya,” tukasku tak terima.

Tapi Dimas hanya mengangkat bahunya sambil cengengesan. “Sori, gue ke toilet dulu. Nitip istri gue bentar, ya?” katanya kemudian. Dia lalu berdiri, mengelus kepala istrinya, membisikkan kata-kata yang terdengar seperti “keep loving me” ke telinga Keira, baru kemudian beranjak ke toilet di bagian belakang kafe.

Aku menggelengkan kepala melihat tingkahnya barusan. Sekarang siapa yang cheesy kalau begitu? batinku.

“Ji,” suara Keira langsung membuatku mengalihkan pandangan dari punggung Dimas yang menjauh.

“Apa?” tanyaku ingin tahu.

Keira menghela nafas sejenak kemudian menjawab, “Kamu kok sms kayak begituan, sih, tempo hari?”

Aku mengerutkan kening. “Sms ap—oh, yang itu ya? Maaf. Pantesan nggak dibales,” ujarku setelah paham maksud kata-katanya barusan.

Keira mendesah. “Kamu, kan, tahu kalau hari libur aku selalu bareng Dimas sama anak-anak. Bahaya banget, Ji.”

Aku memberengut, tapi kemudian nyengir lebar. “Iya, maaf. Darurat soalnya. Cuma butuh penyaluran aja kok sebenernya,” sahutku menenangkannya.

“Kamu itu dari dulu sama aja. Frontal dan nggak sabaran.” Keira mendesis jengkel.

Aku tergelak. Jemariku bergerak mendekati tangannya dan berhenti pada jari manisnya yang dilingkari cincin kawinnya. “Habis,” aku berbisik seraya mengelus pelan cincin berwarna keperakan itu dan memberinya kedipan singkat,”ternyata merindukan istri orang itu seru, sih.”

Keira membuka mulutnya, bersiap membalasku, tapi Dimas keburu menyentuh bahunya dan seketika itu juga dia terdiam—kehilangan kata-katanya.

Dimas tersenyum lebar kepada kami berdua. “Jadi, sampai di mana kita tadi?”

Iklan

4 pemikiran pada “[#15HariNgeblogFF] Merindukanmu Itu Seru!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s