[#15HariNgeblogFF] Sepucuk Surat (Bukan) Dariku.

Itu adalah hari di mana aku pertama kali melihatnya, lelaki jangkung berkacamata yang entah karena kebetulan atau bukan secara ajaib menginginkan CD terakhir John Mayer sama sepertiku dan ingin membelinya di toko kaset itu.

“Eh?” Aku terkesiap saat tangannya menyentuh tanganku yang akan mengambil CD John Mayer dari raknya.

Aku menoleh dan beradu pandang dengan sepasang mata yang disembunyikan oleh kacamata frameless persegi yang dikenakannya.

“CD terakhir, ya?” Dia menggumam, sepertinya lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.

Aku mengangguk ragu. “O. Kurasa,” balasku tak yakin.

Dia mengangguk. “Apa boleh buat? Ladies first. Buatmu saja,” katanya seraya mengangkat bahunya sekali.

Aku mengerjapkan mataku. “Serius? Wah, trims, kalau begitu,” ujarku senang.

Si kacamata tersenyum. “Bukan masalah. Ngomong-ngomong aku Dre. Kau?” katanya, kini sudah menjajari langkahku menuju kasir.

Aku menatapnya sebentar dan membalas senyumnya setelah memutuskan bahwa dia bukan termasuk dalam kategori penguntit atau pembunuh bayaran. “Jena,” jawabku.

Mulut Dre membulat. “Aku tahu ini akan kedengaran aneh bagimu, tapi bolehkah aku mengantarmu pulang? Tenang, aku akan mencoba untuk tidak sakit hati, kok, kalau kau menolakku.”

Refleks aku tertawa mendengar kata-katanya. Lelaki aneh yang menarik, pikirku. “Baiklah. Silakan, Dre.”

Dan dia tersenyum sangat lebar. “Trims.”

***

Entah ini juga kebetulan atau bukan, sejak hari itu selalu ada surat-surat datang padaku. Surat-surat itu, yang dimasukkan ke dalam kotak surat di halaman rumahku, bukan surat-surat biasa. Semuanya adalah surat cinta, ditulis dengan bahasa puitis stadium empat dalam huruf-huruf latin yang nyaris tidak bisa aku baca saking jeleknya. Ayahku selalu mengambilkannya untukku dan menggodaku saat aku membaca surat-surat itu dengan pandang bertanya-tanya. Pikiranku dengan polosnya menyebut nama Dre sebagai pengirimnya, tapi lelaki itu tak lagi datang sejak pertemuan pertama kami. Maksudku, dia bahkan sudah tahu di mana rumahku, kenapa harus repot-repot menulis surat cinta segala?

***

Akhirnya suratnya tidak datang. Ini adalah hari keduapuluhsatu sejak surat pertama dan aku tidak menemukan selembarpun ditinggalkan dalam kotak suratku. Aku mendesah, tiba-tiba sadar bahwa aku merindukan surat-surat itu dan pengirimnya, entah siapapun dia. Dan bagian paling menyedihkan dari semua ini adalah aku juga rindu pada godaan ayahku dan kerlingan jahilnya pada ibuku setiap kali pipiku bersemu karena surat-surat itu—tapi dia sedang sakit. Aku benci melihat ayahku sakit. Sungguh.

***

Sepuluh hari setelah hari itu ayahku meninggal dan sehari setelahnya Dre mengetuk pintu rumahku dengan segebung bunga mawar merah di tangannya, tampak sedih melihat tampangku yang kuyu.

“Hei,” sapanya pelan.

Aku tersenyum tipis. “Hei, Dre. Ada apa?”

Dre buru-buru menyerahkan buket bunganya padaku seraya membetulkan letak kacamatanya. “Sori. Tapi aku datang untuk memberikan ini,” katanya, kemudian mengulurkan sepucuk surat yang diambilnya dari sakunya.

Aku mengangkat alis. “Surat? Darimu?”

Dia menggeleng. “Bukan. Baca saja, dan kau akan tahu apa maksudnya.”

***

Putri kecilku sayang,

Ayah tahu kau selalu percaya pada takdir dan kebetulan, jadi sebelum pergi, ayah ingin menciptakan satu untukmu.

Ayah mengantarkan lelaki di hadapanmu sekarang padamu, Sayang. Dan surat-surat itu, sayangnya dia terlalu bodoh untuk bisa menulisnya, jadi ayah yang melakukannya Tapi, dialah penjagamu setelah ayah pergi. Semoga kau menyukai kisah yang ayah ciptakan untukmu.

Sayang selalu padamu,

Ayah.

p.s : i just simply fall in love with how daddies can always make surprise for their daughters 🙂

Iklan

10 pemikiran pada “[#15HariNgeblogFF] Sepucuk Surat (Bukan) Dariku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s