antara kau dan kereta-kereta itu.

ada banyak sekali kereta yang terlewat sore ini. aku bukannya sedang menunggu salah satu di antaranya atau apa, tapi setiap hal tentang kereta rasanya selalu romantis dan aku menyukainya.

well, aku bukannya melupakan fakta bahwa kereta di sini nyaris sama berisiknya dengan ruang kelas taman kanak-kanak di kotaku dan sama berantakkannya dengan keadaan kamarku ketika musim ujian tiba, tapi tetap saja–ada yang berbeda dari keberadaannya.

aku memandangi kereta-kereta itu lewat dan biasanya di dalam kepalaku selalu sudah dimulai dengan berlompatannya ribuan kata-kata acak atau gambaran sebuah adegan yang tidak jauh-jauh dari hal-hal berbau cheesy dan melankolis.

ini namanya apa, ya, kalau begitu? jujur saja, terlepas dari image romantis yang menancap di kepalaku, aku tidak punya sebuah “perasaan khusus” yang lain tentang kereta. yang aku tahu cuma satu, kereta itu, segala detail di dalamnya, dan jejak-jejak romantis di sekujur tubuhnya, adalah salah satu dari sekian banyak hal yang menjadi jembatan di antara aku dan kau.

mungkin kau tidak tahu tentang semua ini, tapi menghilangkan mil-mil jarak yang ada di antara kita dengan kereta adalah hal paling romantis yang pernah aku lakukan seumur hidupku. berlebihan? memang. toh, kali ini aku memang sedang ingin menulis tentang konsep kereta dan segala macam keromantisannya itu. maksudku, kapan lagi aku bisa membuatmu diam-diam membaca tulisanku dan merasa kalau ini ditujukan untukmu tanpa harus mengatakannya padamu? iya, kan? šŸ˜‰

tapi, yah, kadang-kadang hal romantispun bisa terlihat sangat bodoh juga. dan dalam keadaanku yang sekarang, ketika aku sedang merasa benci setengah mati dan sepenuh hati padamu, melihat kereta yang terlewat di depan mataku rasanya jadi sejuta kali lebih menyebalkan dari apapun juga. ini serius, lho. dan terserah kalau kau dan mereka memilih untuk tidak percaya.

jadi sekarang aku tidak tahu harus memikirkan apalagi saat melihat kereta terakhir hari ini lewat di depan mataku. aku hanya memandangnya, memandang gerbong-gerbongnya yang menyala terang, memandang penumpang-penumpangnya yang berwajah bosan dan mengantuk, dan memandang sisa cahayanya saat beranjak menjauh dari hadapanku. aku memandangnya, dan tiba-tiba saja pemikiran itu menyentakku, meninjuku dari bawah perut dan berhenti mendadak tepat rusukku. pemikiran itu memberitahuku bahwa, sama seperti kereta yang selalu pulang ke “peraduannya” dan berhenti di sana, perasaanku padamu pada akhirnya akan mencapai tempat terakhirnya, ujungnya, dan berhenti di sana, selamanya . . .

 

DING!

Iklan
antara kau dan kereta-kereta itu.

2 pemikiran pada “antara kau dan kereta-kereta itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s