[#15HariNgeblogFF] Dag Dig Dug

Aku mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jariku mungkin nyaris sejak setengah jam yang lalu. Reuni, temu kangen, atau apalah namanya itu, memang selalu membosankan. Bagiku, maksudnya. Karena kalau dilihat-lihat semua orang di sini tampaknya cukup menikmati acara konyol ini, yang secara keseluruhan berisi tentang membicarakan masa lalu lalu menertawakannya bersama seolah itu hal paling lucu dalam hidupmu. Jujur saja, kalau bukan karena itu, sih, aku tidak akan mau datang ke reuni SMAku ini. Sayangnya, aku sudah keburu memutuskan untuk pulang detik ini juga karena rupanya alasanku itu lebih memilih untuk tidak menunjukkan batang hidungnya di hadapanku.

Aku meraih gelas wineku dan menenggaknya sekali, berdiri, merapikan bajuku, dan sudah berjalan dua langkah ketika aku mendengar suara itu berbicara dari arah pintu masuk, “Hei. Bukankah acaranya baru saja dimulai? Kenapa sudah buru-buru pulang?”

Aku menelan ludah. Aku tahu, dia bicara padaku. Aku berbalik dan menemukan dia berdiri di sana. Luar biasa tampan. Laki-laki yang Sempurna. Tambahan lagi, laki-laki itu tersenyum ke arahku.

DAG DIG DUG…

Sial. Selalu begini efeknya kalau aku melihatnya tersenyum. Detak jantungku menggila dan rasanya aku kepengin mati saja. Ya, itu memang dia, satu-satunya alasanku datang ke acara reuni bodoh ini.

Damn, aku mengumpat dalam hati. Dia kini berjalan mendekat ke arahku, masih dengan senyum berefek menjengkelkan itu. Aku menelan ludah. Lagi.

“Sepertinya aku terlambat, ya?” Dia berbisik padaku, tapi matanya tertuju pada orang-orang di sekeliling kami yang tampaknya sama sekali tidak terganggu dengan keterlambatannya yang parah.

Aku mengangguk sekali. “He-eh.”

“Untung saja kau belum pulang, Jan,” dia berujar seraya merangkul bahuku dengan sebelah tangan, “kalau tidak aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku nanti. Sendirian… Kesepian…” Lalu dia tertawa. Dan nafasnya menyapu hidungku.

DAG DIG DUG…

Aduh, kalau saja dia mau lebih mendekat lagi padaku, aku rela kok kalau harus menghabiskan semalam suntuk di tempat membosankan ini. Well, manusia boleh saja berharap, kan?

Dan tiba-tiba saja dia sudah berdiri di hadapanku, mengamati wajahku, kemudian bibirku, dan pandangannya terpaku di sana. Lama.

DAG DIG DUG…

“Eh? Kenapa kau memandangiku seperti itu, sih?” Aku bertanya risih.

Dia menyeringai, kemudian mengulurkan tangan dan menyentuh lembut sudut bibirku. “Sori. Ada bekas wine di sini.”

DAG DIG DUG…

Untuk sesaat rasanya itu adalah detak jantung terakhirku. Aku menatapnya. Dia balik menatapku, masih menyeringai lebar. Duh, rasanya sudah kepengin kucium saja bibirnya yang selalu tersenyum itu.

Yah, seandainya aku…wanita.

Iklan
[#15HariNgeblogFF] Dag Dig Dug

7 pemikiran pada “[#15HariNgeblogFF] Dag Dig Dug

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s