[#15HariNgeblogFF] Jadilah Milikku, Mau?

“Mi, bolehkah aku pinjam kamu seumur hidup?” tanyamu, memberiku tatapan aku-sedang-serius-jadi-kumohon-jangan-tertawa padaku.

Bodoh. Mana mungkin aku bisa tertawa di saat jantungku berdentam-dentam karena tanyamu? Aku menghela nafas, mencoba menetralkan sensasi roller coaster di dalam tubuhku sebelum memberi jawabku padamu.

Lalu…

“Boleh.” Aku menjawab, tersipu-sipu.

Kamu tersenyum, kemudian cepat meraih tanganku. “Terimakasih, Simmi,” ujarmu, “Tunggu aku, ya, sampai empat tahun lagi.”

Aku mengangkat alis. “Empat tahun lagi? Tunggu apa?” tanyaku ingin tahu.

“Tunggu aku melamar kamu. Di sini. Empat tahun lagi. Ya?” jawabmu, menggenggam tanganku lebih erat lagi.

Wajahku menghangat. Jantungku berdentam. Senyumku mengembang. Kujawab, “Iya. Pasti.”

***

Araya, sekarang sudah empat tahun. Janji itu…masih berlaku, kan?

***

“Akhirnya. Apa kamu tahu kenapa aku membawamu ke sini hari ini?” tanyamu, kemudian menarikku untuk duduk di bangku kayu favorit kita sejak empat tahun lalu.

Aku mengangguk bersemangat. “Sebenernya aku pengen pura-pura nggak tahu, tapi kamu ketebak banget, sih,” ledekku seraya menyenggol pelan bahumu.

Kamu meringis, kemudian menggaruk bagian belakang tengkukmu, tampak salah tingkah. “Iya, ya memangnya?”

Aku tertawa. “Jadi?” desakku tak sabar.

Kamu menarik nafas, kemudian menghembuskannya perlahan. “Simmi,” kamu memulai, kini sudah berlutut di hadapanku,” aku di sini untuk menepati janjiku sama kamu. Kita sudah melewati banyak hal bersama-sama selama empat tahun lebih. Kita sudah menangis, sudah tertawa, berbagi rahasia, dan menciptakan banyak kenangan berdua. Aku membutuhkan kamu seperti aku membutuhkan udara, Simmi. Jadi, untuk sekarang dan selamanya, jadilah milikku. Mau?”

Aku kehilangan kata-kataku. Tidak tahu harus bagaimana selain merasa bahagia. Aku mengusap mataku yang mulai berkaca kemudian memelukmu seerat yang aku bisa. “Araya, kamu sudah meminjamku seumur hidup, kan? Jadi, tentu saja aku mau jadi milikmu. Aku mau, Araya,” bisikku dari atas bahumu, merasa luar biasa sempurna.

Kamu balas memelukku. “Terimakasih, Simmi.”

***

Aku terbangun dari tidurku dengan perasaan kacau. Itu tadi…mimpi apa lagi? Kenapa rasanya begitu nyata? Aku menyentuh dadaku dan merasakan jantungku masih berdetak terlalu cepat. Kunyalakan lampu di samping ranjangku kemudian kuraih sebuah foto di dalam bingkai di samping lampu itu. Araya, aku membatin, ini sudah dua tahun sejak kepergianmu. Hari ini…apa kamu datang dalam mimpiku untuk menepati janjimu padaku?

***

Laki-laki itu memandang perempuan yang duduk di ranjang tak jauh darinya dengan senyum tipis terkembang di wajahnya. Iya, Simmi, dia berkata tanpa suara, aku datang untuk menepati janjiku padamu. Maaf dan terimakasih, Sayangku. Aku mencintaimu, Milikku, masih dan selalu.

BGM : There Was Nothing-OST 49 Days

Iklan

4 pemikiran pada “[#15HariNgeblogFF] Jadilah Milikku, Mau?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s