[#15HariNgeblogFF] Halo, Siapa Namamu?

Ini sudah hari keempat sejak pertama kali aku melihatnya. Waktu itu hujan turun terlalu deras, hingga butuh waktu lebih dari lima menit untukku menyadari bahwa dia ada di sana, sendirian dan tampak kedinginan. Aku sudah akan mendekat kalau saja aku tidak melihat ibu-ibu bertampang galak keluar dari pintu dibelakangnya, mengumpat pada lumpur dan hujan yang mengotori tanaman hias di halamannya.

Hari ini juga sama. Aku tetap berjalan melewatinya sepulang sekolah tanpa berani mendekati si cantik—begitu aku menyebutnya. Meski dari jarak seperti ini aku tidak bisa bicara padanya, tapi setidaknya aku masih bisa melihat matanya yang berwarna coklat terang—seperti emas cair yang hangat. Aku tahu memandangi mata itu lama-lama hanya akan membuatku semakin tidak bisa melupakannya, tapi kepengecutanku entah kenapa tidak mau pudar juga. Dia masih ada di sana, di dalam hatiku, menahanku mendekati si cantik atas nama gengsi dan harga diri.

“Kenapa nggak nanya langsung aja sih, Rei?” Sahabatku, Dan, bertanya sewaktu aku memaksanya untuk pulang lewat jalan di mana si cantik selalu berada di tepinya.

Aku menggeleng. “Ogah gue ntar dikira orang gila,” kataku gengsi.

Dan berdecak. “Lebay lu. Tanya aja sama yang punya. Siapa tau langsung dikasih,” balasnya, masih mencoba membujukku.

“Enak aja lu main kasih-kasih. Lu kira dia barang?” Aku menukas, diam-diam mencuri pandang ke arah si cantik yang wajahnya kini tampak bosan.

“Udah, nggak usah kebanyakkan ngomong,” Dan mengibaskan sebelah tangannya, “Mending sekarang lu samperin ke rumahnya terus tanyain sama ibu-ibu yang lu liat tempo hari.”

“Tapi, Dan—”

“Sekarang.” Dia menyela, sukses membuat mulutku langsung menutup. Didorongnya aku menuju ke rumah itu dan dipaksanya aku memencet bel pintu gerbangnya.

Dari balik gerbang, aku bisa melihat si cantik sedang menatapku dengan pandangan bertanya-tanya, seolah aku ini orang asing yang menarik baginya. Aku tersenyum tipis, membiarkan diriku tenggelam lagi pada mata coklatnya, kemudian buru-buru mengalihkan pandangan saat ku dengar pintu kayu di belakangnya membuka, menampakkan sosok ibu-ibu bertampang galak yang aku lihat tempo hari.

“Mas ini siapa, ya? Ada perlu apa?” tanya ibu-ibu itu setelah membukakan pintu gerbangnya untukku.

“Anu—itu… Saya, eh—” Aku tergeragap. Di belakangku, Dan sibuk memukul-mukul punggungku sambil menertawai tingkah canggungku.

Ibu itu diam, menungguku. Aku mengumpat dalam hati, tapi kemudian memberanikan diri untuk menatap ibu-ibu itu karena rupanya dorongan untuk bicara pada si cantik semakin tidak bisa aku bendung lagi. “Itu, Bu—saya boleh kenalan sama si cantik enggak, ya?” tanyaku seraya menunjuk si cantik yang masih betah menatapku ingin tahu.

“Si cantik?” Ibu itu menoleh, mengikuti arah telunjukku, “Oh, si cantik. Iya, iya boleh. Silakan aja, Mas.”

Aku melonjak senang. Tanpa babibu lagi aku segera mendekat padanya dan mengusap kepalanya dengan sayang. “Halo, siapa namamu?” sapaku lembut. Dia menjawabku dengan semakin mendekatkan tubuhnya padaku. Aku kegirangan.

“Kalau mau, ambil aja, Mas.” Si ibu berkata dari belakang punggungku.

Aku menoleh terkejut. “Hah? Beneran, Bu?”

Si ibu mengangguk. “Iya, bener. Tapi dijaga yang bener, ya, Mas. Itu kucing mahal soalnya.”

“Oh, iya, Bu. Pasti,” jawabku mantap, memberi seringaian lebar pada Dan dan meneruskan membelai si cantik di pelukanku.

Iklan

9 pemikiran pada “[#15HariNgeblogFF] Halo, Siapa Namamu?

    1. waaaah ada bee-eonni *bolehgasihpanggilmaknaedengansebutaneonni?* hahaha sengaja eon. biar banyak yang ngiler, mimisan, atau mati terpesona #psikopatterselubung. makasih yah udah mampir :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s