menunggumu itu…

menunggu itu…rasanya sama sekali tidak menyenangkan. seratus persen. absolut. fakta. percayalah padaku, menunggu adalah hal yang paling tidak aku sukai di dunia ini setelah durian dan jalanan becek. Kalau bisa diumpamakan, sih, menunggu itu serupa kombinasi antara rasa anehnya durian dan jeleknya jalanan becek yang menenggelamkan high-heels sepuluh sentimu. Totally disaster, rite?

menunggumu juga bukan pengecualian. 24 jam sehari, 7 hari seminggu, aku harus merasakan bagaimana parahnya berharap lalu dihempaskan ke tanah, lalu berharap dan dihempaskan lagi, begitu seterusnya. olehmu. yeah, you, the one and the only, mister ganteng yang bahkan hanya dengan melihat namanya saja jantungku bisa jungkir balik nggak karuan. oh, whatever, call me pathetic or what, tapi ini juga benar. dan aku benci sekali pada kebenaran yang satu ini.

oke. jadi begini ceritanya. aku sudah kehilangan jejakmu sejak—berapa lama ya, kira-kira—sebulan? atau dua? ah, sudahlah. pokoknya aku sudah nyaris gila menunggu pesan, telepon, chat, atau apa pun darimu sampai aku memutuskan untuk menyerah dan tidak akan mengingat-ngingat tentangmu lagi. sedikitpun.

tapi yah, sama seperti janji-janji palsu lain yang aku ucapkan pada diri sendiri, aku malah gagal sepenuhnya dalam melakukan hal itu—melupakanmu, maksudku, dan malah berakhir dengan memandangi ponselku seharian, berharap setengah mati bahwa namamu akan muncul di layar dan mengedip padaku seperti biasa.

dan sekali lagi, seperti semua harapan bodoh lain, harapan sesederhana itu pun hanya punya kemungkinan nol persen untuk jadi kenyataan. jadi, ketika sebulan berubah menjadi dua, tiga, dan seterusnya, aku memutuskan—untuk yang kesepuluh kalinya, mungkin—bahwa kau memang tidak akan pernah datang padaku lagi. selamanya.

well, setidaknya itulah yang berhasil aku katakan pada hati dan pikiranku sampai aku membuka pintu apartemenku pukul sembilan malam tadi, sama berantakkan dan menyedihkannya seperti malam-malam sebelumnya, tapi justru menemukanmu berdiri di sana, tetap ganteng dan semakin sempurna, tersenyum kepadaku seraya berkata, “Hai. Apa kabar? Kau baik-baik saja, kan?” oh, yang benar saja. seolah penderitaanku belum kelihatan saja.

dan bodohnya aku malah menjawab, “Yeah. Aku baik, tentu saja. Kau? Ayo masuk. Di luar dingin sekali, kan?” tentu saja. aku pasti sudah gila sekarang karena dengan melihatmu rasanya menunggu tidak semenyebalkan yang aku kira.

p.s : waiting is boring you know, so follow me back, okay, Handsome? 😉

Iklan
menunggumu itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s