seandainya… mungkin…

mungkin…

segalanya akan jadi lebih mudah kalau aku bukan seorang sanguinis. dan aku laki-laki.

otakku tidak akan macet begini, menggumpal gara-gara pertanyaan bodoh yang tidak ada jawabannya : bagaimana bisa seseorang memperlakukan orang yang dicintainya sama seperti dia memperlakukan orang yang dibencinya?

satu kata : konyol. oh, dan kalau aku boleh menambahkan satu kata lagi, itu juga menggelikan.

kalau aku bukan sanguinis, aku mungkin tidak perlu repot-repot menimang-menimang harga diriku dan mengayunkannya sampai jauh ke langit sana hanya untuk bersmbunyi dari perasaanku sendiri. kalau aku bukan sanguinis dan aku jatuh cinta, aku pasti sudah bisa mencintai dengan bersahaja, sama sederhananya dengan bagaimana satu ditambah satu pada akhirnya selalu berakhir dengan gambar sebuah jendela.

kalau aku bukan sanguinis, aku mungkin tidak akan jadi segila ini. aku tidak akan sibuk berusaha membuat dunia tahu bahwa aku baik-baik saja dan seratus persen bahagia. aku tidak akan berlagak ahli dalam hal psikologi terbalik. aku tidak akan mencegah diriku sendiri untuk berlari padamu, menuruti segala dorongan sinting yang tidak masuk akal di dalam kepala dan hatiku.

dan kalau aku laki-laki, mungkin, aku tidak akan sepengecut ini untuk bilang padamu bahwa aku mencintaimu. yah, segampang dan sesempurna itu.

seandainya aku bukan seorang sanguinis dan aku laki-laki, segalanya mungkin akan jadi jauh, jauh lebih mudah, kan?

 

DING!

Iklan
seandainya… mungkin…

2 pemikiran pada “seandainya… mungkin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s