It Won’t Stop

Judul : It Won’t Stop

Oleh : Yuridista a.k.a gue sendiri

p.s : salah satu cerpen lama gue yang pernah gue masukkin ke blog sebelah. cuma pengen share aja sih. this one is just my interpretation about romantism. haha. enjoy 🙂

***

Aku tersenyum. Getir, tapi lega. Dari tape recorder mobilku mengalun suara khas dari vokalis band One Republic, Ryan Tedder. Itu lagu Won’t Stop. Lagu favoritku selama hampir tiga tahun ini. Lagu favoritku sejak aku tahu aku menyukainya.

Now i stared at you, from accross the room…


Aku mengingat lagi detail pertemuan terakhirku dengannya, memutar balik ingatanku tepat ke dua jam yang lalu.

“Aku nggak bisa, Rio,” katanya, menatap mataku dengan pandangan setengah redup setengah tegas.

Aku mengangkat alis. “Kenapa?”

“I just can’t. It’s too complicated to be explained,” ujarnya, menggeleng-geleng dengan frustasi.

Aku meremas tangannya. “Okay. But we’re still friend, right?”

Prajna Paramitha, nama gadis yang sedang duduk di hadapanku ini, balas meremas tanganku dan tersenyum. “Tentu aja. Kita tetap teman. Althought we’re apart.”

“Well, mungkin aku emang lagi nggak beruntung,” ucapku sambil mengangkat bahu.

Until both my eyes were faded
I was in a rush
I was out of luck

Ryan Tedder masih asyik menyanyikan lirik lagu favoritku saat aku mengembalikan ingatanku ke masa sekarang. Aku tersenyum. Lagi. Mungkin aku memang sudah kehilangan dia. Tapi entah kenapa, i feel like it was just a kind of temporary moment. Aku merasa, aku masih harus memperjuangkan perasaanku. Aku merasa ini belum selesai.

Now I’m so glad that I waited
Well you were almost there
Almost mine…yeah
They say love ain’t fair
But I’m doing fine…

Ryan Tedder benar. Aku memang baik-baik saja. Kami baik-baik saja. Setidaknya untuk saat ini.

***

“Prajna Paramitha. Just call me Mitha,” katanya, mengulurkan tangan ke arahku.

Aku menjabatnya dan berujar, “Mario Adiwiguna. Panggil aja Rio.”

Mitha tersenyum. “Semoga kita bisa bekerjasama, ya?”

“Yeah, I hope so,” sahutku menyetujuinya.

Well, itulah awal pertemuanku dengan Mitha. Aku, yang berprofesi sebagai penulis, menjadi kontributor tetap untuk penerbit tempatnya bekerja. Mitha sendiri adalah seorang editor.

Bicara soal editor, Mitha mengaku kalau dia sebenarnya nggak suka mengkritik orang. Dia paling anti mengatakan pada para penulis yang menyerahkan naskah padanya kata-kata semacam “Ini masih kurang. Tolong perbaiki lagi, ya?” dan sebagainya. Dia nggak suka menolak orang. Aku termasuk salah satu di antara sedikit penulis yang jarang menerima kata-kata penolakan darinya. Katanya, aku ini freaky-writer. Tapi, karenanya aku juga jadi berbeda dengan penulis lainnya. Aku cuma bisa berdecak mendengarnya.

Mitha itu unik. Dia suka mendengarkan lagu-lagu lawas dalam negeri macam Burung Camar-nya Vina Pandu Winata atau Jatuh Cinta-nya Titiek Puspa. Dia juga jatuh cinta setengah mati pada mitologi Yunani. Kalau sudah bercerita tentang rasi bintang dan kumpulan dewa-dewi sempurna itu, Mitha bisa jadi menjengkelkan karena nyaris tidak bisa berhenti berkata-kata.

Entah sejak kapan aku menyukainya, lebih dari sekedar rekan kerja. Mungkin sejak kami sering ngopi bareng di Starbucks sambil mendiskusikan draft novelku. Mungkin sejak makan siang di warteg seberang kantor telah menjadi agenda rutin kami tiga kali seminggu. Mungkin sejak dia memasukkan namaku ke dalam daftar penulis buku favoritnya. Mungkin sejak aku menyadari bahwa Mitha memiliki mata berwarna coklat terang yang lembut. Mungkin sejak aku tahu kalau kami sama-sama menyukai hujan di bulan Desember. Mungkin bahkan sejak sebelum semua itu terjadi, hanya saja aku yang terlalu tidak peka hingga terlambat mengetahuinya.

***

Nggak ada yang berubah setelah pertemuan terkahirku dengan Mitha enam bulan yang lalu. Aku tetap sibuk menulis novel-novel roman membosankan yang alurnya seperti hanya punya dua pilihan : happy ending atau sad ending. Nothing special. Hidupku monoton seperti pada awalnya. Well, semua sama saja, kecuali satu. Ya, kecuali Mitha resign dari penerbitan tempatku dan dia bekerjasama selama hampir tiga tahun ini dan mendadak menghilang tanpa jejak. She has gone. Dan itu membuatku frustasi, karena aku jelas-jelas masih ingat kata-kata terakhir yang diucapkannya padaku enam bulan lalu dalam momen penolakan pertama yang aku terima darinya : “Tentu aja. Kita tetap teman. Although we are apart.” Dia bohong. Orang macam apa yang memperlakukan temannya seperti ini?

Tiba-tiba aku merasa perlu menuliskan ini semua. Otakku sudah overload gara-gara memikirkan dia. Detik itu juga, aku log in ke akun blogku yang sudah lama nggak aku sentuh. Lalu, aku mulai menulis tanpa berpikir :

terkadang, ada hal-hal yang ingin kamu sembunyikan sekaligus kamu beritahukan ke semua orang pada saat yang bersamaan.

terkadang, bahkan kamu sendiri merasa hal-hal itu berada di luar kendalimu, mengacaukan pikiranmu dengan cara-cara yang tidak kamu ketahui.

terkadang, hal-hal itu membuatmu begitu membenci dirimu sendiri, membuatmu mengutuk dirimu tentang betapa bodohnya kau karenanya.

terkadang, kamu lalu hanya bisa “membuang” hal-hal itu lewat kata-kata, seperti yang aku lakukan sekarang :

untukmu, yang telah menjadi ‘that thing’ untukku …

ini adalah tentang suatu sore yang menyenangkan di padang dandellion dekat rumahmu.

kau bicara, dan aku diam saja. mendengarkanmu.

kau bercerita tentang jutaan mimpi yang ada di dalam kepalamu, dan aku diam saja. mencoba memahamimu.

kau mencoba membuatku mengerti ada apa di balik duniamu, dan aku diam saja. mencerna tiap detail petunjukmu.

kau bertanya padaku tentang impianku, dan aku menjawab malu-malu tentang istri yang cantik dan sepasang anak yang lucu, seperti gambaran sempurna di buku-buku.

lalu kau menertawakanku, dengan tawa yang anehnya makin membuatku tersipu.

dan kau pun mulai mendongeng untukku, mendongeng tentang cerita yang aku mau.

tentang suami, istri, dan anak-anak yang bahkan namanya pun aku tak tahu.

tapi kau lalu mengatakan hal-hal ini itu. hal-hal yang asing dan ambigu. terlebih untukku, seseorang yang bak baru lima detik lalu mengenalmu.

kau mulai mengabur, jauh bersama potongan-potongan ceritamu.

meninggalkanku di sini, masih dengan sekotak tanya tentangmu.

jadi ini adalah tentang suatu sore yang menyenangkan di padang dandellion dekat rumahmu,

ketika ribuan dandellion perunggu membawaku kembali padamu, pada ingatan di mana kau adalah segala tentang duniaku.

Aku mendesah. Lega. Sebelum log out aku sempatkan menambahkan catatan kecil di bawah postinganku :

p.s : untukmu, yang mempengaruhiku begitu hebat hingga “ini” tak mau berhenti-representasi lagu Won’t Stop (One Republic).

You take this hand
You take this heart
Steal my bones
From 1000 miles apart
Feels so cold
Felt just like its ten shades of winter
And i need the sun

So, where are you my sun?

p.s.s : Ryan Tedder itu dewa, kan?

***

Seminggu kemudian …

Hari itu hari Minggu dan entah kenapa rasanya waktu berjalan terlalu lambat, dan bukannya ngebut seperti biasa. Aku bangun terlambat dan membuat sarapan seadanya : nasi campur dan teh manis hangat. Iseng, aku menghidupkan laptopku dan log in ke akun blog ku. Dan tepat di situlah aku menemukannya. Menemukan nama seseorang yang lenyap bersama kata-kata kita-tetap-teman-although-we-are apart yang terakhir diucapkannya.

Aku mengerang. Dan nyaris tersedak teh manis yang kuseruput saat membaca komentarnya di bawah postingan tulisanku yang ku buat minggu lalu.

1 comment :

PrajnaParamitha#15-12-2009#08.05

Your sun is here, come back from her complicated-messy-unstructured life.

Yeah, Ryan Tedder memang dewa kok 🙂

Ngomong2, sepertinya perlu ada pembicaraan lebih lanjut mengenai tulisan ini. Bagaimana dengan Starbucks pukul lima sore?

Just call my number if you say yes.

Sorry, Rio. Aku seharusnya mengakuinya sejak dulu 🙂

Suara Ryan Tedder mulai mengalun lagi di telingaku.

Cause i swear it’s you
I swear it’s you
I swear it’s you that I’ve waited for
I swear it’s you
I swear it’s you
I swear it’s you that my heart beats for
And it isn’t gonna stop
No it just won’t stop

Nasi campur setengah jadiku mendadak jadi sarapan paling enak seumur hidupku. Teh manis hangatku tiba-tiba jadi lebih nikmat menyesap di lidahku. Aku tersenyum. Kali ini karena bahagia. Aku suka ending ceritaku. Aku suka karena jantungku tidak mau berhenti berdetak untuknya. Aku suka karena aku setia untuk menunggu. Menunggunya, cinta sejatiku 🙂

 

DING!

Iklan
It Won’t Stop

2 pemikiran pada “It Won’t Stop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s